Sahabat Masa Depan

ADVERTISEMENT

Sahabat Masa Depan

Iwan Yahya - detikNews
Rabu, 30 Nov 2022 11:27 WIB
Kolomnis Iwan Yahya
Foto: Iwan Yahya (dok. iARG)
Jakarta -

Zulkarnain adalah sosok yang tidak memilih diam. Selalu dipenuhi energi untuk berbagi kreativitas. Dia memiliki akun di kanal Youtube sebagai penopang ikhtiar literasi dalam posisinya sebagai pengajar sebuah SMK di Sumbawa Besar, NTB. Saya membaca pancaran semangat pada setiap jejaknya di grup WhatsApp yang saya ikuti.

Di momen perayaan hari guru dia memajang sebuah bingkisan berupa batik disertai ucapan; bukan soal harganya. Tersirat bahagia karena merasa diapresiasi.

Di momen lain, sahabat masa kuliah saya, mas Nurwahyudi Agustiawan seorang guru senior di Ngawi berkirim foto dengan caption berbunyi: wujud kebanggaanku sebagai guru. Senyumnya menyemburatkan ekspresi bahagia yang teduh. Saya menatapnya dalam takjub. Pada perayaan hari guru ia bersama beberapa sejawatnya melepas buku berisi memoar para guru. Penjejak sederhana yang mengusung kisah bakti lebih dari tiga puluh tahun yang pasti sangat tak sederhana. Kerlip tipak yang akan terbawa hingga ke masa depan.

Tentu terdapat ribuan bahkan jutaan Zulkarnain dan Nurwahyudi lain di negeri ini. Saya sendiri terlahir dari keluarga para guru. Keadaan yang membuat saya mengetahui bahwa mereka, sosok guru itu, adalah jiwa yang berkesanggupan merajut bahagia dalam kesederhanaan. Meski berhidmat di medan bakti yang tak sederhana.

Penuh cinta dan memilih menceburkan diri sebagai dian penyampai bulir hikmah.

Sahabat Masa Depan

Hikmah proses literasi itu berkawan masa depan karena memang selalu datang kemudian. Itu sebabnya kita selalu memerlukan masa dan lebih banyak energi serta kelapangan hati untuk mengapresiasi sebuah pencapaian pembelajaran. Kita lebih mudah untuk memahami keadaan dan peristiwa dengan parameter bernilai kini dan di sini. Budaya modern bermobilitas tinggi sepertinya telah menggeser cara pandang dan membuat masyarakat lebih nyaman menilai sesuatu dari sudut pandang praktis dan pragmatis.

Ibarat memandang buah yang ranum. Lebih nyaman bagi kita untuk berfokus pada rasa manisnya dari pada memberi ruang di batang nalar untuk memikirkan pohonnya yang membutuhkan masa berpuluh tahun untuk menjulang. Begitu pula dengan akar-akarnya yang menghujam jauh tersembunyi dalam sunyi perut bumi. Bisa jadi tak pernah terserntuh dalam jejak pertimbangan.

Cara kita mengapresiasi guru juga kurang lebih demikian. Maka wajar jika muncul konotasi bahwa guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Seolah merupakan keniscayaan bahwa guru itu adalah sejatinya kaum dengan kepatutan berkorban. Meski kita tentu dapat bersepakat bahwa kalimat itu mengusung bentuk penghormatan dan rasa terima kasih tiada tara. Namun mari pikirkan lagi apakah memang sungguh cukup demikian?

Kepahlawanan laksana benih yang membawa DNA pembebasan. DNA itu pula yang mencirikan setiap sendi dedikasi dan pejuangan guru sejati. Dian penghapus gulita yang buahnya terpetik dalam wujud benderang di masa depan.

Heroisme, apa pun bentuknya, tidak sedikit pun bertaut dan apalagi meributkan tanda jasa. Kepahlawanan itu adalah soal qulbu yang menuntun budi untuk beresonansi, menuntun indera kepada keterpanggilan. Seperti nyali yang memupus ketakutan.

Adapun mengapresiasinya adalah hal berbeda karena sangat berkait dengan kekuatan akal budi dan cara pandang pihak lain yang menakarnya. Seperti ketersediaan daya untuk memberi ruang rasa hormat atas sumbangan akar dan batang menjulang pohon yang mempersembahkan buah dan keteduhan.

Artinya, mengurai dan meninterpretasi kesejatian yang secara kodrati melekat dan menjadi penciri sesuatu secara subyektif pada dasarnya dapat terjadi namun tidak akan mengubah kesejatian itu sendiri. Maka saya memandang bahwa menghadirkan perspektif baru dapat menjadi cara yang lebih bijaksana untuk menumbuhkan ruang empati serta apresiasi yang lebih besar dan elok terhadap sesuatu itu. Saya meyakini bahwa prinsip yang sama dapat berlaku dalam cara kita menghormati kesejatian dan sosok para guru.

Jejak kepahlawanan yang meretas belenggu merupakan sesuatu yang tak terbantahkan dalam spirit kodrati guru sejati. Menyebutnya atau tidak niscaya tak akan mengubah kemilaunya. Nun kemauan baik menyematkan kesadaran dan atribut pandangan berbeda dapat menjadi tambahan kawalan bermakna. Karena alasan itu saya ingin mengekspresikannya dengan ungkapan guru sebagai sang sahabat masa depan.

Menggeser Makna Kehadiran

Memposisikan guru sebagai sosok sahabat masa depan elok menjadi keniscayaan. Bukan sekedar untuk menepis riak nakal di batang nalar yang menimpakan kegagalan berapresiasi di masa kini, bahkan terhadap profesi guru itu sendiri, sebagai lubang literasi masa silam. Ada pihak yang berpegang pada pandangan bahwa setiap peserta didik akan bertumbuh dengan pemahaman sebagai dampak dari pembelajaran masa lampau. Ujung nalar seperti ini tentu menempatkan daya edukasi guru dan keandalan sistem sekolah ke dalam diskursus yang menuntut nalar kritis.

Perubahan pola interaksi sosial yang terpicu kemajuan teknologi digital saat ini memaksa kita untuk menerima sudut pandang baru. Keadaan yang kemudian menguat dengan hantaman badai pandemi Covid19. Menggeser pemaknaan peran kehadiran guru dan cara kita mengelola proses dan layanan pembelajaran di semua institusi sekolah dan madrasah.

Pembelajaran jarak jauh dengan teknologi internet mengusung lompatan kreativitas luar biasa. Jika semula seorang siswa yang belajar secara tradisional dan menerima asupan pengetahuan dari hanya seorang guru di kelas, internet mengubah segalanya.

Definisi kelas menjadi sangat terbuka, tanpa batasan kapasitas masksimal, tanpa sekat dan apa lagi batas demografi.

Bukan itu saja, seorang siswa menjadi memiliki peluang untuk memperoleh asupan pengetahuan yang sama dari lebih banyak pengajar dengan latar belakang profesi berbeda. Situs-situs penyedia layanan belajar online menyediakan bukan hanya guru dalam pengertian biasa seperti yang kita fahami secara tradisional. Lebih dari itu, menghadirkan praktisi dan professional untuk memperkaya khasanah belajar pada
setiap subyek yang mereka tawarkan.

Keadaan tersebut kian menegaskan betapa pentingnya untuk memposisikan guru sebagai sahabat masa depan. Dengan demikian semua pihak dapat bertaut ke dalam perspektif yang lebih holistik atas ikhtiar pembelajaran.

Guru sahabat masa depan itu menyiratkan ruang tantangan untuk pertumbuhan daya kreasi tanpa batas yang harus dapat dirajut oleh para guru. Dorongan kuat untuk selalu berselaras dengan perubahan keadaan dan kemajuan teknologi.

Pada sisi berbeda, kemajuan itu juga menyajikan pilhan belajar yang lebih pribadi. Pilihan belajar dari rumah. Keadaan yang justru menegaskan posisi dan peran strategis para orang tua. Bahwa mereka memiliki ukuran tanggung jawab besar sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem pendidikan. Setara dengan guru.

Dalam kalimat yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa setiap orang tua selalu dalam peran sebagai guru pertama dan utama. Selalu dalam peran sebagai sang sahabat masa depan bahkan kala seorang anak telah berada di dalam kawalan manajemen sekolah atau madrasah.

Kesejatian guru itu berkonotasi dengan sosok teladan yang menginpirasi. Digugu lan ditiru. Konotasi yang menuntut kehadiran. Seperti esensi kehadiran sosok orang tua
yang mengayomi di dalam keluarga. Maka tak salah jika dikatakan bahwa cara kita menghormati guru merupakan potret dari cara kita menghargai diri sendiri. Akan selalu
demikian.

Kemajuan teklogi digital memang akan menghadirkan transformasi dan pola interaksi yang luar biasa baru. Pada keadaan tertentu di masa depan, kita akan terbiasa menerima sajian virtual sebagai sebuah fakta yang nyata. Saat ini kita mulai merasakan betapa metaverse dan blockchain telah menhadirkan dampak yang sangat luar biasa. Sesudah itu, pada perkembangan teknologi berikutnya para guru akan dapat hadir secara digital bahkan di ruang belajar pribadi seorang siswa.

Pengalaman belajar secara lebih personal dan realtime dalam sajian hologram interaktif.

Hal ini membuktikan bahwa alih-alih menghapus peran hebatnya, kemajuan teknologi masa depan justru akan memperbesar tebaran manfaat dan hikmah kehadiran seorang guru. Menjangkau lebih jauh dalam cara yang tidak pernah kita bayangkan saat ini. Keadaan yang semestinya juga turut serta memperbesar metrik apresiasi kita.

Bukan lagi dengan jargon pahlawan tanpa tanda jasa. Wallahualam. Salam hormat wahai para sahabat masa depan, teladan yang menginspirasi!


Iwan Yahya. Dosen dan peneliti. The Iwany Acoustics Research Group (iARG). Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta.

(rdp/rdp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT