Relasi Ganjil Kita di Media Sosial dan Efeknya

ADVERTISEMENT

Relasi Ganjil Kita di Media Sosial dan Efeknya

Firman Kurniawan S - detikNews
Jumat, 13 Jan 2023 13:13 WIB
Twitter
Foto: Ilustrasi media sosial (Getty Images/bombuscreative)
Jakarta -

Ini sebuah bentuk relasi yang ganjil antara manusia dengan media sosialnya. Lewat kesadaran adanya keterhubungan di media sosial, khalayak berupaya melakukan pekerjaan yang bukan keahlian, bahkan bukan otoritasnya. Hasil pekerjaan itu lalu disajikan sebagai unggahan di media sosial, dan dikonsumsi khalayak luas. Sepenuhnya menimbulkan dilema, di satu sisi jadi manifestasi partisipasi khalayak, di sisi lain melahirkan kepelikan baru.

Berangkat dari keresahan terjadinya pembunuhan 4 mahasiswa di Universitas Idaho, khalayak pemilik akun media sosial di kota itu bergerak mencari pelakunya. Adanya anggapan lembaga kepolisian lamban dalam mengungkap peristiwa, memberi alasan bagi khalayak mengembangkan penyelidikan sendiri. Mereka mengejar bukti, mencoba mengungkap misteri.

Berdasar detikinet, 9 Januari dan VOAIndonesia, 10 Januari 2023, pembunuhan yang mengguncang khalayak kota kecil Moscow negara bagian Idaho itu, terjadi di sebuah rumah sewa. Property sewaan yang biasa digunakan para mahasiswa, sebagai tempat tinggal. Peristiwanya diperkirakan terjadi pada dini hari, 13 November 2022. Ini berdasar petunjuk yang ditemukan di tempat tidur para korban, maupun waktu terakhir para korban bertemu teman-temannya.

Keresahan khalayak membuncah, lantaran pembunuhan besar terakhir di kota yang berpendududuk sekitar 25 ribu orang itu, terjadi 5 tahun sebelumnya. Juga lantaran, 4 korbannya, 3 mahasiswi dan 1 mahasiswa, dibunuh dengan sadis. Berdasarkan luka-luka pada tubuh korban, kuat dugaan mereka ditikam dengan pisau atau alat yang lebih besar dari itu. Peristiwa yang kemudian terungkap pada pada 29 Desember 2022 ini, dilakukan Bryan Kohberger, seorang kandidat Doktor jurusan Kriminologi di Washington State University.

Kegeraman khalayak dalam wujud penyelenggaraan penyelidikan sendiri, dimulai dengan pengumpulan petunjuk. Petunjuk-petunjuk yang dikumpulkan sesama pengguna media sosial, disajikan kepada polisi. Penyajiannya juga dilakukan lewat media sosial. Selain menimbulkan tekanan pada lembaga penegak hukum, pengungkapan khalayak justru bisa merugikan. Polisi terancam kehilangan jejak. Ini karena pelaku tahu titik-titik perhatian penyelidikan, saat dirinya sedang diburu. Juga jalinan bukti yang sedikit demi sedikit terungkap, bisa rusak. Khalayak yang turut melakukan pekerjaan penyelidikan tanpa bekal metode dan keterampilan yang memadai, justru menimbulkan kekacauan. Juga, khalayak yang tak tahu batas kewenangannya, dalam sistematika mengungkap kejahatan.

Hal lain yang juga menambah keruwetan, teman maupun tetangga para korban justru jadi korban baru. Data pribadi teman dan tetangga: foto, alamat, perilaku rutin mereka disebarkan di media sosial. Ini seluruhnya memancing kesertaan khalayak yang lebih luas, melakukan penyelidikan tak sistematis. Tentu saja perilaku itu menimbulkan gangguan kenyamanan maupun privasi bagi pihak yang tak bersalah. Terjadi akibat tindakan tak terkendali, para pemilik media sosial.

Keganjilan relasi sebagaimana ungkapan di atas, dapat diterangkan lewat sebuah konsep psikologi, yang lazim disebut sebagai public self awareness. Salah satu penelitian menyangkut ini, dikemukakan Marco van Bommel dan Paul A.M. van Lange, 2012 dalam artikel keduanya, yang berjudul "Be Aware to Care: Public Self Awareness Leads to a Reversal of The Bystander Effect". Untuk memahami public awareness effect ini, keduanya menjelaskan lewat eksperimen yang dilakukan dengan pendekatan bystander effect.

Bystander effect, secara ringkas dapat digambarkan sebagai situasi anomali yang terjadi di tengah situasi genting. Pada kecelakaan atau kejahatan yang membutuhkan pertolongan orang yang menyaksikan, keberadaan hadirin lain justru menyurutkan kepedulian. Pertolongan tidak terjadi. Sebaliknya, kepedulian untuk membantu muncul manakala tak ada orang lain di tengah kegentingan yang sama. Mengapa pada peristiwa di tengah sekelompok orang, tindakan yang diperlukan justru tak muncul?

Terhadap keadaan ini penjelasannya sederhana. Orang yang hadir saling mengandalkan satu sama lain. Jika isi pikiran hadirin diungkapkan sebagai pernyataan, wujudnya seperti ini: "Toh ada orang lain yang bisa bertindak" atau, "Kenapa harus saya? Ada orang banyak yang turut menyaksikan, pasti ada yang bakal peduli dan bertindak". Seluruhnya berpikir sama, mengandalkan keberadaan orang lain. Ini beda keadaannya jika yang menyaksikan hadir sendiri. Tak ada orang lain yang diandalkan.

Seluruh uraian di atas kemudian jadi penjelas terhadap paradoks terjadinya kecelakaan tanpa pertolongan atau kejahatan tanpa tindakan, yang justru disaksikan sekelompok orang.

Keberadaan orang lain, berefek tiadanya tindakan pribadi. Demikian bystander effect, yang merupakan temuan klasik ilmuwan Darley dan Latene, 1968.

Lebih lanjut ungkap Bommer dan Lange, efek ketakpedulian jadi berbalik di tengah peristiwa semacam itu, manakala terdapat perangkat yang dapat menampilkan identitas orang yang hadir. Termasuk yang disebut sebagai perangkat, adalah kamera yang dibawa jurnalis saat meliput peristiwa. Juga CCTV yang disadari keberadaannya oleh hadirin sebagai perekam peristiwa. Perangkat ini mencatat keberadaan hadirin.

Faktor lain yang juga mendorong pembalikan bystander effect, ketika ukuran kelompok orang yang hadir jadi lebih besar. Di sini, keberadaan hadirin dapat ditangkap orang dalam jumlah lebih banyak. Kedua faktor pembalikan, dapat ditandai sebagai terbangunnya identitas hadirin, di tengah khalayak yang menyaksikan.

Efek yang muncul sebagai pembalikan akibat adanya perangkat maupun membesarnya ukuran kelompok ini, disebut sebagai public self awareness. Konsep ini seluruhnya diilustrasikan sebagai munculnya sikap maupun tindakan akibat adanya kesadaran khalayak, ketika keberadaannya disaksikan orang lain. Tentu ini sangat berkaitan dengan identitas pihak yang hadir. Yang seluruhnya mendorong terlibat dalam pusaran peristiwa.

Hari ini, keberadaan media sosial jadi sarana yang identik dengan keberadaan perangkat pada eksperimen di atas. Sedangkan ukuran kelompok dapat bersumber dari jumlah pengikut maupun khalayak yang terhubung lewat relasi media sosial. Seluruhnya mampu mewadahi produksi dan distribusi informasi para pemilik akun media sosial.

Lewat kamera berikut sarana pada perangkat digital, dihasilkan unggahan yang dapat mendeskripsikan peristiwa. Keberadaannya tak pernah lepas dari genggaman pemiliknya. Sedangkan para pengikut yang mengkonsumsi unggahan, juga pihak yang teramplifikasi oleh daya tarik isi unggahan, tak lain adalah ukuran kelompok yang membesar. Pengaruhnya kian dianggap penting, ketika tanggapan yang terjadi kian luas. Ini yang disebut sebagai magnitude peristiwa, yang terindikasi dari traffic media sosial.

Seluruh uraian di atas berfungsi identik dengan perangkat yang dimaksud pada eksperimen Bommel dan Lange. Kesertaan khalayak dalam suatu peristiwa dipicu oleh kesadaran terhubung dengan pihak lain, lewat sosial media. Relasi follower-following di media sosial, jadi mata uang keberadaan seseorang untuk selalu memilikinya. Mata uang sosial itu tak lain unggahan pada suatu peristiwa. Termasuk ketika peristiwa yang dijadikan sebagai unggahan adalah kerja yang membutuhkan profesionalisme. Ini sering tak diijinkan diganggu gugat, oleh khalayak yang tak berpengetahuan cukup.

Cerita tentang runyamnya kerja pihak yang berprofesi sebagai pengungkap kejahatan, juga pernah mendera India. Maraknya penculikan anak yang terjadi di pertengahan tahun 2018, melahirkan kecemasan para orang tua. Campuran rasa geram akibat tak kunjung terungkapnya kejahatan, diikuti ancaman bakal jatuhnya korban dari anggota keluarga sendiri, mendorong munculnya tindakan mandiri.

Berdasar potongan-potongan kesaksian, wajah penculik maupun metode penculikan yang dilakukan, direkonstruksi. Hasilnya diedarkan lewat media sosial yang digunakan penduduk negara itu. Akibatnya dapat diduga. Adanya kemiripan wajah, juga tindakan serupa yang mencurigakan, jadi alasan untuk menangkap, menginterogasi, menyiksa bahkan membunuh orang yang dicurigai. Korban salah sasaran berjatuhan.

Relasi ganjil yang didorong keterhubungan di media sosial muncul jadi dilema. Di satu sisi, adanya partisipasi khalayak memperbanyak data yang diperlukan dalam pengungkapan kejahatan. Namun relasi ini juga bisa memicu korban salah sasaran.

Sebuah bentuk kepelikan baru hadir, pantas memperoleh jalan keluar memadai. Sebab jika tidak, korban tak bersalah bakal berjatuhan. Mungkin bisa dimulai dari pembenahan lembaga professional yang berwenang.

Dr Firman Kurniawan S. Pemerhati budaya, komunikasi Digital dan pendiri LITEROS.org

Simak juga 'Di Balik Pelatihan Media Sosial Para Pekerja Migran Indonesia di Taiwan':

[Gambas:Video 20detik]



(rdp/rdp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT