Bom Bunuh Diri dan Sederet Skenario Baru

ADVERTISEMENT

Kolom

Bom Bunuh Diri dan Sederet Skenario Baru

Moh Rofqil Bazikh - detikNews
Jumat, 09 Des 2022 11:06 WIB
Warga melintas di depan Mapolsek  Astanaanyar, Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/12/2022). Mapolsek Astana Anyar ditutupi pagar seng pasca ledakan bom bunuh diri yang terjadi pada Rabu (7/12/2022) dan seluruh pelayanan dialihkan sementara ke Polrestabes Bandung. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/YU
Lokasi bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar, Bandung (Foto: Raisan Al Farisi/Antara)
Jakarta -

Mungkin tidak sedikit orang yang menolak kaget ketika tersiar berita bom bunuh diri pada Rabu(7/12) kemarin. Pasalnya kejadian seperti itu senantiasa berlangsung berulang dan dengan pola yang sedikit mirip. Menjelang Natal dan Tahun Baru, aksi-aksi yang diklaim heroik tersebut biasanya bermunculan. Sasaran utamanya biasanya rumah ibadah, namun di beberapa kasus juga menyasar tempat lain, seperti Polsek Astana Anyar itu.

Hal yang membuat banyak orang prihatin adalah pelaku membonceng nama agama. Dengan dasar itu pula, kita berkesimpulan bahwa kekerasan dalam beragama bukan isapan jempol belaka. Ia senantiasa ada dan mengintai kita setiap saat, hanya saja tidak kasat mata. Kita baru tersadar dan dibuat terbelalak tatkala itu kemudian terejawantahkan. Saya percaya bukan tidak banyak orang yang mempunyai pemahaman yang keras, sayangnya mereka tidak menampakkan pikirannya.

Kita kemudian tercengang ketika hal buruk terjadi, seolah-olah tidak menduga. Kendati kejadian seperti itu bukan hal yang baru lagi di Indonesia. Kasus bom Bali merupakan salah satu yang terparah dan menelan banyak korban jiwa. Satu sisi kita bertanya mengapa masih ada gerakan seperti itu, di sisi lain kita mulai merasa terbiasa dari saking berulangnya kejadian serupa.

Untuk menguji lebih lanjut dari mana motivasi berasal, kita dapat melihat latar belakang pelaku. Beberapa laporan mengemukakan bahwa pelaku merupakan mantan narapidana yang baru bebas pada 2021. Ia ikut campur tangan pada kasus bom panci di Cicendo, Bandung, pada 2017 lalu. Kemudian atas kasus tersebut mendekam di lapas Nusakambangan. Berbeda dengan beberapa narapidana lain, ia adalah orang yang menolak program deradikalisasi selama masa tahanan. Implikasinya masa tahannya sampai pada batas maksimum tanpa remisi.

Dengan kenyataan yang seperti itu, kita bisa berargumen bahwa program deradikalisasi masih belum maksimal. Masih ada celah dan kemungkinan besar narapidana tetap melakukan tindakannya ketika bebas. Tragedi kemarin adalah sebuah alarm agar program deradikalisasi segera dievaluasi. Jika tidak, maka implikasinya adalah seorang narapidana hanya vakum sementara dan kembali beraksi setelah bebas. Itu jelas tidak ideal untuk menekan angka orang-orang yang mempunyai pandangan dan gerakan ekstrem.

Skenario Motivasi

Hasil investigasi lain menyatakan bahwa pelaku terhubung dengan gerakan ekstrem dunia, sebut saja ISIS. Ada hubungan kausalitas antara kejadian kemarin di polsek dengan rekaman suara jubir ISIS yang tersebar di grup Telegram. Intinya, Abu Umar Al Muhajir yang merupakan jubir ISIS itu meminta agar memerangi musuh-musuh Allah sekaligus meminta agar berbaiat kepada ketua ISIS yang baru. Asumsi besar yang didapat bahwa itu adalah salah faktor yang menjadi pemantik peledakan bom bunuh diri Agus Sujatno di polsek.

Motivasi lain yang paling mencolok adalah ketidaksetujuan Sujatno pada RKUHP. Hal itu misalnya dapat dilihat pada bagian depan motor pelaku yang mengutuk keras RKUHP. Menurutnya, ia adalah hukum kafir dan penegak hukum adalah setan yang mesti diperangi. Sujatno barangkali bukan satu-satunya yang tidak sepakat dengan RKUHP, hanya saja cara yang dia lakukan melampaui batas. Sehingga akan menimbulkan skenario buruk lain terhadap polemik RKUHP.

Bukan tidak mungkin jika kemudian muncul sebuah teori serampangan yang mengatakan bahwa orang yang menolak RKUHP pasti teroris. Teori ini diambil dari pengamatan induktif terhadap satu kasus peledakan bom itu. Inilah skenario lain yang harus diwaspadai bersama agar suara kritis terhadap KUHP yang baru disahkan tidak diganjal dengan alasan tersebut. Skenario ini adalah salah satu kemungkinan yang tidak bisa kita abaikan. Kemungkinan lain bahwa peledakan bom itu juga dimaksudkan untuk memecah fokus masyarakat.

Kendati skenario ini sangat kecil kemungkinannya karena juga secara faktual ada satu aparat yang tewas. Tetapi jika kemungkinan (baca: skenario) ini benar, maka kita harus tetap mengawal dua-duanya. Dua problem itu menjadi topik penting minggu ini. Terkait KUHP sejatinya bukan hanya minggu ini, bahkan beberapa tahun sebelumnya. Pasal-pasal yang dinilai kontroversial dan mengebiri demokrasi sudah banyak dikritik. Hanya saja nasi sudah jadi bubur dan kemarin sudah ketok palu.

Dari tragedi kemarin, ada banyak hal yang mesti diperhatikan. Ada kemungkinan skenario lain yang mesti kita waspadai bersama. Demikian juga pihak yang berwajib untuk senantiasa mengevaluasi kerja-kerja deradikalisasi. Musabab gerakan-gerakan ekstrem semakin rapi dalam pengorganisasian. Kemungkinan besar gerakan mereka akan semakin rapi ke depannya dan sulit untuk terdeteksi dengan cepat. Kita dipaksa untuk menghadapi dan mengatasi kemungkinan itu.

Pembaharuan terhadap strategi gerakan untuk menangkal terorisme adalah hal yang niscaya. Mereka juga sudah menggunakan cara-cara baru dan kita mesti melawannya dengan cara baru pula. Sudah bukan waktunya penanggulangan terorisme dengan cara sosialisasi dan menghelat seminar sehari dua hari. Ini benar-benar tidak efektif dan tidak membawa dampak apa-apa. Akhirnya, kita harus mengheningkan cipta sejenak dan berpikir bersama-sama.

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT