Diplomasi Energi Rusia di Tengah Embargo Uni Eropa

ADVERTISEMENT

Kolom

Diplomasi Energi Rusia di Tengah Embargo Uni Eropa

Siti Zulhaiziah Azalea Zahfira - detikNews
Jumat, 20 Jan 2023 15:30 WIB
Russian President Vladimir Putin attends a meeting with Chinese President Xi Jinping in Beijing, China February 4, 2022. Sputnik/Aleksey Druzhinin/Kremlin via REUTERS
Presiden Rusia dan Presiden China (Foto: Sputnik/Aleksey Druzhinin/Kremlin via REUTERS)
Jakarta -

Rusia merupakan pemain utama dalam pasar energi global dan merupakan salah satu dari tiga produsen minyak mentah terbesar serta penghasil gas alam terbesar kedua di dunia (IEA, 2022). Konsumen utama energi Rusia adalah China dan negara-negara Eropa, termasuk negara-negara anggota Uni Eropa (UE). Besarnya kepentingan Rusia terhadap penjualan energinya serta kebutuhan UE terhadap energi Rusia membuat kedua belah pihak memiliki ketergantungan ekonomi satu sama lain.

Namun, besarnya ketergantungan antara Rusia dan EU tidak membuat keduanya terhindar dari konflik. Dinamika hubungan kedua pihak dalam sejarahnya mengalami peningkatan dan penurunan. Hubungan keduanya kembali mengalami eskalasi ketegangan pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer ke Ukraina. Untuk menekan Rusia agar segera menghentikan aktivitas militernya di Ukraina, EU bersama AS mengeluarkan berbagai kebijakan, salah satunya mengumumkan penghentian pembelian minyak dan gas dari Rusia (Hood dan Tawhare, 2022).

Sanksi berupa embargo dari UE dan Barat terhadap energi Rusia tentu akan mempengaruhi pendapatan ekspor Rusia. Jika sanksi Barat berhasil, maka akan menyebabkan ekonomi Rusia menderita dan menurunkan laju perekonomian. Menanggapi sanksi tersebut Rusia melakukan berbagai strategi baru untuk mengamankan posisinya dalam pasar energi global. Bagaimana Rusia menemukan sumber pasar baru untuk menggantikan pasar energinya yang hilang akibat sanksi EU dan Barat? Bagaimana efektivitas strategi tersebut sejauh ini?

Posisi Rusia di Pasar Energi Global

Sebagai penghasil dan pengekspor utama minyak dan gas alam, Rusia memiliki peran penting dalam pasar energi global. Rusia merupakan merupakan salah satu dari tiga produsen minyak mentah terbesar dunia dan penghasil gas alam terbesar kedua setelah Amerika Serikat (AS), dan memiliki cadangan gas terbesar di dunia.

Pada 2021 Rusia memproduksi 762 bcm gas alam, dan mengekspor sekitar 210 bcm melalui pipa (IEA, 2022). Tingginya ekspor energi membuat perekonomian Rusia sangat bergantung pada ekspor komoditas dengan pendapatan dari penjualan minyak mentah, produk minyak bumi, dan gas alam. Pada 2021 penjualan energi berkontribusi sekitar 45% dari anggaran federal Rusia (IEA, 2022).

Dinamika Politik Internasional

Pada 24 Februari 2022, Rusia melancarkan invasi di Ukraina. Serangan Rusia ke Ukraina, dalam pidato Presiden Rusia Vladimir Putin dilandaskan pada pandangannya yang mengklaim bahwa Ukraina diperintah oleh neo-Nazi yang menyiksa orang Rusia di Ukraina. Serangan tersebut mendapat banyak kecaman komunitas internasional.

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan resolusi yang mengkritik invasi dan menuntut penarikan penuh pasukan Rusia. Mahkamah Internasional memerintahkan Rusia untuk menghentikan operasi-operasi militer dan Majelis Eropa mengeluarkan Rusia. Banyak negara menetapkan sanksi terhadap Rusia yang pada akhirnya mempengaruhi ekonomi Rusia dan dunia.

Sejak terjadinya invasi Rusia ke Ukraina, dapat dikatakan bahwa membeli produk ekspor energi Rusia artinya ekonomi Barat secara efektif sama dengan membiayai perang Rusia. Sehingga ada seruan untuk segera mengembargo energi Rusia. Pada 8 Maret 2022, Presiden AS Joe Biden menandatangani Perintah Eksekutif (EO) untuk melarang impor minyak Rusia, gas alam cair, dan batu bara ke AS (White House, 2022).

Langkah AS juga didukung oleh negara-negara anggota EU, meskipun ada penyesuaian yang sulit akibat ketergantungan Eropa terhadap energi Rusia. UE telah memberlakukan serangkaian sanksi baru terhadap Rusia sebagai tanggapan atas serangan militer terhadap Ukraina. Sanksi yang dikeluarkan EU mencakup berbagai aspek mulai dari keuangan, teknologi, dual-use goods, industri, transportasi, barang-barang mewah, termasuk juga sanksi energi (European Council, 2022).

Dalam hal energi, pada Juni 2022, Dewan Eropa mengadopsi paket sanksi keenam yang di antaranya melarang pembelian, impor, atau transfer minyak mentah dan produk minyak tertentu dari Rusia ke UE. Pembatasan akan berlaku mulai 5 Desember 2022 untuk minyak mentah dan mulai 5 Februari 2023 untuk produk minyak sulingan lainnya (European Council, 2022). Sebagian besar minyak Rusia yang dikirim ke UE melalui laut; pembatasan ini akan mencakup hampir 90% impor minyak Rusia ke Eropa pada akhir 2022. Menurut EU ini akan mengurangi keuntungan perdagangan Rusia secara signifikan.

Kemudian, pada 6 Oktober 2022, Dewan Eropa menyetujui keputusan yang melarang pengangkutan laut minyak mentah Rusia (per 5 Desember 2022) dan produk minyak bumi (per 5 Februari 2023) ke negara ketiga. Juga, larangan terhadap penyediaan bantuan teknis, layanan perantara, atau pembiayaan serta bantuan keuangan (European Council, 2022).

Sedangkan sanksi terbaru UE, yaitu disepakatinya batas harga $60 per barel terhadap minyak Rusia. Batas harga minyak tersebut berlaku untuk minyak mentah dan minyak petroleum serta minyak yang diperoleh dari mineral mengandung bitumen yang berasal atau diekspor dari Rusia, sebesar $60 per barel. Hal ini bertujuan untuk membatasi lonjakan harga yang didorong oleh kondisi pasar yang luar biasa secara drastis mengurangi pendapatan yang diperoleh Rusia dari minyak setelah melancarkan perang agresi ilegal melawan Ukraina (European Council, 2022).

Efektivitas Sanksi EU dan AS

Apakah sanksi tersebut telah secara signifikan mempengaruhi ekonomi Rusia, atau diplomasi energi Rusia masih bertahan hingga hari ini? Data dari The Russian Energy Export Tracker, yaitu proyek yang dikembangkan oleh Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) untuk melacak aliran ekspor energi Rusia, menunjukkan bahwa pada paruh pertama perang, ekspor bahan bakar fosil Rusia menghasilkan pendapatan sebesar $151,8 miliar; UE menyumbang 54%, dengan total sekitar $81,7 miliar.

Sejak awal invasi, ekspor bahan bakar fosil telah menyediakan sekitar $41,32 miliar untuk anggaran federal Rusia, membantu mendanai perang di Ukraina (CREA, 2022). Bahkan keuntungan dan volume ekspor bahan bakar fosil Rusia sedikit meningkat pada Agustus, menyusul level terendah pada Juni. Namun, di sisi lain, ekspor Rusia turun 18% dari puncaknya pada awal invasi antara Februari dan Maret. Kebijakan pengurangan ekspor pipa gas, produk minyak, dan batu bara mendorong penurunan.

Pengurangan impor bahan bakar fosil Rusia tersebut telah menyebabkan kerugian pemerintah Rusia sebesar $163,4 juta per hari karena kehilangan pendapatan pada Juli dan Agustus, dibandingkan dengan awal invasi. Pengurangan volume ekspor secara keseluruhan didorong oleh penurunan ekspor ke UE sebesar 35% (Offshore Technology, 202). Namun, meskipun ada penurunan ekspor ke EU, di sisi lain banyak negara Asia datang untuk mendapatkan minyak mentah murah dari Rusia.

Permintaan dari India, Cina, dan Turki telah meningkat. Adapun Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan membeli sekitar $5,5 miliar bahan bakar fosil dari Rusia selama lima bulan pertama invasi Ukraina. Bahkan pendapatan Rusia tumbuh menjadi $337,5 miliar pada 2022. Angka tersebut meningkat 38% dari 2021, karena permintaan minyak global telah membantu mengimbangi penurunan permintaan Eropa (Offshore Technology, 2022).

Faktanya, sejauh ini produksi minyak hanya turun hampir 3% sejak invasi Ukraina. Menurut analisis IEA pada Agustus, Rusia memproduksi 310.000 barel per hari pada Juli, turun dari tingkat pra-invasi, sementara tingkat ekspor total turun sebesar 580.000 barel setiap hari. Menurut para ahli angka tersebut tidaklah cukup signifikan untuk memberikan dampak berarti pada ekonomi Rusia (Offshore Technology, 202).

Berdasarkan fakta di atas, dapat dipahami, tidak efektifnya sanksi energi terhadap energi Rusia adalah karena kebijakan embargo AS dan EU pada praktiknya tidak didukung oleh negara-negara di kawasan lain, yaitu Asia terutama China dan India. Diplomasi energi Rusia dalam merespons sanksi EU dan AS adalah dengan mengalihkan minyak dan gasnya ke Rusia untuk menggantikan pasarnya yang hilang di Eropa. Rusia telah menawarkan minyaknya dengan harga diskon kepada pembeli di Asia.

Di India impor minyak telah meningkat dari tingkat yang sangat rendah pada awal tahun dan mencapai puncaknya pada Juni dan Juli, dan masih pada level ini hingga November 2022. Sedangkan pembelian minyak Rusia oleh China telah berfluktuasi sepanjang 2022i --awalnya jatuh pada Februari, tetapi kemudian meningkat secara signifikan pada bulan-bulan berikutnya (Offshore Technology, 202).

Impor minyak gabungan oleh Cina dan India dari Rusia pada Maret telah mengambil alih dari impor yang sebelumnya dilakukan 27 negara anggota UE. Adapun data terbaru untuk November, memungkinkan adanya lonjakan baru dalam pembelian minyak oleh India. Selain itu, Rusia juga terus melakukan berbagai strategi dengan mengatur transportasi kapal yang memungkinkan minyaknya terus mengalir ke Asia dan negara alternatif lainnya (Offshore Technology, 202).

Fondasi diplomasi energi Rusia yang telah lama dibangun menjadikan Rusia sebagai salah satu pemain besar dalam pasar energi global dan menciptakan ketergantungan bagi banyak negara. Terlepas dari serangkaian sanksi yang dijatuhkan dunia, terutama oleh EU dan AS, faktanya diplomasi energi Rusia masih menunjukkan eksistensinya.

Sanksi yang diberikan belum menunjukkan efek yang besar terhadap energi Rusia. Bertahannya diplomasi energi Rusia karena perannya dalam rantai pasok energi dunia telah menciptakan ketergantungan yang besar terhadap energinya, dan sanksi yang dijatuhkan UE dan AS belum sepenuhnya didukung oleh negara-negara di kawasan lain khususnya Asia.

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT