Menuju Pemenuhan Hak Asasi Manusia ODHA yang Makin Baik

ADVERTISEMENT

Kolom

Menuju Pemenuhan Hak Asasi Manusia ODHA yang Makin Baik

Noerolandra Dwi S - detikNews
Kamis, 01 Des 2022 14:30 WIB
Hari AIDS Sedunia 1 Desember diperingati setiap tahun. Peringatan internasional ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit HIV/AIDS.
"Equalize" menjadi tema Hari AIDS Sedunia 2022 (Foto: WHO)
Jakarta -

ODHA adalah orang dengan HIV/AIDS. Yaitu mereka yang tubuhnya positif mengandung virus HIV, atau yang telah jatuh dalam AIDS sebagai fase lanjut penyakit. Dengan demikian ODHA merupakan penderita penyakit dan dapat menularkan virus HIV ke lingkungannya. Mereka memerlukan pelayanan kesehatan, konseling, pendampingan, dan akses obat selama hidupnya. Tanpa semua itu ODHA tidak akan dapat bertahan dengan angka mortalitas yang cukup besar.

Penularan HIV dalam masyarakat semakin mudah dan dekat lingkungan kita. Hal ini dengan melihat potensi kontak seksual dan peredaran narkoba yang sulit diberantas. Perkembangan kemajuan yang terjadi membuat pergaulan bebas, hubungan prostitusi, komunitas pengguna narkoba merajalela. Akibatnya laju kenaikan jumlah ODHA tak dapat dihentikan. Banyak penderita ODHA karena gaya hidup yang tidak sehat.

Stigma dan diskriminasi sudah berlangsung lama. Stigma terjadi karena ODHA dipandang kotor, tidak ada harapan hidup, gampang menular, dan tidak ada obatnya. Sedang diskriminasi terjadi sebagai dampak stigma yang merupakan perilaku tidak adil dan membatasi kehidupan ODHA. Kejadian penderita ODHA diminta pindah rumah, keluar dari pekerjaan, ditolak sekolah, tidak dilayani puskesmas, dijauhi tetangga, terjadinya kekerasan dan penganiayaan, untuk menyebut beberapa diskriminasi yang terjadi.

Perjuangan

Perpecahan, perbedaan, dan pengabaian hak asasi manusia ODHA membuat penyakit HIV/AIDS menjadi krisis kesehatan global. Yang terjadi adalah akses pada kebutuhan fundamental kehidupan yang terhambat. ODHA menyembunyikan diri dalam kepalsuan dan selalu cemas terhadap keterbukaan. Jalan untuk layanan kesehatan jadi sempit dan stadium penyakit tambah berat. Stigma yang mendorong ketidakadilan pada ODHA terjadi begitu saja dan upaya untuk memperbaiki keadaan hilang ditelan waktu.

Keterbukaan ODHA menjadi cerita pilu yang berkepanjangan. Sebuah kecamatan di Jawa Timur yang membangun komunitas ODHA harus melaksanakan kegiatan pada malam hari, bergelap-gelap, dengan senyap, dan lokasi tersembunyi. Petugas kecamatan dan puskesmas berpakaian preman, berusaha menghindari pandangan yang lain, dan berjalan tanpa suara. Para ODHA sungguh terkungkung dalam lingkungan sendiri yang tersembunyi.

Di tempat yang lain, tiap bertemu petugas kesehatan seorang ODHA mencurahkan penderitaannya dan menangis. Dia tidak melakukan apapun, tapi dia tertular dari suaminya. Dia merasa menanggung dosa perbuatan suaminya. Ketika suaminya meninggal, dia kembali ke kampung halaman, ke rumah orangtuanya. Lingkungan menerima dengan negatif, meski orangtuanya membentengi bahwa anaknya tidak bersalah dan mendapat penyakit dari suaminya yang bermain di luar rumah.

Ketika fasyankes terdekat (puskesmas/rumah sakit) sudah menyediakan akses perawatan dukungan pengobatan (PDP), ODHA pun memilih fasyankes yang jauh dari domisili. Padahal layanan PDP untuk mendekatkan akses, yang meliputi pemeriksaan tes HIV, konseling VCT, dan pengobatan anti retro viral (ARV). Sementara stigma di kalangan nakes dan pemerintah juga hambatan yang tak mudah. Akibatnya ODHA berobat tidak teratur yang dapat memperberat komplikasi yang terjadi.

Implementasi kebijakan baik berupa regulasi, strategi, dan target yang ditetapkan Kemenkes memerlukan tekat dan perjuangan tak kenal Lelah. Semua regulasi tentang HIV/AIDS bertujuan meniadakan diskriminasi, meningkatkan kualitas hidup ODHA, serta mengurangi dampak sosial ekonomi penyakit HIV/AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat. Setelah tiga dekade komitmen pencegahan HIV/AIDS di Indonesia, perpecahan, perbedaan, dan pengabaian hak asasi manusia ODHA masih menjadi pekerjaan rumah yang berat dalam eliminasi HIV/AIDS.

Tidak hanya pemerintah, masyarakat secara umum terlibat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit HIV/AIDS. Mencegah stigma dan diskriminasi salah satu peran pentingnya. Sehingga ODHA, keluarga, dan komunitas populasi kunci memiliki kesetaraan dalam kehidupan. Artinya hak asasi manusia ODHA dapat terjamin dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelayanan pengobatan.

Hak Asasi Manusia

Pada Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2022, WHO mengangkat tema "Equalize", "menyamakan" untuk mengatasi ketidaksetaraan yang menjadi hambatan dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit HIV/AIDS. Sebagai penyakit dengan stigma tinggi dan menghantui, tema tersebut aktual dengan yang terjadi. Perlu dijamin ODHA mendapatkan akses sosial, ekonomi, budaya, dan pelayanan yang selama ini terhalang karena statusnya.

Barangkali bukan komitmen yang diperbarui, tetapi konsistensi dalam melaksanakan peran dan tanggung jawab yang terus ditingkatkan. Kedalaman keterlibatan masyarakat secara aktif memecahkan persoalan yang terjadi perlu didukung, difasilitasi, diawasi, dan dibina bersama. Banyak yang direncanakan belum terimplementasikan dengan baik sesuai strategi, target, dan sasaran. Yang menjadi standar adalah terjaminnya hak asasi manusia ODHA sebagaimana anggota masyarakat lainnya yang hidup berdampingan. Hal fundamental inilah yang ingin didorong dalam momentum Hari AIDS Sedunia tahun ini sehingga para ODHA mendapatkan akses dan kesempatan yang adil.

Jumlah penderita HIV Indonesia mencapai 519 ribu dengan faktor risiko penularan seksual sejumlah 28,1 persen (Juni, 2022). Jumlah yang terus merangkak naik dibandingkan tahun sebelumnya yang harus diwaspadai. Menghadapi kondisi ini kiranya keterbukaan dan akses pada ODHA harus didukung dan difasilitasi di tengah masyarakat. Stigma dan diskriminasi dicegah dan hak asasi manusia ODHA harus dipenuhi oleh individu, keluarga, masyarakat, dan negara.

Masih banyak target-target yang ditetapkan pemerintah (kemenkes) dalam penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS menghadapi kendala dalam pencapaian dan implementasinya. Target eliminasi HIV/AIDS pada 2030 adalah 95-95-95, yaitu 95% ODHA mengetahui statusnya, 95% ODHA berobat ARV, dan 95% yang berobat mengalami penurunan viral load. Kondisi sekarang 75% ODHA tahu statusnya, 39,6% ODHA berobat ARV, dan 32,4 % ODHA berobat menurun viral load-nya.

Hari AIDS Sedunia 2022 menjadi momentum untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang masih banyak. Pemenuhan hak asasi manusia ODHA yang lebih baik menjadi jalan terbukanya akses pelayanan dan kepatuhan pengobatan ODHA. Tidak bisa tidak dukungan, fasilitasi, pengawasan, dan pembinaan dari segenap potensi negara sangat menentukan dalam pemenuhannya hak fundamental ODHA. Yaitu pemerintah (pemda), kemenkes, tenaga kesehatan, dan stakeholder yang tidak lagi stigma dan diskriminasi dalam implementasinya.

Noerolandra Dwi S Surveior FKTP Kemenkes, alumnus magister manajemen pelayanan kesehatan Unair

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT