Bagaimana Agar Tak Tergoda Belanja Lagi dan Lagi

ADVERTISEMENT

Jeda

Bagaimana Agar Tak Tergoda Belanja Lagi dan Lagi

Ecka Pramita - detikNews
Sabtu, 03 Des 2022 10:08 WIB
ecka
Ecka Pramita (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Kita membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan untuk membuat orang di sekitar kita terkesan. ~ Tyler Durden dalam film Fight Club

Pernahkah beli baju warna hitam lalu tergoda beli kerudung dan aksesori yang matching? Atau, beli perlengkapan makan berupa piring dan gelas lalu tertarik menambah taplak meja yang lebih pantas? Suka beli mainan atau koleksi barang tertentu, lalu ingin juga lemari rak agar terlihat lebih rapi? Penyuka make up ternyata saat beli lipstik tidak cukup hanya satu warna? Dan, sejenisnya. Jika pernah, selamat datang di Diderot Club!

Hampir sebagian dari kita bisa jadi pernah mengalami momen di atas. Terlebih belanja masa kini semakin dimudahkan saja; penyedia jasa belanja seolah sangat memahami kondisi kita. Kita tak melulu bayar cash saat itu juga kalau sedang tak pegang uang. Berbagai kemudahan mulai dari fasilitas bayar nanti atau later hingga aplikasi kredit semakin menjamur. Semua menawarkan iming-iming seraya memanggil kita untuk belanja lagi dan lagi, bagaimana tidak tergiur coba, sudah harga diskon ditambah free ongkos kirim.

Sayangnya, hasrat belanja ternyata tak cukup hanya sekali, beberapa orang cenderung ingin membeli barang lebih dari yang dibutuhkan. Betapa keinginan dan kebutuhan kian tipis perbedaannya. Sampai pada akhirnya yang tersisa hanya penyesalan diiringi saldo yang tinggal kenangan alias tanpa sisa.

Efek Diderot

Filsuf Prancis terkenal Denis Diderot menjalani hampir seluruh hidupnya dalam kemiskinan, tetapi semuanya berubah pada tahun 1765. Saat itu Diderot berusia 52 tahun dan putrinya akan segera menikah, tetapi dia tidak mampu memberikan mahar. Terlepas dari kekurangan kekayaannya, nama Diderot terkenal karena dia adalah salah satu pendiri dan penulis Encyclopédie, salah satu ensiklopedia paling komprehensif saat itu.

Ketika Catherine yang Agung, Permaisuri Rusia, mendengar tentang masalah keuangan Diderot, dia menawarkan untuk membeli perpustakaannya dari dia seharga £1000 GBP, yaitu sekitar $50.000 USD pada dolar tahun 2015 atau sekitar 700 juta untuk kurs tahun 2022.

Tak lama setelah transaksi, Diderot memperoleh jubah merah baru. Saat itulah semuanya berubah. Jubah merah tua Diderot sangat indah. Begitu indah, bahkan, sehingga dia segera menyadari betapa tidak pada tempatnya ketika dikelilingi oleh barang-barang miliknya yang lain, filsuf itu segera merasakan dorongan untuk membeli beberapa barang baru agar sesuai dengan keindahan jubahnya. Bahasa masa kininya matching.

Dia mengganti permadani lamanya dengan yang baru dari Damaskus. Kemudian mendekorasi rumahnya dengan patung-patung indah dan meja dapur yang lebih baik. Dia membeli cermin baru untuk ditempatkan di atas mantel dan kursi jeraminya diganti dengan kursi kulit. Bisa ditebak akhirnya, ia pun kembali merana karena tak bijak mengelola dana yang masuk.

Pembelian reaktif ini akhirnya dikenal sebagai Efek Diderot dan rentan bergeser menjadi gaya hidup baru jika kita tidak segera aware menyadarinya . Efek Diderot menyatakan bahwa memperoleh kepemilikan baru sering kali menciptakan spiral konsumsi yang mengarahkan kita untuk belanja lagi dan lagi. Akibatnya, kita akhirnya membeli barang-barang yang sebelumnya tidak pernah kita butuhkan untuk merasa bahagia atau puas. Benarkah kita benar-benar puas?

Coba Mengurangi

Tapi, mana bisa sama sekali tidak belanja? Loh, siapa yang bilang untuk sama sekali tidak belanja; hanya coba mengurangi kok. Memang susah, tetapi bagaimana kalau dicoba belanja lebih berkesadaran atau yang memang benar-benar sesuai dengan yang kita butuhkan.

Berpijak dari pengalaman saya yang pernah menjadi anggota klub Diderot ternyata perlahan-lahan bisa kok kita keluar tanpa mengurangi keasyikan belanja. Pertama, memulainya dengan menghindari pemicu kebiasaan, sesederhana selalu dapat surat elektronik atau WhatsApp yang berisi informasi diskon dari e-commerce langganan. Bila perlu kurangi install e-commerce dan beralih pada perangkat browser jika ingin belanja via marketplace.

Kedua, hindari bertemu teman di mall; nah, yang ini mungkin cenderung susah karena rata-rata mall sering jadi tempat pertemuan. Namun, saat ini di beberapa kota sudah memiliki taman atau bahkan street food yang bisa dipakai sebagai alternatif bertemu teman. Bukan apa-apa, sudah banyak contoh belanja lagi dan lagi tak direncanakan saat janjian sama teman di mall.

Ketiga, membeli barang yang sesuai dengan kebutuhan; tidak harus memulai dari awal setiap kali membeli sesuatu yang baru. Misal ketika membeli pakaian, tidak harus membeli celana atau aksesorinya karena di rumah masih banyak yang bagus dan bisa dipakai. Juga bisa melakukan padu padan agar barang lama tampak baru lagi. Asyik kan!

Keempat, membeli satu diiring melepas satu. Setiap kali membeli barang baru, seleksi dan berikan barang lama ke orang lain atau bisa juga disumbangkan. Tujuannya untuk mencegah jumlah barang di rumah kian bertambah. Pastikan barang-barang yang masuk ke rumah memberi kegembiraan dan kebahagiaan, bukan kenangan semata.

Kelima, cobalah selama satu bulan tanpa membeli sesuatu yang baru. Jangan biarkan membeli barang baru (yang bukan kebutuhan pokok) selama satu bulan. Alih-alih membeli baju adat untuk acara sekolah anak-anak misalnya, sewalah dari salon dengan harga yang lebih terjangkau dan pastinya tidak menumpuk.

Keenam, kalau tidak masalah memakai busana preloved, bisa belanja baju "baru" dari toko barang bekas atau istilah yang sedang tren ialah thrif shop, bukan dari department store. Pastikan kondisi busana dalam keadaan bersih, nyaman dipakai, dan tentu saja tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam.

Terkadang kita perlu menyadari jika keinginan hanyalah sebuah pilihan yang diberikan oleh pikiran, bukan perintah yang harus melulu diikuti. Bagaimana, masih mau jadi anggota klub Diderot atau ingin belajar lebih berkesadaran saat belanja?

Ecka Pramita penyuka isu gaya hidup, member komunitas Nulis Aja Dulu

Simak juga 'Jokowi Kaget Ada Daerah yang Tak Belanja Produk dalam Negeri':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT