Mengakhiri Kepanikan, Menyambut Harapan

ADVERTISEMENT

Kolom

Mengakhiri Kepanikan, Menyambut Harapan

Marz Wera - detikNews
Jumat, 13 Jan 2023 11:06 WIB
Mengakhiri Kepanikan, Menyambut Harapan
Marz Wera (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Seperti pelangi sehabis hujan. Mungkin itulah adagium klasik yang cocok untuk menggambarkan situasi selepas dua tahun kita bergelut dengan pandemi. Mobilitas sosial yang terbatas perlahan pulih. Yang sebelumnya berjarak, kini mulai mendekat. Aktivitas sudah berjalan tanpa pembatasan sosial. Ketika dua tahun kita terperangkap dalam kepanikan global, kini sinar harapan mulai tampak, meski ketidakpastian masih membayangi di depan.

Hidup adalah labirin-labirin kebingungan yang saling tumpah tindih. Sejarah manusia adalah catatan tentang realitas, datang dan pergi. Beranjak lalu menghilang. Siapapun tak bisa menghentikan apalagi mengajaknya kembali untuk mengulangi. Hidup manusia adalah aneka paradoks yang saling berkaitan. Kita bisa sangat berbelas kasih, bisa juga sangat kejam.

Bisa pantang menyerah dalam mengejar suatu perjuangan sekaligus mudah sekali putus asa. Bisa juga super percaya diri dalam konteks tertentu. Secanggih pemikiran dan pencapaian hingga keluar angkasa di bidang teknologi, tapi tak berdaya menyelamatkan sisi kemanusiaan yang paling esensial misalnya kelaparan. Kita menciptakan teknologi dengan beragam kecanggihan yang dalam konteks paradoksikalnya hanya dalam sekali klik. Tapi, untuk urusan emosi dan stres saja kadang tak mampu diatasi.

Manusia modern terjebak dalam apa yang diciptakannya sendiri. Apa yang diciptakannya justru menjadi patron penentu siapa dirinya. John Green dalam refleksinya bertajuk The Anthropocene Reviewed (2022) yang mengantarkan kita pada penjelajahan reflektif mengenai bagaimana sentuhan nurani manusia dengan aneka peristiwa dalam hidupnya. Menurutnya dualitas dalam hidup adalah realitas yang tak bisa diubah. Manusia hanya punya waktu untuk memilih, cepat atau lambat. Dan, siap dengan semua risiko yang akan dihadapi. Misalkan, kekalahan dan kemenangan, penderitaan dan kebahagiaan, kesendirian dan kebersamaan, kefanaan dan kebermaknaan.

Pandemi belum sepenuhnya berakhir. Tetapi kita sudah menghayati waktu sebagai flat time, seperti waktu senggang yang mendatar saja. Kita mungkin selama dua tahun ini hampir lupa pergantian hari ke hari. Rasanya setiap hari sama saja. Karena semua aktivitas semenjak pandemi serba terbatas. Thomas L Friedman, kolumnis kawakan The New York Times, menulis sebuah buku yang sangat bagus mengenai globalisasi: The World is Flat: A Brief History of The Twenty First Century (2005). Menurutnya, kekuatan-kekuatan globalisasi sudah menjadikan dunia ini seperti lapangan datar yang tidak punya perbedaan berarti.

Kita bisa ada di mana saja, kapan saja dan dari mana saja. Hidup di abad-21 dengan beragam tawaran yang memikat karena kecanggihan teknologi menjamin kemudahan, koneksi, akses, dan efektivitas secara ekonomi. Manusia yang pada dasarnya menyukai hal-hal pragmatis tentu menyambut antusias hal seperti ini. Masalah terbesarnya adalah ketergantungan pada teknologi dan rentan pada ekosistem teknologi dengan berbagai macam pesonanya yang genit sekaligus memikat.

Manusia modern terlampaui berkuasa hingga tidak cukup berkuasa dalam batasan tertentu. Pesona kuasa ini memikat manusia modern hingga menembus planet bumi, menguasai alam, dan mengeksplorasi lingkungan semaunya dengan prinsip rasionalitas melalui perkembangan dan kemajuan IPTEK.

Dalam konteks itu, pandemi mungkin dan memang harus terjadi biar manusia tidak terjebak dalam perangkap fantasi antroposentrismenya dan tidak terlalu sombong. Fantasi ini membuat manusia menganggap diri sebagai ciptaan paling superior untuk berbuat semaunya mengenai keberadaan ciptaan lainnya.

Dua tahun pandemi adalah masa hidup yang menggelisahkan bahkan hingga saat ini, tapi juga di sisi lain adalah situasi yang mengasyikkan khusus bagi para kreator sekaligus inovator global dalam dunia teknologi. Para pemikir revolusioner dan klaim diri sebagai pengubah peradaban dan memang realitasnya begitu, tanpa sadar melegitimasi kehidupan materialistik sekaligus kapitalistik yang mengabaikan kehidupan riil.

Dalam keasyikan dan romantisme hidup dengan perangkap kinerja algoritma tersebut, manusia ternyata mudah panik dengan satu mahkluk yang tak kelihatan tapi nyata menghentikan semua aktivitasnya.

Prahara Manusia Abad-21

Prof Bambang Sugiharto dalam sebuah webinar Unpar+ bertajuk Living in the Digital Culture mengemukakan bahwa culture digital itu ruang lingkupnya melampaui dari sekedar revolusi industri 4.0. Ada dua konsep kemajuan yang menjadi kombinasi yakni deep learning dan genetic engineering. Konteks ini menyimpan kemajuan positif di satu sisi juga sisi negatif di sisi yang lain.

Dampak positifnya bisa meningkatkan kemampuan serta imajinasi manusia ke taraf yang lebih canggih, dari arah sebaliknya bisa fatal karena manusia akan dibawa hidup dalam dunia fantasi tak real yang sangat artifisial dan bisa sangat sombong untuk berbuat semaunya.

Kini di era digital, kemodernan mengantar kehidupan manusia secara global ke arah perubahan yang drastis. Di era pra-digital Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon logon echon yang berarti makhluk pemakai bahasa. Waktu itu, manusia dalam berkomunikasi hadir ragawi, secara langsung. Di era digital komunikasi bergeser dan mempunyai kecenderungan ke ruang virtual. Tanpa perlu kehadiran fisik secara langsung.

Prof F Budi Hardiman melalui bukunya Aku Klik Maka Aku Ada (2022), secara kritis menegaskan bahwa manusia di era digital hanyalah sebuah komponen sistem media komunikasi. Ia tampaknya memakai media, tetapi sebenarnya ia sendiri adalah media komunikasi, karena dalam sebuah jejaring anonim komunikasi digital manusia hanyalah penyalur pesan. Makhluk yang dikendalikan media, berfungsi sebagai media, dan mengadaptasi iklim teknologi digital ini boleh kita sebut homo digitalis.

Homo digitalis bukan sekadar pengguna beragam platform teknologi digital tapi bereksistensi lewat ponsel pintar sebagai wadahnya. Eksistensi mendahului esensi. Perilaku ini ditentukan oleh aktivitasnya di ruang digital melalui kemampuan mengunggah, seberapa intens ngobrol di media sosial, rajin mengirim pesan dan semacamnya. Semua itu dilakukan untuk kebutuhan akan pengakuan. Pada sisi ini, media digital hadir sebagai medan pengakuan sosial baru.

Dalam ruang digital komunikasi antar individu adalah pesan-pesan anonim yang beredar. Semua orang terlibat dan saling menentukan dalam merakit realitas artifisial dunia digital yang di satu sisi sebagai bentuk tercapainya mesin imajinasi, sementara di sisi yang lain sebagai bentuk fantasi tanpa batas ruang dan waktu.

Sekali lagi saya setuju dengan apa yang dipaparkan oleh Prof F Budi Hardiman bahwa di era digital manusia hidup juga dengan masyarakat tambahan berupa digital beings, seperti grup Whatsapp, Twitter, Facebook, dan Instagram. Inilah era ketika pesan lebih penting daripada pengirimnya. Di dalam masyarakat digital bukan orang-orang yang berkomunikasi, melainkan komunikasi berkomunikasi dengan komunikasi, karena sirkulasi pesan-pesan bukan hanya lepas dari para pencetusnya, melainkan juga mengendalikan mereka.

Komunikasi digital secara perlahan melepaskan orang dari belenggu tatanan lama seperti kehadiran fisik, guyub, saling menyapa menuju kebebasan baru yakni semua bisa dilakukan tanpa perlu bertemu karena ada medium penghubung lintas batas, lintas ruang dan lintas waktu.

Kepanikan terhadap pandemi justru membuat Homo digitalis menemukan dunia baru tanpa negara, digital state of nature. Dunia adalah desa global, global village. Dalam digital state benar dan salah tidak dikenali. Setiap orang menjadi otonom atas dirinya. Tinggal di suatu tempat tidak berarti harus ada di sana, berada di suatu tempat tidak harus bersama. Orang hidup dalam dunia seolah-olah ada di sana, ada juga di sini.

Tidak ada urutan zaman dalam dunia digital, kaburnya status sosial, serta buramnya hierarki nilai. Satu pengguna media sosial bisa memiliki ribuan pemirsa. Eksistensi individu hanya sejauh satu klik. Sensasi diperoleh karena terpikat oleh kemasan. Tahayul, kisah mitos, hoaks akan menjadi masuk akal, ketika aspek sensasional memikat pemirsa.

Insan Epimetheus dan Insan Prometheus

Dalam mitologi Yunani kuno ada kisah menarik yang selalu jadi sumber refleksi yakni dua insan yang saling melengkapi. Pertama, insan Promotheus; melihat ke depan. Kedua, insan Epimetheus; melihat ke belakang.

Insan Epimetheus selalu melihat, bercermin, dan berefleksi pada masa lalu, mengenang sejarah, menghargai tradisi agar setiap langkah harus pasti untuk menentukan masa depan. Karakternya hati-hati dalam keputusan dan tindakan, dan tidak terpukau oleh kemajuan. Ia selalu punya waktu untuk merefleksikan apapun yang pernah berlalu, sedang terjadi hari ini, dan siap menuju masa depan.

Selalu mempersiapkan waktu dengan baik untuk menempatkan diri merefleksikan setiap peristiwa hidup yang terjadi dalam sejarah. Merenungkan, memaknai, hingga menemukan intisari sebuah persoalan. Hidupnya disasarkan pada harapan, yang sifatnya alamiah dan kodrati. "Karena pertimbangan dan keputusannya selalu bersifat intuitif, maka ia sangat percaya pada 'tacit knowing' dan 'gutfeeling', sekaligus yang bersifat epistemik. Katakan saja bahwa karakter insan Epimethean itu arif dan bijaksana" (Fabianus Sebastian Heatubun, SLL, Pr).

Insan Prometheus digambarkan sebagai mahkluk yang berpikir ke depan, progresif, dan sosok manusia penerobos. Sosok yang bertekad mengatasi kodratnya yang terbatas. Eksplorasi dan petualangan saintifik menjadi gambaran keluasan pengetahuan. Berpikir dan bekerja keras menjadi nilai dasar utama untuk merealisasikan impian. Menurutnya, hidup harus berjuang bukan menunggu atau berharap pada anugerah yang tak pasti. Insan Promethean menentukan kemajuan berdasarkan ekspektasi.

Meminjam Fabianus Sebastian Heatubun, SLL, Pr, berpikir dan bekerja keras adalah keutamaan insan ini dalam mewujudkan impian. Ekspektasi yang menguatkan keyakinannya akan apa yang dicita-citakan. Nasib itu adalah diri sendiri, soal kemauan untuk berubah, bukan berharap pada anugerah yang tak pasti, atau semacam ''eskatologia.'' Dua tipologi insan Epimetheus dan Prometheus adalah sikap dasar dalam menimba kebijaksanaan untuk menyelesaikan konflik secara demokratis. Keduanya adalah simbol dialogis.

Berbagai peristiwa kebangsaan sepanjang 2022 cukup memberikan refleksi bagi kita untuk berkaca pada insan Prometheus dan insan Epimetheus. Alarm politik identitas, bandul kuasa dan baron bisnis, skenario perampok dalam mega proyek pembangunan lewat OTT, drama para koruptor dan hakim, tangan-tangan kotor kepala daerah, gerakan samar atas nama keyakinan tertentu, aksi saling serang dan ujaran kebencian di media sosial, radikalisme dan terorisme, gerakan populisme dengan alibi keyakinan tertentu serta bencana alam. Semua harus diakhiri bersama keterbatasan waktu tahun 2022.

Suara marah dan jengkel, pahit dan manis, panik dan gelisah harus menghilang dengan hadirnya cahaya wajar 2023. Cahaya fajar itu harus tampak lewat harapan dan cita-cita bersama. Dalam mitologi Romawi Kuno, ada seorang dewa yang berwajah dua. Satu menghadap ke depan dan satunya menghadap ke belakang. Agar gampang dikenali, wajah depan selalu tampak senyum dan optimis, sedangkan wajah belakang selalu tampak muram dan sedih. Dewa itu dalam bahasa latinnya Ianuarius Mensis yang berarti Januari. Konon, kalender masehi terinspirasi dari kisah itu untuk memulai dengan bulan Januari.

Maka, kepanikan harus diakhiri, harapan harus disambut dan ketidakpastian harus diwaspadai.

Marz Wera researcher dan co-founder YFL.ID

Simak juga 'Cek Mal Usai Pencabutan PPKM, Jokowi Senang Ekonomi Makin Hidup':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT