"Go Nuklir" atau Siap Menggunakan Energi Nuklir?

ADVERTISEMENT

Kolom

"Go Nuklir" atau Siap Menggunakan Energi Nuklir?

Isroil Samihardjo - detikNews
Kamis, 01 Des 2022 10:17 WIB
ismail samihardjo
Dr. Isroil Samihardjo (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Istilah 'Go Nuklir' saat ini kian menyeruak bahkan beberapa kalangan mengusulkan agar menjadi salah satu rekomendasi KTT G20 di Bali beberapa waktu lalu. Bagi saya pribadi, tidak munculnya rekomendasi Go Nuklir dari KTT G20 di Bali adalah sangat tepat bahkan sebaiknya Presiden tidak perlu mengeluarkan pernyataan hal semacam itu kapan pun juga karena sejatinya Indonesia sudah Go Nuklir sejak tahun 1950-an.

Indonesia saat ini memiliki tiga reaktor nuklir, yaitu Reaktor TRIGA Mark II di Bandung yang dibangun pada 1961, Reaktor Nuklir Kartini di Jogjakarta (1974), dan Reaktor GA Siwabessy di Serpong (1983). Ketiga reaktor nuklir tersebut hingga saat ini masih berfungsi sangat baik, dan Reaktor Serpong adalah merupakan reaktor nuklir terbesar di Asia Tenggara.

Mengembangkan dan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia adalah suatu keniscayaan, tetapi membuat pernyataan "go nuklir" adalah kurang tepat bahkan akan kontraproduktif dengan upaya pembangunan reaktor itu sendiri. Mengapa?

Pertama, "go nuklir" itu dapat dimaknai juga akan mengembangkan senjata nuklir padahal sudah ada Traktat Non Proliferasi atau NPT (Non Proliferation Treaty) bahwa tidak ada satu pun negara yang boleh mengembangkan senjata nuklir. Traktat itu ditandatangani pada 1968 dan mulai berlaku (entry into force) pada 1970. Indonesia telah meratifikasinya pada 1979. Saat ini ada 191 negara pihak pada traktat tersebut.

Kedua, senjata-senjata pemusnah massal (weapons of mass destruction) yang terdiri dari senjata nuklir, biologi, dan kimia itu semuanya bersifat dual use. Di satu sisi dapat digunakan untuk kesejahteraan (peaceful uses), tapi di sisi lain dapat digunakan untuk permusuhan (hostile purposes).

Benar bahwa istilah "go nuklir" dimaksudkan untuk "go energi nuklir", namun karena sifat dual use itu dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak yang akan mengambil keuntungan dengan menafsirkannya sebagai niat akan mengembangkan senjata nuklir seperti halnya kasus Iran.

Negara para mullah tersebut baru mengembangkan pengayaan Uranium untuk keperluan energi (saat itu masih jauh di bawah weapon grade) sudah dituduh akan mengembangkan senjata nuklir karena sebelumnya sudah dicap sebagai "negara iblis" sebagaimana dinyatakan oleh mendiang Presiden AS George W Bush pada 29 Januari 2002. Kala itu dia menyebut bahwa Iran, Irak, dan Korea Utara adalah poros setan (axis of evil).

Bandingkan dengan Pakistan, India, dan Israel yang sudah nyata-nyata memiliki hulu ledak nuklir (nuclear warhead) tapi tidak dipermasalahkan hanya karena mereka tidak digolongkan sebagai "poros setan". Padahal Pakistan, India, dan Israel masing-masing memiliki 165, 160 dan 90 hulu ledak nuklir. Ironisnya ketiga negara tersebut tidak menandatangani NPT (non-signatory) dan di sisi lain Iran telah meratifikasi NPT.

Dengan munculnya konflik Rusia-Ukraina tentunya istilah "go nuklir" akan menjadi isu yang sangat sensitif apalagi Indonesia harus berdiri di tengah antara negara-negara NATO dan Non NATO. Posisi non-alignment tersebut akan dapat terganggu oleh munculnya pernyataan "go nuklir". Oleh karena itu sebaiknya pemerintah tidak perlu menyatakan "go nuklir" kapan pun juga.

Saya berpendapat, istilah "siap menggunakan energi nuklir" akan lebih bijaksana karena sejatinya Indonesia telah siap dan mampu mengembangkan pembangkit listrik bersumber dari nuklir khususnya dari sisi sumber daya manusianya.

Dr. Isroil Samihardjo, M. Def Stud anggota delegasi Indonesia pada sidang-sidang perlucutan senjata di PBB 1991-2007

Simak juga 'Agenda Rusia 2023: Fokus Pembangunan Infrastruktur Nuklir!':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT