Memutus Rantai Distribusi dengan Digitalisasi

ADVERTISEMENT

Kolom

Memutus Rantai Distribusi dengan Digitalisasi

Irwan Nugroho - detikNews
Jumat, 20 Jan 2023 14:16 WIB
Closeup of woman doing online shopping on digital tablet at home. Rear view of woman hand touching screen while selecting shoes on ecommerce portal. Lady use e-commerce webshop to buy shoes.
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah tulang punggung ekonomi nasional. Bahkan, UMKM adalah penyelamat di kala terjadi kedaruratan. Pada saat terjadi krisis ekonomi tahun 1998, banyak yang menyebut UMKM adalah sektor yang paling 'tahan banting'. Begitu juga ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia belum lama ini. Meskipun sempat terpukul juga oleh pandemi, UMKM menjadi sektor yang paling cepat bangkit.

Data dari Kementerian Koordinator Perekonomian pada Oktober 2022 menyebutkan bahwa kontribusi UMKM mencapai 60,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Menariknya lagi, UMKM menyerap 96,9 % tenaga kerja dari total penyerapan tenaga kerja nasional. Jadi jelas bahwa UMKM adalah sektor yang harus diperhitungkan, dan karena itu harus mendapatkan perhatian dari pemerintah dan para stakeholder lainnya.

Pandemi COVID-19 seolah menjadi babak baru bagi kehidupan masyarakat, tidak terkecuali UMKM. Pembatasan sosial telah memaksa seluruh kalangan masyarakat untuk beradaptasi dengan teknologi digital. Pemasaran digital (digital marketing) yang sebelumnya hanya digunakan perusahaan-perusahaan dengan pengenalan digital yang baik atau pelaku usaha di perkotaan, sejak pandemi dipraktikkan oleh usaha-usaha skala kecil, merambah ke pelaku UMKM jauh di pelosok desa.

Namun, sejatinya digitalisasi merupakan keniscayaan, entah cepat ataupun lambat. Para pelaku UMKM sudah seharusnya memanfaatkan teknologi digital yang semakin penetratif itu untuk menunjang aktivitas bisnisnya. UMKM bisa sepenuhnya beralih ke pemasaran digital atau bergerak secara hybrid, yakni menjalankan bisnis secara offline dan online sekaligus.

Pemasaran digital sering disebut dengan pemasaran online, pemasaran menggunakan saluran internet, atau pemasaran menggunakan website. Pada saat ini, beberapa pemasaran digital yang populer antara lain dengan menggunakan mesin pencari, iklan di mesin pencari, pemasaran di media sosial, pemasaran dengan teknologi mobile, dan pemasaran melalui e-commerce (Kamal, 2016).

Terdapat banyak kelebihan pemasaran digital dibandingkan pemasaran konvensional yang perlu untuk diperhatikan. Sudah jamak dipahami bahwa jangkauan pasar akan menjadi lebih luas dengan pemasaran digital dibandingkan membuka etalase di pinggir jalan raya. Karena pasar semakin luas, maka angka penjualan pun berpotensi terkerek.

Penjual penjual juga dapat mengetahui perilaku konsumen dalam membeli produk melalui berbagai fitur yang disediakan oleh penyedia penjualan bersistem online. Dengan mempelajari data perilaku pembeli tersebut, penjual dapat menentukan aktivitas penjualannya secara lebih strategis. Di samping itu, pemasaran digital lebih murah dari segi biaya dibanding pemasaran konvensional (detikcom, 2022).

Namun, sebetulnya ada manfaat pemasaran digital bagi UMKM yang penting dan jarang disadari, yaitu memutus rantai distribusi yang panjang dari produsen kepada konsumen. Tidak hanya panjang, rantai distribusi tersebut biasanya juga berbentuk jaringan dan rumit. Ahli pemasaran Philip Kotler (dalam Wibowo, 2013) menjelaskan bahwa saluran distribusi serangkaian organisasi atau perantara yang terlibat dan tergantung satu sama lainnya dalam proses distribusi barang dari produsen kepada konsumen.

Panjang dan rumitnya jaringan distribusi itu membuat harga-harga barang akan meningkat. Dan, harga tinggi itu kadangkala berbanding terbalik dengan keuntungan yang diperoleh pelaku UMKM. Sudah sering kita dengar cerita di mana para pelaku UMKM mengeluhkan harga yang diberikan oleh tengkulak, misalnya, kepada mereka, yang cukup rendah. Namun, ketika barang tersebut dijual di pasar, harganya sangat tinggi.

Alhasil, produsen tak memperoleh keuntungan maksimal dari barang yang mereka produksi. Selain itu, seringkali pelaku UMKM tidak mendapat kepastian mengenai pembayaran karena sistem penundaan pembayaran dari mata rantai di atas mereka. Sistem digital memungkinkan bagi pelaku UMKM untuk memperoleh hasil dari usahanya secara lebih pasti. Jika pembayarannya berjalan dengan lancar, maka roda usaha pun akan berputar tanpa hambatan.

Seorang penjual produk di platform e-commerce atau media sosial, misalnya, dapat secara langsung terhubung dengan pembeli yang hendak membeli produknya. Jika sudah disepakati, maka transaksi dapat dilakukan di antara kedua belah pihak dengan perantara penyedia layanan digital, yang berfungsi untuk memfasilitasi transaksi tersebut. Atau keduanya dapat menjalan transaksi secara langsung dengan mekanisme transfer.

Salah satu bukti keuntungan dari pendeknya rantai distribusi dialami peternak telur di Blitar, Jawa Timur. Memanfaatkan aplikasi pemasaran "Pasar Mikro" yang dibuat oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI), para peternak telur itu dapat memangkas rumitnya distribusi telur dengan pembayaran yang sampai berminggu-minggu lamanya. Bertransaksi dengan pembeli melalui aplikasi itu mempercepat pencairan uang menjadi hanya dua hari.

Tidak hanya bagi pelaku UMKM, pendeknya rantai distribusi dengan digitalisasi juga dapat dirasakan manfaatkan oleh konsumen. Sebab, konsumen akan mendapatkan harga yang rendah karena sudah tidak adanya perantara-perantara. Lebih menguntungkan lagi jika mekanisme jual beli digital tersebut terjadi pada saat momentum-momentum khusus, seperti hari raya keagamaan, di mana biasanya permintaan barang tinggi.

Dengan manfaat pemasaran digital yang demikian krusial, kini tinggal bagaimana pemerintah dan para stakeholder menggalakkan penggunaan sarana digital tersebut kepada para pelaku UMKM. Tidak hanya meminta UMKM untuk go digital, tapi juga memberikan fasilitas dan bantuan bagi mereka untuk mengakses teknologi digital.

Langkah itu seharusnya semakin nyata untuk dilakukan karena penetrasi internet melaju sangat tinggi 'berkat' pandemi COVID-19 lalu. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2022, Jumlah penduduk yang terkoneksi internet mencapai 77 persen, dari sebelumnya 73 persen. Kondisi yang sangat menguntungkan untuk memperluas pemasaran digital bagi UMKM di Indonesia.

Irwan Nugroho wartawan detikcom

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT