Guru Penggerak, Pemimpin Pembelajaran, Pemimpin Perubahan

ADVERTISEMENT

Kolom

Guru Penggerak, Pemimpin Pembelajaran, Pemimpin Perubahan

Yudha Priyono - detikNews
Selasa, 24 Jan 2023 11:08 WIB
Guru Penggerak angkatan pertama
Ilustrasi: dok. kemdikbud.go.id
Jakarta -

Setelah melalui seleksi tahap 1 dan 2 akhirnya saya lolos untuk mengikuti pendidikan calon guru penggerak (CGP) angkatan 6. Program ini dicanangkan oleh Kemendikbudristek untuk meningkatkan kualitas pendidikan Tanah Air. Awal mendaftar, saya hanya berpikir untuk mencari sertifikat pelatihan saja, namun ilmu yang didapat dalam pelatihan itu sangat berguna diterapkan dalam pembelajaran sesuai tugas pokok dan fungsi saya sebagai seorang guru.

Selain itu banyak sekali ilmu baru yang saya dapatkan. Pelatihan tersebut tidak hanya memberikan materi yang berhubungan dengan siswa, tetapi juga bagaimana menjadi menjadi seorang pemimpin sekolah. Hal tersebut sesuai dengan kebijakan Kementerian Pendidikan bahwa seleksi kepala sekolah berasal dari jalur guru penggerak.

Meskipun pelatihan saya masih berjalan, saya sudah merasakan kemantapan menjadi seorang pendidik dan pengajar. Dasar dasar filosofi pendidikan buah pikiran Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang berpihak pada murid memperkuat fondasi filosofi dalam mengajar dan mendidik. Saya seperti menemukan pembenar dari seorang ahli pendidikan dari kegiatan yang selama ini telah saya lakukan, namun belum begitu memahami bahwa hal tersebut ada teori dan filosofinya.

Pada awal pelatihan, saya dipahamkan kembali dengan konsep pembelajaran yang berpihak pada siswa. Guru bertugas untuk menuntun siswa supaya berkembang kearah yang seharusnya sesuai dengan keilmuan dan norma norma yang luhur. Oleh karena itu konsep menuntun tidak diartikan membebaskan siswa untuk bertindak dengan sesuka hatinya, tetapi memastikan dan membimbing siswa ke arah kesuksesan dan keluhuran budi.

Guru menuntun siswa sesuai dengan kodrat alam dan zaman. Dalam kodrat alam, materi pembelajaran disesuaikan dengan letak geografis siswa tinggal. Siswa yang tinggal di pantai materi pembelajaran akan berbeda dengan yang tinggal di pegunungan, pedesaan atau perkotaan. Dalam kodrat zaman, isi materi pembelajaran disesuaikan dengan era saat ini yang sudah 4.0. Era dimana kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, kreatif dan komunikasi sangat dikedepankan.

Dalam pelatihan ini, saya memahami makna disiplin dalam kurikulum merdeka. Sebelumnya saya berpikir bahwa disiplin adalah melaksanakan aturan yang telah ditetapkan. Dalam pendidikan, berarti kita mengatur siswa untuk melakukan tindakan sesuai yang ditetapkan. Namun bukan makna disiplin tersebut yang dimaksud. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin positif. Sikap disiplin yang datang dari dalam siswa, bukan atas paksaan.

Disiplin dalam diri inilah yang merupakan esensi dalam merdeka belajar. Siswa merdeka dalam berdisiplin atas kesadaran diri sendiri, tidak tertekan dengan aturan, namun memahami pentingnya aturan bagi mereka. Namun, tidak semua siswa dapat mudah menyadari aturan untuk kebaikan mereka. Siswa belum bisa disiplin dengan sadar diri. Oleh karena itu, perlu bantuan atau pengaruh dari pihak luar untuk menuntun mereka supaya di jalur yang benar. Sehingga menuntun sekali lagi tidak berarti membebaskan siswa sekendak hati, tetapi membimbing siswa supaya ke jalur yang benar.

Amunisi dalam menuntun siswa semakin lengkap dengan adanya materi lima posisi kontrol guru dan restitusi. Materi materi tersebut memberi kemantapan guru dalam memberi pembinaan ke siswa karena dapat memilih posisi kontrol yang sesuai. Pembinaan siswa diharapkan berakhir pada restitusi, di mana siswa secara sadar diri, mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi dengan bimbingan guru.

Dalam pembelajaran yang berpihak pada murid, keberagaman belajar siswa diperhatikan dan diakomodasi. Kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa dimungkinkan beragam sehingga tidak tidak selayaknya pembelajaran disamaratakan. Oleh karena itu dalam pelatihan calon guru penggerak juga diajarkan tentang pembelajaran diferensiasi, pembelajaran yang mengakomodir keberagaman belajar siswa.

Kemampuan mental siswa juga diperhatikan dalam pelatihan ini dengan adanya pembelajaran kompetensi sosial emosional. Saya menjadi lebih paham bahwa ada strategi pembelajaran tersendiri dalam membentuk karakter siswa yang meliputi kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, kemampuan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Selama ini penilaian sikap siswa yang saya lakukan berdasar sikap asli siswa dan tidak dinilai dengan rubrik yang terperinci. Sehingga adanya materi pelatihan tersebut memberi cakrawala baru kepada saya dalam membentuk karakter siswa.

Materi hebat yang juga saya dapat dalam pelatihan ini adalah tentang coaching. Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, di mana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Dalam pelaksanaannya coaching dapat dilakukan antar sesama guru dan siswa. Hal yang menarik dalam coaching adalah bagaimana seorang coach dapat menggiring coachee untuk menemukan solusi sendiri dengan melontarkan pertanyaan pertanyaan.

Materi coaching yang diberikan dalam pelatihan sangat lengkap. Mulai dari teori sampai contoh contoh praktik dalam video video. Saat pembelajaran online tentang coaching, peserta diminta untuk melakukan praktik coaching kemudian diberi masukan masukan baik dari instruktur dan peserta. Pemahaman semakin lengkap dengan adanya tugas praktik video coaching yang nantinya diunggah pada learning management system.

Hal lain yang menarik dalam pelatihan CGP ini adalah adanya lokakarya. Kegiatan tersebut adalah pertemuan ilmiah calon guru penggerak dengan dipandu oleh pengajar praktik untuk membahas, berdiskusi, berbagai pengalaman tentang praktik baik pembelajaran yang telah dilakukan dan materi yang telah dipelajari.
Diskusi dalam lokakarya sangat menarik karena berasal dari pengalaman CGP yang mengajar di berbagai jenjang, mulai dari TK sampai SMA/K. Diskusi tersebut membuka cakrawala pemahaman yang lebih luas bagaimana suatu materi dapat diterapkan pada jenjang pendidikan yang berbeda beda.

Materi materi dan kegiatan di atas saya rasakan sangat berguna ketika menjadi pemimpin pembelajaran. Pemimpin pembelajaran di kelas dan pembimbing bagi guru-guru yang lain. Selain materi pembelajaran, dalam pelatihan juga diberikan materi kepemimpinan sekolah sebagai persiapan para CGP ketika menjadi kepala sekolah.

Terkadang terselip rasa ragu di dalam hati apakah mampu memimpin sekolah negeri apalagi sekolah besar dengan banyak guru guru senior. Namun motivasi dari Menteri Nadiem Makarim menjadi semangat untuk membaktikan kemampuan diri demi kemajuan pendidikan bangsa. Menteri Nadiem menegaskan untuk tidak takut menjadi pemimpin di waktu muda dan untuk berani mengambil keputusan untuk suatu perubahan. Jika gagal dalam satu keputusan, dapat dicoba lagi.

Yudha Priyono, S.Pd guru SMKN 1 Warungasem Batang, CGP Angkatan 6

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT