Berselancar di Atas Badai Ekonomi Global

ADVERTISEMENT

Kolom

Berselancar di Atas Badai Ekonomi Global

Abdul Munir Sara - detikNews
Rabu, 07 Des 2022 14:00 WIB
Negara Masuk Resesi
Ilustrasi: Mindra Purnomo/tim infografis detikcom
Jakarta -
Dalam pembahasan tentang Rencana Anggaran Tahunan Bank Indonesia 2023, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, pada 2023 ekonomi nasional masih berjibaku dengan resesi global. Ia menyebutnya sebagai "resflasi". Yakni, risiko resesi dan inflasi yang tinggi dan berlangsung lama (high inflation and longer).

Karakteristik inflasi global saat ini disebabkan oleh inflasi harga pangan dan energi, sehingga berbagai mitigasi moneter belum efektif menjinakkan inflasi global. Krisis geopolitik di Eropa Timur menjadi pemicu terganggunya rantai suplai. Dampaknya, pasokan pangan dan energi terganggu dan inflasi sulit dikendalikan, kendati intervensi moneter sudah dilakukan.
Negara ekonomi maju seperti Amerika Serikat (AS) sudah di tubir resesi. Bila kuartal 1 dan 2 - 2023 kinerja PDB AS negatif, maka negara itu jeblok ke dalam jurang resesi. Global supply shock yang terjadi pada pangan dan energi membuat inflasi di AS masih bertengger di 7,7%. Masih jauh dari sasaran The Fed, yakni 2%.

Dengan demikian, The Fed akan tetap agresif dalam menjinakkan inflasi dengan mengerek Fed Fund Rate (FFR). Setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 2 November 2022, FFR dikerek 75 bps menjadi 3,75-4%. Dalam mencapai sasaran inflasi, maka bank sentral AS ini masih tetap agresif menghela suku bunga kebijakan. Konsensus memperkirakan puncak FFR bisa mencapai 5% - 6%.

Seturut dengan kebijakan moneter The Fed yang tetap agresif, tekanan terhadap output di AS pun terjadi. Biaya dana untuk kredit makin mahal, berdampak pada biaya produksi. Pelaku usaha pun akan melakukan efisiensi, mengurangi beban usaha dengan merasionalisasi jumlah tenaga kerja. Jumlah pengangguran meningkat, pertumbuhan output menjadi terbatas atau lambat dan memicu terjadinya resesi.

Inilah yang dinamakan dengan "resflasi" yang akan berdampak pada negara berkembang dan terindikasi melalui empat hal. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang melambat (slowing growth). Perusahaan akan mengurangi beban biaya produksi akibat cost of fund kredit usaha yang mahal akibat melesatnya suku bunga bank sentral. Pertumbuhan kredit menjadi terbatas dan output ekonomi pun mengalami perlambatan dan lebih buruk lagi; kontraksi.

Kedua, inflasi yang tinggi dan berlangsung lama (high inflation and longer). Global supply shock yang terjadi menyebabkan rantai suplai mengalami gangguan dan inflasi terkerek akibat terjadi ketimpangan antara permintaan dan pasokan pangan serta energi. Ketika mobilitas manusia mulai mengalami relaksasi akibat makin melandainya Covid-19 dan konsumsi meningkat, pasokan justru terbatas akibat perang Rusia vs Ukraina dan ancaman perang di beberapa kawasan.

Ketiga, strong US dollar. Indeks dolar AS (DXY) hingga saat ini, bertengger di indeks 107,22. Sangat perkasa. Terkereknya FFR, menyebabkan AS treasury terus mendapat pemanis dan kian diminati investor global. Mata uang greenback terus mendapat amunisi. Dampak terhadap ekonomi global adalah memicu terjadinya imported inflation, akibat biaya impor yang kian mahal akibat apresiasi US dollar terhadap local currency.

Keempat, cash is the game. Ketika gejolak di pasar portfolio belum mereda, maka investor lebih memilih menarik dananya, memegang cash dan diperuntukkan pada investasi di alat likuid yang lebih defence. Akibatnya banjir hengkangnya modal terjadi dan berdampak pada likuiditas di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Bauran Kebijakan

Bauran kebijakan antara BI dan otoritas fiskal selama ini membuat Indonesia lebih imun dari berbagai dampak fluktuasi ekonomi global. APBN yang terus pasang badan sebagai counter cyclical policy membuat makro ekonomi RI relatif lebih lentur dalam menghadapi berbagai benturan global.

Pertumbuhan ekonomi di kuartal 3 - 2022 sebesar 5,72% (y-o-y) menandakan bahwa bauran kebijakan (mixed policy) antara fiskal dan moneter adalah piranti yang ampuh dalam meredam berbagai benturan eksternal. Kehadiran BI dalam mendukung likuiditas pemerintah melalui burden sharing serta terlibat aktif dalam program penanggulangan inflasi pangan nasional adalah bentuk mixed policy tepat.

Sejauh ini APBN tetap berfungsi sebagai shock absorber. Mempertebal bantalan sosial melalui berbagai program bansos. Baik yang sifatnya cash transfer ke 40% kelompok masyarakat dengan pendapatan terbawah maupun dalam bentuk bansos pangan tunai. Inilah yang membuat konsumsi rumah tangga tetap tumbuh di atas 5%, meskipun terkoreksi di kuartal 3 - 2022 akibat dampak kenaikan harga BBM.

Sepanjang kuartal 3 - 2022, 17 sektor PDB mayoritas mencatatkan pertumbuhan positif. Sektor produktif seperti industri, pertanian dan perdagangan, konstruksi dan pertambangan, memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hanya jasa kesehatan yang masih kontraksi, namun terus bergerak ke arah pemulihan.

Dari sisi moneter, nilai tukar rupiah memang mengalami tekanan akibat pergerakan dolar AS yang kian perkasa seiring suku bunga The Fed yang masih agresif. Namun bila dibandingkan dengan nilai tukar negara-negara lain di emerging countries, kurs rupiah relatif masih lebih baik. Setali tiga uang dengan inflasi pada Oktober 2022 yang mencatatkan penurunan 5,7% (y-o-y) dari bula sebelumnya 5,95%.

Dengan pertumbuhan yang masih ekspansi dan inflasi yang relatif masih terjaga, ekonomi Indonesia cukup resilien dan mampu berselancar di tengah badai fluktuasi global yang masih tinggi. Menurut saya, dengan kemampuan melaju di tengah volatilitas global, menggambarkan bahwa bauran kebijakan ekonomi saat ini di jalur yang tepat.

Abdul Munir Sara Tenaga Ahli Anggota DPR Komisi XI

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT