Gaji Polisi Upah Wartawan
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - April 2006 lalu, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Jakarta memulai kampanye standar upah layak minimum untuk wartawan di Jakarta. Berdasarkan survey terhadap puluhan wartawan berbagai media di Jakarta, AJI Jakarta mematok upah minimal wartawan Rp 3.16 juta per bulan. Ini belum termasuk asuransi kecelakaan dan kesehatan, serta jaminan pensiun.Saat peluncuran kampanye standar upah layak minimum untuk wartawan Jakarta itu, saya dan beberapa kawan wartawan didaulat untuk memberi tanggapan. Namanya juga sesama wartawan, saat memberikan tanggapan, celetukan pun bermunculan. Karena itu, tanggapan saya pun singkat saja.“Saatnya AJI Jakarta melakukan cek ke lapangan untuk menanyakan upah minimum wartawan. Dari situ kita akan tahu, apakah upah yang diterima wartawan sudah sesuai dengan standar upah minimum AJI Jakarta, atau belum. Umumkan saja hasilnya secara terbuka, sehingga kita tahu perusahaan media mana yang paling bagus, dan mana yang paling buruk dalam memberikan upah kepada wartawannya.”Mungkin karena saya wakil pemimpin redaksi detikcom, sebuah media membuat judul berita detikcom Menantang Media untuk Buka-bukaan Gaji Wartawan, atas tanggapan saya tadi. Judul yang sangat provokatif menyebabkan HP saya banjir SMS. Mulai dari pertanyaan emang gaji wartawan detikcom berapa, sampai wah AJI ini kerjaannya bikin masalah saja.Demikianlah, ada SMS yang cukup dijawab he he saja, ada juga yang harus dijawab lewat kata-kata langsung dari mulut, karena kalau dijelaskan via SMS bisa bikin kriting jari tangan. Apalagi ada SMS yang datang dari kalangan yang lebih senior, sehingga harus dijawab lebih cool agar tak timbulkan salah paham.Yang menarik adalah SMS dari seorang kawan perwira menengah polisi yang berkantor di Mabes Polri. Wah gede juga gaji wartawan ya. Padahal kerjaannya gak sulit-sulit amat ha ha. Lalu saya jawab, Itu baru tuntutan Ndan. Yang senyatanya, masih jauhhhhh... Kata dia, Oh, kalo gitu sama dong... .Belakangan saya tahu, ternyata tuntutan kenaikan gaji polisi jauh lebih tinggi dari yang diminta wartawan. Jika AJI jakarta mematok angka Rp 3.16 juta upah minimal wartawan Jakarta, Mabes Polri ingin agar anggotanya digaji Rp 8,30 juta. Ketika membaca di media untuk pertama kalinya, saya mengira angka itu tak akurat, atau setidaknya akan diklarifikasi lagi oleh Mabes Polri. Ternyata tidak. Kata pejabat Mabes, gaji yang cukup untuk agar bekerja baik, tidak korupsi tidak kolusi, ternyata ya sebesar Rp 8,30 juta. Ini gaji polisi tahun pertama, anggaplah stadar gaji terendah. Oleh karena itu saya segera meng-SMS kawan saya yang di Mabes Polri. Selamat Ndan, gajinya jadi Rp 8,30 juta. Bagi2 dong... . Eh, rupanya dia cepat menjawab, Itu baru tuntutan boz agar kita tak terus-terusan 86. Ya. Tapi tuntutannya lebih gede dari wartawan. Hebat juga neh polisi brani minta gaji tinggi he he... kata saya.Ya, itulah bedanya polisi dengan wartawan. Kami mikirin anak istri, kalo wartawan mikirin diri sendiri doang ha ha , jawab pak polisi. Setelah itu, kami pun ber-SMS-ria soal istri dan anak-anak kami yang berbeda profesi, tapi satu nasib: gaji rendah. Tapi saya tetap penasaran dengan kata-katanya, wartawan hanya mikirin diri sendiri.Saya pun menghubungai Jajang Jamaludin, Ketua AJI Jakarta. “Iya Mas, Rp 3,16 juta itu upah minimal untuk memenuhi kebutuhan hidup seorang wartawan. Ya, kalau untuk anak istri kan tinggal mengalikan saja kan,” jawabnya. Rupanya, dalam soal menuntut gaji, polisi jauh lebih cerdas ketimbang wartawan.Keterangan Penulis:Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(/)











































