Polemik Hedonisme Mahasiswa Bidikmisi

ADVERTISEMENT

Mimbar Mahasiswa

Polemik Hedonisme Mahasiswa Bidikmisi

Frisya Putri Aulia - detikNews
Rabu, 30 Nov 2022 14:00 WIB
POLEMIK HEDONISME MAHASISWA BIDIKMISI
Ilustrasi: dok. pribadi
Jakarta -
Bidikmisi merupakan Program Bantuan Biaya Pendidikan bagi calon mahasiswa yang dikeluarkan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sejak 2010. Tujuannya memberikan bantuan biaya kepada peserta didik yang kurang mampu secara ekonomi dan berpotensi baik secara akademi untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Bantuan tersebut diberikan kepada calon mahasiswa diploma (selama 6 semester) maupun sarjana (selama 8 semester) berupa biaya uang pangkal, SPP (UKT), dan uang saku setiap 6 bulan sekali. Karena menargetkan mahasiswa yang kurang mampu, maka pendaftar diwajibkan memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP), penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH), atau sejenisnya. Persyaratan ini juga didukung dengan persyaratan lainnya, yaitu memiliki potensi akademik yang baik dibuktikan dengan surat rekomendasi dari kepala sekolah (SMA/K), usia maksimal 21 tahun, dan lain sebagainya.

Gaya Hedonis

Akhir-akhir ini menjadi pembicaraan hangat maraknya gaya hedonis mahasiswa penerima Beasiswa Bidikmisi. Pertama, adanya mahasiswa bidikmisi memilik gadget yang memadai dibandingkan mahasiswa regular, gaya hidup yang terkesan foya-foya dengan seringnya jalan-jalan (hang-out) bersama temannya, menonton konser lokal maupun konser K-Pop, dan memenuhi kebutuhan tersier lainnya.

Selain itu, menurut orang di sekitar (teman) penerima manfaat beasiswa bidikmisi merasakan perbedaan sikap jika sudah membahas biaya semesteran (UKT). Ada beberapa oknum mahasiswa mengeluh karena masalah beratnya pembayaran UKT, walaupun pembayaran tersebut sudah ditanggung sepenuhnya oleh bidikmisi. Sedangkan, sikap tersebut akan berubah saat mereka mendapatkan uang saku; gaya hedonisme mereka akan muncul dan membuat orang di sekitarnya bertanya-tanya, apakah dia layak mendapatkan beasiswa yang harusnya diberikan kepada mahasiswa yang kurang mampu.

Tetapi, menurut beberapa sumber dari penerima Beasiswa Bidikmisi lainnya, ada beberapa dari mereka yang juga bekerja sampingan. Mereka menyisihkan uang saku dan uang hasil kerja untuk memenuhi kebutuhan tersier mereka sebagai reward pada diri sendiri, karena sudah mencapai hasil yang diinginkan.

Survei Ulang

Dari banyaknya polemik yang terjadi, sebenarnya hal tersebut memiliki beberapa solusi yang bisa diterapkan agar penerima manfaat Beasiswa Bidikmisi terhindar dari perilaku hedonisme. Pihak pemerintah sebaiknya melakukan survei ulang kembali terhadap penduduk yang menerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) atau sejenisnya, apakah mereka masih berhak menerima bantuan.

Di sisi lain, pihak universitas juga memiliki kewajiban untuk melakukan survei terhadap calon mahasiswa bidikmisi baru, apakah sudah memenuhi syarat secara nyata tanpa rekayasa sebagai calon penerima manfaat Beasiswa Bidikmisi.

Penerima beasiswa sebisa mungkin menempatkan dirinya pada posisi yang tepat. Di mana manajemen keuangan, manajemen waktu, dan manajemen diri sendiri merupakan faktor penting image branding yang baik sebagai mahasiswa bidikmisi. Selain itu, skala prioritas juga tetap diterapkan dengan tidak menghiraukan kebahagiaan diri agar gaya hedonisme dan asumsi buruk mengenai mahasiwa bidikmisi tidak lagi menjadi polemik.

Frisya Putri Aulia mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT