Titah Jokowi, BSI Akselerasi KUR Klaster untuk UMKM Naik Kelas

ADVERTISEMENT

Kolom

Titah Jokowi, BSI Akselerasi KUR Klaster untuk UMKM Naik Kelas

Muhammad Sakti Darma Abhiyoso - detikNews
Sabtu, 31 Des 2022 13:58 WIB
BSI
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terbukti menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah gejolak ekonomi dan krisis global.

Kepala Negara RI itu lantas mengajak pelaku usaha 'wong cilik' di seluruh sektor untuk memanfaatkan kredit usaha rakyat (KUR) Klaster, mulai dari perkebunan, peternakan, hingga UMKM.

Hal itu disampaikan Jokowi dalam acara Penyerahan KUR Klaster di Istana Negara, Senin (19/12). Dalam acara tersebut, turut hadir Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki.

"KUR Klaster ini dapat dilaksanakan di semua sektor, baik perkebunan rakyat, peternakan, perikanan, industri UMKM, dan usaha-usaha lain yang memiliki peluang pasar yang besar atau produk-produk unggulan di dalam negeri agar daya saing semuanya meningkat dan bisa masuk ke pasar global," jelas Jokowi.

Jokowi menekankan agar fasilitas pinjaman yang ada dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pelaku usaha, dipastikan tepat sasaran, serta proses penyalurannya betul-betul transparan dan akuntabel.

Merespons titah Jokowi, Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai salah satu bank penyalur KUR berpartisipasi aktif dengan melakukan akselerasi penyaluran KUR Klaster ke berbagai sektor usaha.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan BSI berkomitmen memacu perluasan penyaluran KUR di Indonesia demi meningkatkan akses permodalan sektor UMKM. BSI bercita-cita pelaku UMKM nasional bisa bersaing dan naik kelas.

"Salah satu caranya adalah dengan penyaluran KUR Klaster untuk semua sektor agar bisa berdaya dari hulu ke hilir sesuai arahan dari Bapak Presiden. Kami akan mendorong akselerasi pembiayaan dan pendampingan UMKM," kata Hery, Selasa (20/12), dikutip dari situs resmi BSI.

Hingga November 2022, BSI sudah menyalurkan pembiayaan KUR Syariah sebesar Rp 12,2 triliun alias 97,2 persen dari target kuota KUR yang diberikan pemerintah.

Selain itu, BSI bakal melakukan kolaborasi dalam menjalankan kurasi dan identifikasi kepada UMKM yang layak naik kelas, dimulai dari proses identifikasi karakteristik UMKM di daerah.

BSI saat ini memiliki 7 daftar wilayah dengan KUR terbanyak, yakni Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dukungan BSI agar UMKM naik kelas juga terus dilakukan dengan mendorong digitalisasi UMKM serta mencapai target realisasi penyaluran pembiayaan usaha.

Beberapa program yang telah dilakukan BSI, antara lain pengembangan platform per trade area, mengoptimalkan peran agregator dan reseller, dan perluasan pasar serta peningkatan SDM.

Selain itu, ada juga bantuan dana untuk UMKM dengan payung PEN melalui program bantuan produktif usaha mikro (BPUM), subsidi KUR, modal koperasi melalui LPDB, serta sinergi dengan berbagai kementerian dan BUMN yang memiliki UMKM binaan dengan kualitas baik.

Tak sampai di sana, BSI bahkan sudah meluncurkan aplikasi SALAM DIGITAL untuk pelaku UMKM. Aplikasi ini bisa diakses untuk mengajukan pembiayaan secara online.

Selain itu, BSI mendirikan UMKM Centre di beberapa kota serta aktif memberikan pendampingan wirausaha bersama para mentor yang sudah mapan.

Merespons langkah BSI dalam mendorong UMKM agar naik kelas, Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono menilai digitalisasi perbankan syariah menjadi hal yang tidak terelakkan.

Menurutnya, BSI sebagai bank syariah terbesar saat ini sudah melakukan dan terus memperkuat layanan digitalnya. Namun, Yusuf menilai tantangan yang lebih besar bagi BSI adalah model bisnis yang lebih fokus dan teruji.

"Saya menyarankan kepada pemain di perbankan syariah agar serius membangun business model yang fokus, misal berspesialisasi di pembiayaan pertanian, UMKM, perumahan, dan segmen-segmen potensial lainnya," katanya kepada CNNIndonesia.com, Senin (26/12).

Yusuf menegaskan tantangan bagi perbankan syariah ke depan adalah bagaimana pertumbuhan organik diraih melalui model bisnis yang teruji dan tahan krisis, baik melalui fokus pada segmen nasabah tertentu atau pada segmen sektor usaha tertentu.

Muhammad Sakti Darma Abhiyoso, Jurnalis CNN Indonesia

(prf/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT