Bayangan (Tidak Ada) Krisis Ekonomi Dunia 2023

ADVERTISEMENT

Kolom

Bayangan (Tidak Ada) Krisis Ekonomi Dunia 2023

Anggito Abimanyu - detikNews
Selasa, 10 Jan 2023 11:17 WIB
Anggito Abimanyu, Kepala Badan Pelaksana BPKH
Anggito Abimanyu (ilustrasi: Luthfy Syahban)
Jakarta -

Jika ada tiga ekonom berkumpul membuat prognosa, kemungkinan besar akan disimpulkan empat hasil yang berbeda. Begitulah ledekan dari para pebisnis terhadap proyeksi para ahli ekonomi. Hasil proyeksi dan analisis para ahli ekonomi juga sering meleset, dengan alasan asumsinya salah.

Ada juga yang beralasan bahwa karena variabel ekonomi dan keuangan dunia sangat kompleks, tidak saling berhubungan dan sangat sulit bagi ahli ekonomi untuk memprediksi apa yang akan terjadi ke depannya, dalam jangka pendek sekalipun.

Banyak sudah model kuantitatif dilahirkan oleh para ekonom, mulai dari model stochastic, deterministic, general equilibrium, linear programing, model non-linear, game theory, early warning system (EWS), Analytic Hierarchy Process (AHP), dan lain-lain. Semua model tentu dimaksudkan untuk membuat estimasi dan proyeksi yang akurat.

Model-model yang disusun dengan persamaan dan logika ekonomi itu tiba-tiba buyar dengan datangnya pandemi Covid-19. Hampir semua proyeksi ekonomi meleset dengan adanya Covid-19 yang tidak jelas epistemologi, indikator, dan historisnya. Belum lagi faktor geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina yang sulit diditeksi dan diasumsikan.

Tak heran jika saat ini masih belum jelas mengenai prospek ekonomi pascapandemi pada 2023. Tak pelak lagi salah satu topik penting yang membayangi dunia adalah resesi ekonomi pada 2023. Dalam situasi saat ini, banyak analisis keuangan dunia masih ragu-ragu dan setengah pesimis, resesi dunia apa yang akan dihadapi?

Para analisis belum sepenuhnya yakin bahwa dunia berada di wilayah resesi yang dalam setelah melihat trajektori data terakhir. Memang terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi, kecenderungan inflasi, penurunan indeks produksi manufaktur, ketersedian lapangan pekerjaan namu belum tampak tanda-tandanya secara serius dan sepertinya bisa dihindari.

Beberapa data sumber keraguan kondisi buruk adalah kepercayaan konsumen yang tetap cukup kuat selama beberapa bulan terakhir, dan pasar tenaga kerja yang masih terjaga. Para analisis investasi dunia belum sepenuhnya menyampaikan berita lebih buruk dalam hal proyeksi ekonomi pada semester dua 2022. Artinya, meskipun ada konsensus tentang resesi 2023, analis memperkirakan bahwa kita akan dapat menghindari resesi yang dalam.

Para ahli termasuk lembaga dunia telah memperkirakan tahun 2023 akan sulit dan prediksi pertumbuhan melambat dan kontraksi ekonomi di sepertiga negara dunia. "Sepertiga ekonomi dunia akan mengalami resesi yang dalam," demikian konsensus analisis lembaga ekonomi dunia. Sebagian negara tersebut akan menjadi pasien krisisnya IMF. Cukup traumatik bagi kita di Indonesia yang pernah menjadi pasien IMF.

Pertumbuhan Terlemah

Secara historis disimpulkan bahwa pada 2013 akan menjadi kinerja pertumbuhan ekonomi terlemah sejak 2001, di luar masa pandemi Covid 2020-2021 dan krisis keuangan global 2008. Ekonomi AS berkontraksi pada paruh pertama 2022. Kondisi ini diikuti oleh kawasan Euro pada paruh kedua 2022, dan China masih terhambat adanya wabah Covid-19 yang berkepanjangan dan kebijakan lockdown.

Gejala utama resesi adalah rendahnya pertumbuhan ekonomi dan tingginya inflasi, diikuti dengan PHK. Banyak negara memerangi potensi resesi melalui bauran kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Namun, banyak kebijakan Bank Sentral dan kebijakan fiskal pemerintah yang tidak sejalan.

Resep dalam kuliah ekonomi makro menyatakan bahwa kebijakan fiskal harus sejalan dengan kebijakan moneter. Ini dalam kondisi resesi ekonomi yang "normal". Karena ketidakpastian, teori ini sudah dilanggar. Sering terjadi Bank Sentral memperketat kebijakan moneter, namun pada saat yang sama kebijakan fiskal melonggarkan kebijakannya.

Ada hal yang positif dari perlambatan ekonomi. Ini berarti ekonomi akan mendingin dan harga-harga akan mulai mendatar, sehingga pasar kerja masih tetap terbuka.

Bagi Indonesia dan ASEAN, perkembangan di China penting. Menurut survei atas para ekonom dunia pada Desember 2022, tingkat pertumbuhan di China, ekonomi terbesar Asia diperkirakan meningkat pada 2023 pasca-lockdown. Meskipun masih di bawah pertumbuhan optimal di China, kenaikan ini merupakan tanda baik bagi perekonomian Indonesia dan ASEAN.

Peluang

Kalaupun resesi melanda, bukan berarti dunia usaha dan investor akan kehilangan peluang. Peluang bisnis akan muncul dan dapat dimanfaatkan, selama kita tahu ke mana harus mencari.

Dalam menghadapi krisis, masih menjadi pertanyaan apakan perusahaan besar cenderung mengungguli perusahaan kecil. Perusahaan yang lebih besar umumnya memiliki basis pelanggan yang stabil, sumber pendapatan yang lebih bervariasi dan bahan baku yang lebih tersedia. Masalahnya Perusahaan besar tidak mudah menghemat biaya operasionalnya secara cepat.

Perusahaan kecil sebaliknya. Bisnisnya terbatas. Persaingan usaha perusahaan kecil lebih ketat. Perusahaan kecil tidak menghasilkan laba yang signifikan, tidak memiliki cadangan, dan jika mengalami penurunan pendapatan bisa jadi sulit untuk dilalui. Sisi positifnya, perusahaan kecil sangat fleksibel dalam soal penghematan biaya.

"Resesi atau tidak, tahun ini sepertinya kondisi ekonomi akan sulit," itulah pesan dari para analis ekonomi dunia memasuki 2023.

Bagaimana di Indonesia? Tahun ini disamping adanya dampak perlambatan ekonomi dan inflasi global, harga minyak, harga batu bara, harga komoditas sudah mulai turun. Ini berarti windfall para pengusaha bidang tersebut juga sudah berakhir. Pada 2008 juga demikian.

Bedanya saat ini bank-bank tidak ikut arus membiayai, jadi tidak terjerumus ketika harga minyak dan komoditi kembali merosot. Pengusaha pertambangan dan komoditas tampaknya juga tidak sontak berekspansi takut kejadian 2008 terulang.

Pengusaha tidak mengejar "aji mumpung" pesta harga tinggi. Pemerintah juga tidak serta merta mengejar pajak mereka secara berlebihan. Walhasil tidak ada lagi penyakit penderitaan setelah pesta bagi pengusaha dan perekonomian.

Apapun yang terjadi, tidak ada jalan yang mudah untuk melawan resesi ekonomi pada 2023, tetapi jalan masih akan tetap terbuka apabila ketika mampu menggali kekuatan kita bersama. Kita yakin pemerintah tidak akan tinggal diam dan terus mereformasi kebijakan.

Pengusaha juga menahan diri, berhati-hati, dan mencari celah peluang. Mari kita bangun kepercayaan untuk bersinergi menahan arus resesi dan melanjutkan momentum pemulihan yang telah dijalankan pada 2022. Selamat Tahun Baru 2023!

Anggito Abimanyu dosen UGM, Yogyakarta

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT