Menjerat Leher Dosen Vokasi

ADVERTISEMENT

Menjerat Leher Dosen Vokasi

Arfanda Siregar - detikNews
Rabu, 07 Des 2022 11:25 WIB
Ilustrasi - Daftar Program Studi di Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali.
Sebuah politeknik pariwisata (Foto ilustrasi: http://ppb.ac.id)
Jakarta -

Betapa gembira dosen vokasi melihat pengumuman yang bersebar di berbagai media sosial maupun situs internet bahwa pada tahun ini Kementerian Pendidikan, Riset dan Teknologi melalui Direktorat Kelembagaan dan Sumber Daya Pendidikan Tinggi Vokasi meluncurkan Program Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) Perguruan Tinggi Vokasi Berbasis Industri Tahun 2022 melalui sertifikasi kompetensi dan magang industri.

Peningkatan Kompetensi SDM Perguruan Tinggi Vokasi melalui sertifikasi kompetensi dan magang bersertifikat diharapkan meningkatkan kompetensi dan wawasan atau pengalaman industri para dosen vokasi. Setelah program selesai, para dosen tersebut diharapkan juga membawa proses pembelajaran berkualitas sehingga turut menciptakan SDM unggul dan kompeten. SDM berkompeten dengan mindset terus berkembang dan berinovasi adalah kunci utama menguatkan sektor industri berdaya saing global.

Sasaran program adalah dosen perguruan tinggi negeri dan swasta yang menyelenggarakan pendidikan vokasi di bawah binaan Kemendikbudristek, yang memenuhi persyaratan sebagaimana yang telah ditetapkan. Pelaksanaan program tersebar di berbagai perguruan tinggi dan lembaga yang berwewenang memberikan sertifikat kompetensi yang dilaksanakan mulai awal Oktober hingga Desember 2022.

Di tengah minimnya peran serta pemerintah membersamai dosen meningkatkan kompetensi, program tersebut bagai setitik air di tengah padang pasir. Tuntutan dunia kerja kepada alumni perguruan tinggi vokasi yang semakin tinggi harus dibarengi peningkatan kompetensi dosen vokasi sebagai tulang punggung pemasok tenaga kerja terampil ke industri.

Kalau ada yang mengatakan dosen Indonesia malas-malas dan tak mau belajar. Fakta itu terbantahkan dengan tingginya animo dosen vokasi mendaftar sebagai peserta program. Beribu dosen vokasi mendaftarkan diri sebagai bukti komitmen kepada profesi dosen. Lebih dari empat ribu pendaftar melamar, namun hanya 744 dosen vokasi yang dinyatakan lolos. Untuk skema luar negeri, terpilih 194 dosen vokasi dari PTN dan PTS yang akan melaksanakan program di 13 perguruan tinggi serta industri di LN. Sedangkan sisanya mengikuti sertifikasi kompetensi berdurasi waktu seminggu dan magang industri selama dua bulan.

Pengorbanan para peserta program yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia tersebut sangat besar. Mereka berangkat dari Sabang hingga Merauke, meninggalkan keluarga demi masa depan generasi bangsa. Pengorbanan mereka tak bisa dibandingkan dengan lembaran rupiah yang didapat. Seorang dosen dari Politeknik Negeri Pak-Pak yang mengikuti sertifikasi kompetensi di Bandung misalnya. Untuk bisa sampai ke Bandung saja, dia harus menggunakan moda transportasi darat, laut, dan udara sekaligus supaya sampai ke tujuan. Dia harus menguras kocek dalam-dalam agar bisa mengikuti pelatihan.

Apalagi fakta bertutur janji pemerintah akan memberikan uang transportasi dan biaya hidup (living cost) sebesar Rp 4.300.000 per bulan kepada peserta magang tak kunjung dicairkan hingga kini. Sebenarnya biaya hidup sebesar itu tak memadai bagi peserta karena mencakup biaya tempat tinggal, transportasi selama pelatihan, dan konsumsi, minim. Sudahlah tak memadai, sampai sekarang belum ada tanda-tanda dari pemerintah kapan biaya hidup dan uang transport cair.

Praktis, semua biaya ditanggung sendiri oleh peserta program. Bahkan peserta sertifikasi kompetensi yang sudah menyelesaikan pelatihan pun hingga kini tak kunjung mendapat kepastian kapan uang mereka diganti. Padahal mereka meninggalkan keluarga dan tanah kelahiran bukan sebentar, dua bulan. Mereka berangkat dari kota asal menggunakan uang pribadi dan membiayai sendiri kebutuhan selama magang.

Anda bisa bayangkan dosen di Indonesia yang berpendapatan pas-pasan harus menanggung seluruh biaya transportasi, penginapan, konsumsi, dan lain-lain. Bagaimana pula dengan dosen swasta yang sebagian besar pendapatannya masih jauh dari dosen PNS. Pastilah mereka kalang kabut dengan keterlambatan tersebut. Dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada program ini pun tidak jaminan dana pengembangan profesi dosen lebih besar dan mudah cair.

Cobalah bandingkan dengan pelatihan para pegawai instansi plat merah lain dan BUMN. Bukan saja uang transportasi dan biaya hidup mereka jauh melampaui para dosen. Mereka pun tinggal di tempat yang representatif, seperti hotel dan villa ketika mengikuti pelatihan. Sudah bukan rahasia umum banyak instansi menjelang penutup akhir tahun menghabiskan sisa dana untuk berbagai pelatihan yang tidak begitu penting.

Pemerintah harus menyadari bahwa pendapatan dosen di Indonesia masih jauh dari harapan. Membandingkan pendapatan dosen dengan pegawai plat merah lain, apalagi dengan pegawai BUMN bagai jauh panggang dari api. Dosen PNS yang golongan III D dengan masa kerja 20 tahun bergaji Rp 4.700.000 ditambah dengan sertifikasi sekitar Rp 3.400.000. Itulah pendapatan dosen di Indonesia. Pendapatan itu sudah mencakup semuanya, termasuk penelitian, pengabdian masyarakat, menulis artikel ilmiah ke jurnal nasional dan internasional yang membutuhkan biaya besar.

Pemerintah harus menyadari bahwa profesi dosen bukan mentereng, sehingga perlu segera mengalirkan hak dosen pada program sertifikasi kompetensi dan magang bersertifikat dosen vokasi. Keterlambatan membayarkan hak mereka sama saja menjerat leher dosen vokasi secara perlahan-lahan. Kegembiraan dosen vokasi meningkatkan kompetensi dan kapasitas diri demi kemajuan dunia industri negeri ini bisa menjadi kesedihan.

Ayo, Pak Nadiem Makarim...buat dosen vokasi bergembira demi pendidikan vokasi lebih berkualitas dan berkompeten!

Dr. Arfanda Siregar, M.SI dosen Politeknik Negeri Medan, doktor Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (Vokasi), perserta Program Sertifikasi komptensi dan Magang Industri Bersertifikat Dosen Vokasi

Simak juga 'Jokowi Yakin Jerman Dapat Perkuat SDM Indonesia Lewat Pendidikan Vokasi':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT