Penuaan Penduduk dan Fenomena Lansia Tinggal Sendiri

ADVERTISEMENT

Kolom

Penuaan Penduduk dan Fenomena Lansia Tinggal Sendiri

Florentz Magdalena - detikNews
Jumat, 02 Des 2022 14:28 WIB
Ilustrasi lansia kesepian
Lansia kesepian (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto)
Jakarta -
Penuaan penduduk menjadi salah satu isu kependudukan yang penting saat ini. Angka fertilitas yang menurun dan angka harapan hidup yang meningkat membuat struktur penduduk telah berubah menuju penuaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hasil Sensus Penduduk 2020 menunjukkan terdapat 9,93 persen penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia. Angka ini meningkat 2,34 persen poin dalam satu dasawarsa terakhir.

Meningkatnya penduduk lansia membawa konsekuensi tersendiri terhadap pembangunan nasional. Di satu sisi, menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menjalankan program-program di sektor kesehatan. Namun, di sisi lain menciptakan tantangan baik di sektor kesehatan, sosial, ekonomi maupun lingkungan.

Melalui Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, pemerintah berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial lanjut usia. Sebagai penduduk yang berumur 60 tahun ke atas, lansia memiliki keterbatasan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Pada usia tersebut, fungsi biologis dan fisiologis tubuh semakin menurun sehingga menjadi rentan terhadap penyakit.

Secara psikologis, semakin panjang umur seseorang, ia juga akan mudah lupa, mengalami rasa kesepian dan kebosanan. Keadaan tersebut menyebabkan lansia membutuhkan dukungan orang sekitarnya, seperti keluarga ataupun orang sekitarnya. Namun, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2021 yang dilakukan oleh BPS menyebutkan terdapat 9,99 persen lansia yang tinggal sendiri.

Dapat diartikan satu dari 10 penduduk lansia tinggal seorang diri. Perubahan sosial di masyarakat, misalnya kecenderungan perubahan struktur keluarga dari keluarga besar (extended family) ke keluarga inti (nuclear family) menjadi salah satu penyebab perubahan terhadap lansia. Sebelumnya mereka tinggal bersama dalam satu rumah dengan anggota keluarga lainnya, namun sekarang lansia tinggal terpisah dengan anak-anak mereka.

Jika dilihat menurut wilayah tempat tinggal, persentase lansia yang tinggal sendiri di wilayah perkotaan lebih rendah jika dibandingkan di wilayah perdesaan. Pola yang sama terjadi setiap tahunnya. Hal ini dapat diakibatkan wilayah perkotaan yang menjadi daya tarik untuk mencari nafkah mendorong penduduk produktif meninggalkan lansia di wilayah perdesaan. Atau dapat juga disebabkan penduduk lansia yang sudah tidak bekerja lagi kebanyakan ke kampung halamannya untuk menikmati masa pensiunnya.

Jika dilihat menurut jenis kelamin, persentase lansia perempuan yang tinggal sendiri lebih tinggi jika dibandingkan lansia laki-laki. Pada 2021, lansia laki-laki yang tinggal sendiri sebesar 4,74 persen. Sementara lansia perempuan yang tinggal sendiri hampir mencapai 4 kali lipatnya, yaitu 14,78 persen. Keadaan tersebut dapat disebabkan oleh usia harapan hidup perempuan yang lebih panjang dibandingkan laki-laki sehingga peluangnya untuk hidup sendiri lebih besar daripada lansia laki-laki. Kondisi ini menjadi keterpaksaan yang tidak dapat dihindari.

Konsekuensi Permasalahan

Lansia yang tinggal sendiri bisa karena keputusannya sendiri ataupun keterpaksaan. Lansia tinggal sendiri bisa jadi dikarenakan mereka ingin bebas beraktivitas dan menjadi mandiri. Sebaliknya, lansia tinggal sendiri juga membawa konsekuensi permasalahan seperti masalah kesepian, masalah penghasilan, ketakutan menjadi korban kejahatan serta masalah dukungan sosial (Subekti, 2017).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lansia yang tinggal sendiri digambarkan sebagai kelompok yang berisiko dan membutuhkan perhatian khusus, bahkan dapat meningkatkan depresi dan keterasingan sosial serta kekurangan ekonomi, yang pada akhirnya akan menurunkan kesejahteraan dan kualitas hidup (Meemon & Paek, 2020).

Fenomena lansia yang tinggal sendiri dapat menjadi semacam alarm bagi pemerintah untuk menghadapi berbagai persoalan akibat adanya penuaan penduduk. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya prevalensi kesepian dan keterasingan sosial di antara penduduk lansia. Selain berdampak buruk pada kesejahteraan sosial, kesepian dan keterasingan sosial juga berdampak pada kesehatan fisik dan mental yang buruk (Suzuki, Dollery, dan Kortt, 2021).

Pemerintah harus hadir melakukan intervensi dan menyusun berbagai instrumen kebijakan yang kuat. Belajar dari Jepang, sebagai negara maju dengan persentase penduduk lansia yang besar, juga mengalami berbagai masalah akibat banyaknya lansia yang tinggal sendiri, di antaranya meninggal sendiri dan baru ditemukan beberapa hari setelahnya.

Dengan mengusung kebijakan membangun komunitas, disediakan sarana bagi masyarakat lokal untuk saling mendukung satu sama lain. Sehingga penduduk lansia yang telah pensiun dari pekerjaan memiliki wadah untuk berinteraksi dengan komunitas lokal tersebut (Katsuhito, 2016). Tinggal bersama dapat memberikan rasa aman, nyaman, dan jaminan perawatan ketika lansia membutuhkan pendampingan. Selain itu, sistem jaminan sosial juga dimaksimalkan fungsinya dengan menjangkau seluruh lansia.

Florentz Magdalena BPS Provinsi Sulawesi Utara

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT