Kerja, Kesehatan, dan Profesionalitas

ADVERTISEMENT

Kolom

Kerja, Kesehatan, dan Profesionalitas

Ahmad Baharuddin Surya - detikNews
Selasa, 29 Nov 2022 12:00 WIB
Profesionalisme Terbatas
Ahmad Baharuddin Surya (Foto: dok pribadi)
Jakarta -

Hal pertama yang wajib diperhatikan saat pergantian musim adalah waspada terhadap penyakit. Perubahan musim mempengaruhi kondisi tubuh yang sangat tidak menentu. Pagi sehat, sorenya sakit. Bangun tidur tidak merasa sakit apa-apa, tiba-tiba ketika bekerja, badan terasa meriang dan pegal-pegal.

Bukan hanya setan yang bersifat gaib, sakit pun kadang-kadang begitu, tidak bisa ditebak, tiba-tiba muncul begitu saja. Lain cerita jika dari awal badan menunjukkan gejala-gejala mencurigakan, maka bisa diantisipasi cepat, sesegera mungkin minum obat atau istirahat. Akan terasa sulit bila sakit mendadak di tengah-tengah kerja. Mau izin, sungkan. Kalau tidak izin, badan makin drop. Memang sudah membudaya, terlalu berat pada sungkan membuat sakit malah parah.

Tiap orang tentu punya daya rangsang sendiri soal sakit. Ada yang hanya merasa pusing sedikit, anggapannya sudah sakit. Lebih parah lagi, ada yang baru menganggap sakit ketika badannya lemas tak kuat beraktivitas. Ibaratnya menunggu parah dulu baru mengakui itu sakit. Asumsinya, kalau hanya sekadar pusing, mungkin minum obat lalu sejam dua jam sudah sembuh.

Anggapan lama tentang kesehatan sepertinya masih sering digunakan jadi acuan sampai detik ini. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Padahal, dua-duanya ada indikasi mau sakit, makanya harus dicegah jangan sampai mengobati. Tidak mungkin orang mencegah kalau tidak ada tanda-tanda gejala. Analoginya, tidak mungkin tentara menyiapkan senjata kalau tidak mau perang. Istilah katanya, antisipasi.

Meskipun acuan itu digunakan, kadang orang sering lupa kalau mencegah lebih baik daripada mengobati. Ada beberapa faktor di antaranya karena terlalu sibuk bekerja, sehingga gejala-gejala yang tidak terlalu parah sering diabaikan. Atau bisa juga sakit dijadikan simbol yang menandakan bahwa ia pekerja keras. Acuannya sakit, jika tidak sakit, berarti ia tidak pekerja keras.

Maniak kerja itu boleh. Cuma pada lingkup kerja apapun, harusnya digunakan secara seimbang, antara bersantai dan bekerja. Di mana-mana kita disuruh meningkatkan etos kerja. Padahal etos kerja batasnya ada di profesionalisme. Sedangkan profesionalisme itu terbatas, bukan bebas. Terbatas artinya punya jam kerja yang telah ditentukan.

Jadi para pekerja melakukan kegiatan bekerja dari jam yang telah ditentukan. Di luar dari itu, semestinya bersifat kondisional. Perlu negosiasi yang baik. Bisa saja jam tambahan itu dimasukkan dalam jam lembur dengan catatan saling menerima. Pihak atasan hanya bisa menuntut kerja di waktu jam kerja. Di luar dari itu tidak ada kewajiban. Beda lagi kalau misalnya sudah ada kesepakatan sebelumnya.

Pada ranah positif, sakit bisa dijadikan acuan seberapa kuat kita bekerja. Sama seperti yang saya lakukan akhir-akhir ini. Saya punya acuan jenis sakit tersendiri dari teringan sampai terparah. Jika sudah mencapai taraf terparah selama saya bekerja, itu menandakan saya terlalu berlebihan bekerja. Saya kurang memperhatikan kesehatan sendiri. Dari situ, imbasnya saya harus memulihkan kesehatan hampir dua minggu. Padahal sebelumnya cukup dua sampai lima hari.

Ketidakenakan itu yang sering menyiksa. Seperti sakit yang saya alami kemarin. Saat itu, sebenarnya saya bisa saja izin, tapi karena terlalu sungkan dengan orang lain. Dengan dalil menghargai kerja kerasnya. Akhirnya sedikit memaksa saya putuskan tetap masuk. Mungkin terlalu peduli dengan orang, sampai tak peduli dengan diri sendiri. Sedangkan anjuran sayang dimulai dari sayangi diri sendiri dulu, setelah itu baru sayang ke orang lain.

Sebagai manusia biasa yang notabene bekerja ikut orang tentu ada rasa sungkan atau tidak enak. Meski beberapa kali sudah diingatkan, kalau merasa sakit, segera izin. Tapi pertimbangan orang beda-beda. Ada yang sengaja masuk, walau sakit, karena nanti pas masuk, tugas malah numpuk. Ada juga sungkan pada karyawan lain, karena kadang harus titip pesan yang wajib disampaikan atau tugas-tugas titipan lainnya.

Mestinya ada perumusan tersendiri soal profesionalisme. Pada praktiknya, pemahaman tentang hal itu masing-masing orang berbeda, cuma sebenarnya profesionalisme bisa dijadikan acuan dasar dalam perumusan aturan ketenagakerjaan. Dan yang terpenting mampu dipahami oleh para pengusaha. Sekali lagi, terminologi dasarnya adalah profesionalisme terbatas, bukan bebas. Sama seperti kekuatan manusia, sifatnya sangat terbatas. Punya rasa lelah, mengeluh, kecewa, dan marah.

Hanya saja kita sebagai manusia biasa tidak mungkin bisa lepas dengan rasa tidak enakan. Terkadang ada suatu momen yang membuat kita sungkan melakukan sesuatu, takut tidak sesuai dengan keinginan atasannya. Atau ada lagi, misalnya punya atasan yang enaknya minta ampun, sering memberi hadiah tak terduga. Sehingga secara tidak langsung momen itu justru mengikat karyawan. Dia akan enggan mengambil sikap sendiri, takut tidak sesuai hati atasannya.

Saya pernah merasakan hal itu, dan rasanya tidak enak. Mengikat pelan-pelan. Mirip orang pacaran, harus berhati-hati, jangan sampai kedua hati yang berpasangan itu saling menyakiti. Tujuannya saling menjaga. Padahal hanya kerja alibi, orang dibuat nyaman, lalu enggan melepas atau berpisah.

Berlebihan itu tidak baik. Tentu akan berefek. Lakukan saja sekadarnya dan sewajarnya. Profesionalisme bukan menyerahkan seluruh waktu, tapi membagi sebagian waktu dan disesuaikan dengan tupoksi kerja. Sebab, seluruh waktu kita tidak melulu soal kerja. Biasakan memakai otak dengan seimbang. Ada waktunya otak butuh peregangan. Sama seperti badan sekali-kali butuh pelemasan. Belum lagi kondisi badan bisa dipengaruhi kondisi psikisnya, karena di dalam jiwa yang sehat, terdapat tubuh yang kuat.

Ahmad Baharuddin Surya penulis dan pendidik, tinggal di Lamongan


(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT