Gosip Mbah Maridjan
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Mbah Maridjan namanya. Ia tinggal di lereng gunung Merapi, sebuah gunung paling disakralkan masyarakat Jawa. Di gunung ini dipercaya hidup komunitas masyarakat lelembut (makhluk halus), yang selalu perduli dan bersinggungan dengan dunia manusia. Merapi diperintah ‘Sinuwun Sapujagat’, juga sudah dibangun ‘plasa besar’ yang bernama Pasar Setan.Mbah Maridjan, -akhir-akhir ini- selain sebagai bintang iklan, profesi resminya adalah juru kunci gunung mistis itu. Laki-laki ini dianggap sidik paningale (tahu sebelum sesuatu terjadi), punya kekerabatan dengan makhluk gaib yang ada di gunung ini, juga sebagai pembuka jalan bagi siapa saja yang ‘berkepentingan’ dengan gunung Merapi.Pekan kemarin, ketika warga Klaten ribut soal lava gunung Merapi yang kembali bergolak, penulis mengunjungi ‘sedulur sepuh’ ini di rumahnya. Penampilan dan pola hidup lelaki ini ternyata belum berubah. Pribadinya tetap sumanak, dan dari mulutnya terus mengalir guyonan segar.Padahal namanya kian menjulang berkat ulah Merapi dan keberaniannya menghadapi ulah itu. Serta tak dipungkiri, gara-gara iklan yang menjadikan sosoknya sebagai ikon produk minuman energi dengan teriakannya : “Roso … roso.” (Kuat dan berenergi).Ia selalu merendah, termasuk jika dipancing bicara tentang dunia antahberantah. Dengan keluguan itu, laki-laki ini berusaha menjaga rasionalitas. Ia sebisa mungkin berusaha menghindarkan diri pada pengkultusan dirinya yang semakin marak. Dan terus berkelit manakala ada yang tanya soal musibah dan bencana, serta mengajaknya bicara tentang ilmu sakti yang diyakini banyak orang dipunyai. Jika sudah terjebak pembicaraan macam begitu, maka dengan tangkas ia cepat menukas : “Kulo mboten nggadah kasekten.” (Saya tidak punya kesaktian).Memang Sang Mbah selalu mengatakan tidak memiliki kelebihan apa-apa. Ia adalah manusia biasa yang hidup di desa, dan kebetulan sebagai juru kunci yang harus tinggal di lereng gunung Merapi. Sebagai apologinya, di bulan puasa ini ia menyatakan semakin khusyuk beribadah dan berpuasa, sebagai ekspresi bahwa dia masih masuk kategori sebagai makhluk lemah.Dan kelemahan kedua, ia sendiko dawuh terhadap segala perintah Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sebab, raja Yogya itu secara struktural dan kultural adalah atasannya.”Kulo nurut nopo dawuhe sinuwun.” (Saya menurut apa kata Sinuwun Sultan Yogya).Itu kepolosan yang terucap dalam kalimat panjang Mbah Maridjan. Ia tahu struktur dan etika. Sadar maqomnya sebagai makhluk ciptaan Allah, serta sebagai abdi dalem dari Kasultanan Yogya. Tak berlebihan, ketika Mbah Nono, juru kunci Parangtritis yang menemani kami memaksanya untuk ikut ke Yogya, dengan sengit ia menolak. “Aku ora pareng karo Sinuwun ning ngendi-endi.” (Aku tidak boleh kemana-mana oleh Sultan Hamengku Buwono X). “Saiki kuwi akeh gosip,” tambahnya.Boleh Mbah Maridjan bilang ‘tidak sakti’ dan maqomnya sebagai makhluk lemah karena hanya sebagai abdi dalem kraton Yogya, tapi realitas yang ada sekarang tidaklah begitu. Dalam pandangan banyak orang, Mbah Maridjan tetap menempati posisi mistis dan sakral. Berbagai pihak datang dan berkunjung untuk kepentingan itu. Malah sejak menjadi bintang iklan, profesinya bertambah lagi, yaitu sebagai selebriti.Kesan itu tak bisa dipungkiri. Saat datang ke rumahnya, puluhan orang mengunjunginya dengan berbagai keperluan. Ada rombongan dari keluarga mahasiswa Kalimantan yang kuliah di Yogya ingin bersalaman sambil berphoto bersama. Ada banyak pejabat penting yang ingin mengajak sholat dengan Mbah Maridjan sambil memberi bantuan masjid yang belum rampung dibangunnya. Juga terdapat serombongan spiritualis dari Padepokan Gunung Lawu yang bertandang ke tokoh fenomenal ini.Mbah Maridjan mungkin sakti atau mungkin juga tidak sakti. Tapi jika datang ke gunung Merapi dan melihat bekas lava gunung Merapi yang sempat meminta tumbal dua orang itu, maka tampak jelas, bahwa lava itu seperti ‘menghindari’ rumah yang dihuni Mbah Maridjan. Lava itu terbelah persis di atas rumah laki-laki sepuh ini. Lava itu mengalir ke kiri dan ke kanan, dan memanggang dua pemuda yang bersembunyi di bunker yang dibuatkan pemerintah.Jadi jangan kaget, ketika pijaran lava Merapi yang meleleh terlihat dari wilayah Klaten, banyak orang kembali datang dan bertanya pada Mbah Maridjan tentang kemungkinan murka dan tidaknya gunung ini. “Tidak ada apa-apa, Merapi masih aman,” katanya. Adakah Mbah Maridjan memang sakti?Manusia sakti adalah manusia yang tidak punya apa-apa, dan tidak bisa apa-apa, tetapi selalu diselamatkan oleh Allah. Itu karomah. Begitu definisi kesaktian dalam khasanah sufi.Keterangan Penulis:Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.
(Djoko Su\'ud Sukahar/)











































