Menentukan Lokasi Pembuangan Akhir Sampah di Jabodetabek

ADVERTISEMENT

Kolom

Menentukan Lokasi Pembuangan Akhir Sampah di Jabodetabek

Muhammad Achirul Nanda - detikNews
Jumat, 13 Jan 2023 14:30 WIB
Penentuan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir di Jabodetabek
Muhammad Achirul Nanda (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -
Sampah perkotaan adalah sekumpulan sampah padat yang dihasilkan oleh kota, pabrik, dan berbagai jenis kegiatan rumah tangga. Sampah ini mengandung kertas, kaca, logam besi, aluminium, timah, tembaga, tekstil, karet, plastik, makanan, hewan, dan tumbuhan. Sampah perkotaan dilaporkan menjadi sumber emisi metana antropogenik terbesar ketiga, setelah pertanian dan fermentasi.

Sampah perkotaan rata-rata didominasi oleh bahan organik (70%), dibandingkan anorganik (30%). Komposisi ini dapat dimanfaatkan untuk mengkonversi sampah menjadi energi. Biogas, insinerasi, gasifikasi, dan pengomposan adalah beberapa teknologi yang digunakan untuk mengubah sampah organik atau anorganik menjadi sumber energi.

Namun, sebagian besar masalah sampah perkotaan di negara berkembang seperti Indonesia sangat parah dan tidak teratur, karena perencanaan yang buruk, perluasan kota, dan kurangnya keterampilan manajemen. Seyogianya, pengelolaan sampah yang efektif membutuhkan pemahaman yang baik tentang kualitas dan kuantitas limbah, biaya ekonomi, dan dampak lingkungan dari metode pengolahan.

Manajamen Sampah di Jabodetabek

Jabodetabek saat ini dijuluki sebagai wilayah metropolitan terpadat di Indonesia, karena memainkan peran penting dalam aspek sosial, ekonomi, dan politik. Kapasitas perencanaan untuk mengatasi kompleksitas berbagai isu telah dihadapi oleh pemerintah Jabodetabek. Salah satu masalah tersebut adalah pengelolaan sampah perkotaan yang masih jauh dari memadai.

Sampah merupakan masalah yang signifikan di kota-kota metropolitan, dengan jumlah padatan yang sangat besar dihasilkan di industri. Timbulan sampah tahunan di Jabodetabek adalah sekitar 8,340 juta ton/tahun, dengan konstituen organik dan anorganik masing-masing sebesar 68% dan 32%. Oleh karena itu, potensi konversi sampah menjadi energi sangat besar di Jabodetabek.

Berdasarkan penelitian, wilayah metropolitan Jabodetabek berpotensi menyediakan energi dari sampah sebesar 820,90 GWh pada 2020. Saat ini, mayoritas sampah perkotaan Jabodetabek terkumpul di TPA Bantargebang (sekitar kota Bekasi), dengan volume harian mencapai 7.500 ton/hari. Namun, Badan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa operasi di TPA Bantargebang harus dihentikan sejak 2021 karena kelebihan kapasitas, yang menyebabkan pertimbangan serius untuk memilih lokasi TPA lain yang tepat, untuk mengantisipasi masalah yang lebih kompleks.

Masalah lain menunjukkan bahwa lokasi TPA Bantargebang juga tidak dirancang khusus untuk instalasi pembangkit energi. Sehingga, studi terkait faktor lingkungan, sosial dan keselamatan, serta ekonomi, sangat ditunggu oleh pembuat kebijakan, dalam menentukan TPA yang cocok untuk pembangkit energi.

Faktor Pemilihan Lokasi TPA

Pemilihan lokasi TPA yang sesuai memerlukan proses evaluasi yang ekstensif, di mana lokasi harus mempertimbangkan berbagai faktor. Berdasarkan penelitian, faktor penentu TPA dibagi menjadi tiga pilar, yaitu faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi. Faktor-faktor ini harus dipertimbangkan dengan baik, karena lokasi yang tidak tepat akan sering menimbulkan berbagai masalah yang kompleks.

Selain itu, faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi mungkin dapat berbeda dari satu daerah ke daerah lain, tergantung pada kondisi dan situasi setempat. Dalam pemilihan lokasi, lokasi TPA juga harus memenuhi peraturan daerah, dimana kajian sosial diperlukan untuk menghindari konflik publik secara instan.

Prioritas tertinggi dalam penentuan TPA adalah faktor lingkungan. Faktor ini mencakup: jarak dari pemukiman, jarak dari sungai, kemiringan tanah, jarak dari area sensitif, jarak dari daerah pertanian, jarak dari jaringan listrik, dan iklim. Misalnya, jarak lokasi TPA dari pemukiman dan sungai masing-masing adalah > 3.000 dan 2.500 m.

Produksi sampah perkotaan ditemukan meningkat setiap hari, kemudian menyebabkan degradasi lingkungan dan polusi, karena pesatnya perkembangan populasi dunia, urbanisasi, konsumsi bahan yang tinggi, dan kompleksitas produk. Pengelolaan sampah yang tidak tepat akan secara langsung berdampak pada degradasi lingkungan, karena metode pemilahan dan pembuangan yang dapat mencemari tanah dan air.

Semua ahli sepakat bahwa lingkungan layak mendapat prioritas tertinggi, berdasarkan penentuan lokasi TPA. Oleh karena itu, berbagai pihak terkait terutama pemerintah, harus lebih fokus dalam melengkapi kriteria lingkungan yang sesuai untuk pemilihan lokasi TPA.

Sementara itu, faktor sosial dan ekonomi juga memainkan peran cukup penting dalam pemilihan lokasi, karena ini terkait aspek kesiapan masyarakat, keuangan, harga lahan, dan konflik. Oleh karena itu, pemilihan lokasi TPA yang sesuai melibatkan pendekatan yang andal, yang memanfaatkan data spasial, geografis, iklim, temporal, dan atributif.

Meskipun sebagian besar sistem saat ini memiliki database yang baik, sistem tersebut masih kurang mendukung pengambilan keputusan dalam pemilihan lokasi TPA yang sesuai. Hal ini disebabkan identifikasi lokasi menjadi proses yang memakan waktu, yang memerlukan pengelolaan data yang ekstensif. Jika semua faktor seperti lingkungan, sosial, dan ekonomi dilibatkan dalam penentuan lokasi TPA, maka manajemen sampah di wilayah Jabodetabek akan berjalan secara efektif dan efisien.

Muhammad Achirul Nanda dosen Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Padjadjaran

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT