Menghidupkan Kembali Halaman Rumah Kita

ADVERTISEMENT

Kolom

Menghidupkan Kembali Halaman Rumah Kita

Qiki Qilang Syachbudy - detikNews
Selasa, 10 Jan 2023 10:28 WIB
African-American father and daughter holding small seedling at community garden greenery
Foto ilustrasi: Getty Images/FangXiaNuo
Jakarta -

Krisis pangan sudah hampir sampai di pekarangan rumah kita. Di warung tempat biasa saya makan, isu ini sudah sering menjadi topik pembahasan. Meskipun ada pejabat negara yang berusaha mengembuskan optimisme tentang tidak akan terjadinya krisis pada 2023, nyatanya masyarakat kita lebih senang dengan hal-hal yang menantang.

Salah satu keistimewaan bangsa kita adalah dapat memperbincangkan pembahasan yang sensitif bahkan mengerikan dengan sangat enteng bahkan sesekali ditaburi humor. Seperti halnya roller coaster, tetap saja banyak yang meminati wahana permainan ini meskipun mereka menjerit-jerit ketakutan di atas sana. Isu tentang krisis pada 2023 terus menggelinding.

Harus diakui, masyarakat kita adalah masyarakat yang kuat. Pada saat negara lain saat ini sudah banyak yang menggelepar masuk ke jurang resesi, masyarakat kita masih belum tergoyahkan. Riak-riak kecil hanya terlihat ketika terjadi kenaikan harga BBM pada awal September 2022. Riak-riak kecil tersebut kemudian dapat teratasi dengan keterangan pemerintah dan kebijakan subsidi langsung. Menjelang 2023, survei Bloomberg menyatakan bahwa Indonesia hanya akan terdampak resiko resesi sebesar 3 persen, saat negara lain ada yang mencapai 85 persen.

Kondisi Ekonomi

Jika dilihat dari kondisi perekonomian masyarakatnya, Indonesia masih termasuk negara berkembang yang memiliki PDB per kapita sebesar US$ 4.350. Dengan PDB per kapita sebesar itu, menurut data BPS per Maret 2022, penduduk miskin di Indonesia mencapai 26,16 juta (9,54 persen dari total penduduk Indonesia) yang terdiri dari 11,82 juta (7,5 persen) di kota dan 14,34 juta (12,29 persen) di perdesaan dengan garis kemiskinan sebesar Rp 505.569 per kapita per bulan.

Data yang perlu dicermati juga adalah tentang masih besarnya angka gini ratio, yaitu sebesar 0,403 di perkotaan dan 0,314 di perdesaan. Hal ini menunjukkan tentang kerentanan masyarakat menengah yang rawan terperosok ke garis kemiskinan jika harus menghadapi krisis yang berkepanjangan, setelah sebelumnya akibat adanya pandemi Covid-19. Jika saja krisis pada 2023 terjadi, maka tidak bisa dipungkiri masyarakat akan merasakan dampak yang lebih menyakitkan.

Prioritas Utama

Masalah pangan harus menjadi prioritas utama karena menyangkut nyawa manusia. Apa yang dikatakan Presiden Jokowi baru-baru ini tentang situasi dunia di mana ada 345 juta orang di 82 negara menderita kekurangan akut dan kelaparan, atau ada sekitar 19.600 orang mati kelaparan di dunia setiap harinya karena krisis pangan, tentu menjadi lampu kuning bagi kita untuk segera bertindak sebelum terlambat.

Krisis pangan bukan tidak mungkin akan menimpa bangsa Indonesia karena dalam banyak hal, salah satunya kita masih tergantung pada komoditas pangan dari luar negeri. Secara teori, permintaan terhadap pangan memiliki elastisitas yang curam atau yang dikenal dengan kurva permintaan inelastis. Dengan kata lain, jumlah kebutuhan masyarakat tidak mengalami perubahan di kala supply atau produksi pertanian mengalami kelangkaan. Akibatnya, harga akan melonjak tajam seiring dengan berkurangnya pasokan bahan pangan.

Saat ini sisi supply pangan dunia tengah mengalami guncangan yang besar karena adanya eskalasi perang fisik di Ukraina yang terus meningkat ditambah lagi ketegangan dua kubu kekuatan besar antara Amerika dan China yang semakin memanas serta adanya global warming. Oleh karena itu, kita tidak bisa lagi bergantung kepada pasar internasional dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Satu-satunya jalan dalam menghadapi permasalahan pangan ini adalah dengan motto "berdikari", berdiri di atas kaki sendiri, sesuai yang pernah disampaikan oleh Presiden Sukarno dahulu.

Memanfaatkan Halaman Rumah

Sebagai wilayah yang dianugerahi oleh dua musim dan tanah yang subur, maka ketahanan pangan masyarakat Indonesia sangat dimungkinkan dapat dimulai dari level rumah tangga, yaitu dengan memanfaatkan halaman rumah untuk ditanami dengan tumbuhan atau memelihara ternak yang bermanfaat dalam kebutuhan pangan sehari-hari.

Pengelolaan lahan halaman rumah menjadi opsi yang sangat penting bagi terciptanya ketahanan ekonomi di tingkat rumah tangga pada saat krisis pangan. Karena masyarakat yang semakin menggemari budaya instan, maka saat ini ruang kosong yang ada di sekitar rumah kadang terabaikan. Padahal pada zaman dahulu, orangtua kita telah memberikan contoh dalam mengelola ruang kosong di sekitar rumah dengan menanam sayuran, buah, atau sekedar untuk beternak ayam kampung.

Di zaman yang semakin maju ini, pengelolaan halaman rumah menjadi sangat dimudahkan karena industri pertanian dan peternakan sudah jauh lebih maju. Seperti misalnya kita bisa memilih dan membeli bibit dan benih pertanian melalui marketplace. Mengenai teknik menanam atau merawatnya kita bisa mempelajarinya melalui Youtube atau media sosial lainnya. Jika ketahanan pangan rumah tangga dapat sedikit teratasi, setidaknya akan dapat mengurangi rasa sakit masyarakat ketika nanti terkena dampak krisis pangan.

Peran Pemerintah

Ide tentang pemanfaatan halaman rumah ini tidak akan berjalan tanpa adanya dukungan dari pihak pemerintah. Dalam hal ini pemerintah perlu menjadi mediator dalam hal membersamai atau mengasuh masyarakat agar dapat berdikari dalam hal pemenuhan pangan. Setidaknya dua aktor penting yang perlu terlibat langsung, yaitu pihak Dinas Pertanian di setiap kecamatan dan pemerintah desa. Dua pihak tersebut merupakan aktor penting dalam hal mulai dari membawa ide sampai mempermudah masyarakat dalam mendapatkan akses-akses yang dibutuhkan. Sedangkan masyarakat bertindak sebagai pihak yang menyediakan lahan, tenaga, serta modal.

Jika saja ide tentang memanfaatkan halaman rumah ini bisa mendorong masyarakat perdesaan, maka bolehlah kita semua tenang dalam menghadapi kondisi krisis pangan ke depan karena 82.395 desa yang ada di Indonesia akan selamat. Selain itu, desa-desa tersebut akan tampil menjadi penyelamat bagi masyarakat di perkotaan.

Kadang sesekali kami yang ngobrol di warung makan membayangkan kalaulah para politisi yang akan tampil pada 2024 nanti tidak hanya sibuk dengan wacana tentang "melanjutkan atau tidak melanjutkan program yang sudah ada." Krisis pangan merupakan isu yang sangat penting untuk disikapi bersama. Senangnya dalam hati ketika saat kampanye nanti para politisi berkampanye dengan cara membagikan bibit dan benih tanaman atau peternakan. Hal ini tentu akan membangunkan batin masyarakat tentang pentingnya menjadi Mesias pada masa krisis, yaitu dengan menghidupkan kembali halaman rumahnya yang sudah lama mati.

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT