Berhenti Pamer Kemewahan

ADVERTISEMENT

Kolom

Berhenti Pamer Kemewahan

Fotarisman Zaluchu - detikNews
Selasa, 29 Nov 2022 10:56 WIB
ilustrasi kolom DPD
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Gaya hidup pamer kemewahan sudah merasuk cukup dalam pada bangsa ini. Perilaku demikian harus dihentikan. Kita harus mengembalikan pencarian nilai-nilai yang utama dalam kehidupan kita.

Presiden Jokowi menyampaikan agar para pejabat Polri tidak memamerkan gaya hidup mewah. Presiden meminta gaya hidup seperti itu "direm". Presiden menekankan agar para pimpinan Polri memiliki kepekaan terhadap masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih hidup dalam kondisi memprihatinkan.

Sentilan Presiden itu memang penting kita pikirkan dengan serius. Tetapi bukan hanya untuk mengoreksi para pejabat Polri saja. Persoalan pamer kemewahan sudah terjadi dalam skala yang lebih luas. Begitu banyak figur-figur penting di masyarakat justru mempraktikkan dan menyebarluaskan gaya hidup tersebut.

Hampir setiap hari kita menyaksikan para politisi pamer kemewahan. Mobil mahal, makan di restoran mewah, pakaian dari butik terkenal, bahkan sampai private jet. Tak mau kalah, para kepala daerah juga pamer. Bersama keluarganya, mereka tak segan-segan memamerkan mobil baru, garasi-garasi penuh kendaraan mewah, dan liburan ke tempat mahal.

Para pesohor juga tampil di ruang media sosial dengan kemewahan. Uang dan hidup penuh gelimang harta dipamerkan setiap hari di ruang publik. Semua berlomba-lomba melakukan pameran gaya hidup mewah, tanpa "rem" sama sekali. Dan, yang tidak memiliki gaya hidup seperti itu dianggap "kekurangan".

Bahayanya, gaya hidup pamer kemewahan ini berisiko besar. Ada pesohor yang bicaranya hanya soal harta dan penghasilan wah. Ternyata itu hanya tipuan belaka. Ada politisi yang penampilannya megah. Ujungnya terungkap bahwa semua itu hasil korupsi. Ada pejabat yang kekayaannya luar biasa banyak, ujungnya juga diduga terlibat dalam kejahatan narkoba.

Gaya hidup mewah bukan saja tidak empati dengan masyarakat, tetapi jika itu telah menjadi virus yang membajak akal dan nurani. Apapun cara akan ditempuh, tak terkecuali menipu, melakukan tindakan korupsi, bahkan kejahatan sekalipun.

Maka kita harusnya bersama-sama menggaungkan agar gaya hidup yang menyukai pamer kemewahan demikian "direm" bersama-sama. Sebab perilaku tersebut jauh lebih merusak dan tidak memiliki manfaat sekecil apapun.

Penyebab

Mengapa perilaku ini menggurita saat ini? Ada beberapa alasan. Pertama, manusia adalah makhluk yang belajar dari lingkungan. Sejak manusia lahir, lingkungan merupakan "guru" dalam kehidupan untuk memahami banyak hal. Lingkungan tersebut termasuk perilaku manusia yang berada di sekitarnya. Manusia mencerna dengan inderanya tentang apa yang orang sekitarnya lakukan dengan cara meniru perilaku orang lain.

Lihatlah sifat ini saat kita berada di lampu merah. Saat salah seorang pengendara menerobos lampu merah, maka yang lain akan berperilaku meniru. Memang ada yang awalnya ragu-ragu. Tetapi kemudian tak kuasa menolak dorongan untuk meniru perilaku yang sama, yaitu ikutan menerobos lampu lalu lintas yang jelas-jelas masih merah. Apalagi, ketika sebagian besar pengendara di belakang kiri dan kanan membunyikan klakson terus menerus, maka mereka yang awalnya merasa sedang melakukan tindakan yang benar, secara perlahan akan merasa "bersalah"dan akhirnya bergerak ikut arus, menerobos lampu merah.

Gaya hidup tidak terpuji yang terus menerus dilakukan pada akhirnya akan dianggap benar saat semua orang melakukan hal yang sama. Memamerkan kemewahan saat ini sudah merupakan perilaku yang jamak. Di mana-mana lingkungan yang penuh pameran kemewahan menggantikan suasana yang tadinya biasa saja. Pesta pernikahan bukan lagi ajang silaturahmi, tapi telah menjadi ajang pamer. Resepsi bukan lagi ajang memberikan dukungan pada seseorang atau keluarganya, pun telah menjadi lokasi menunjukkan pakaian dari desainer mahal. Ironisnya, rumah ibadah yang seharusnya bebas nilai pun bisa menjadi lokasi menunjukkan "kelas" kemewahan.

Demikianlah lingkungan yang semakin sarat dengan gaya hidup mewah tersebut memberikan "pelajaran" kepada setiap individu. Pada skala tertentu, ada yang mencoba menahan diri. Namun perlahan semakin banyak yang tidak bisa mengendalikan diri, mencoba meniru orang lain yang dilihatnya dengan ikut-ikut menyesuaikan diri. Mulai dari membeli barang-barang bermerek mahal dan kemudian mempertontonkannya dalam setiap aktivitas yang dilakukannya. Pada akhirnya, kita menyaksikan semakin banyak orang terdorong untuk melakukan gaya hidup mewah. Sekecil apapun yang dimilikinya, asal ada saja yang bisa dipamerkan.

Kedua, manusia belajar dari figur panutannya. Dalam dunia hewan, tanpa apa-aba, hanya menggunakan naluri belaka, ada aura untuk mengikuti pemimpin. Dalam komunitas manusia, sosok yang dianggap atau ditentukan sebagai patron pun dijadikan contoh perilaku. Mereka yang menjadi pemimpin, entah itu dalam bidang keagamaan, pemerintahan, politik bahkan artis sekalipun, dianggap jadi panutan perilaku.

Apalagi ketika media sosial menciptakan ruang tanpa batas, perilaku sosok-sosok yang menjadi panutan mudah menyebar. Maka ketika kemewahan dianggap identik dengan sosok panutan tersebut, mereka yang menjadi anggota masyarakat pun otomatis hanya tinggal mengikuti hal itu. Jadi kalau kita ingin tahu kenapa kemewahan menjadi sebuah perilaku jamak, salah satu penyebabnya adalah karena ada figur contoh yang duduk pada posisi sebagai patron tadi.

Dan, jika gaya hidup penuh kemewahan itu saat ini dianggap salah, ini seperti kata-kata Prof JE Sahetapy yang pernah berkata bahwa "ikan busuk mulai dari kepalanya". Dengan kata lain, perilaku buruk mempertontonkan kemewahan itu justru dimulai karena tidak ada teladan dari mereka yang kita sebut sebagai figur publik tadi.

Memang fakta membuktikan hal itu. Tas-tas mewah, liburan di tempat mahal, kendaraan wah, sering ditunjukkan baik langsung maupun tidak langsung oleh para "panutan". Bahkan saat mereka sudah jadi terpidana dalam penjara sekalipun mereka ini tidak berkurang dalam kemewahan, sampai-sampai sebuah media pernah membuktikan keberadaan sel mewah para narapidana kasus korupsi. Bayangkan, dalam posisi menjalani hukuman pun, aksi pamer kemewahan—setidaknya kepada sesama napi—tetap berlangsung.

Ketiga, kemewahan dipertontonkan karena terjadi pergeseran nilai. Dulu kita menganggap menolong sesama adalah nilai yang patut dipamerkan. Di buku-buku bacaan masa kecil, ada banyak kisah yang sangat menginspirasi. Ambil contoh misalnya cerita mengenai anak yang terlambat tiba di sekolah. Di sekolah ia dimarahi. Namun kemudian guru pada akhirnya meminta maaf karena ternyata si anak terlambat karena ia harus menyeberangkan seorang nenek lalu mengantarkannya ke tempat yang aman, sebelum anak tersebut kemudian kembali meneruskan perjalanannya ke sekolah.

Demikian juga kita mengenal kisah lain yang sangat menyentuh hati. Alkisah, ada anak yang hanya bisa duduk ketika melihat teman-temannya menyantap makanan kecil mereka. Lalu ada anak lain mendekatinya dan bertanya. Ternyata teman mereka itu tidak membawa bekal karena tidak punya uang. Lalu anak yang lain pun berbagi bekal kepada temannya itu. Begitu menyentuh.

Kini kisah-kisah seperti itu seperti tak lagi relevan. Menolong orang lain dan berbagi kehidupan dengan cara seperti anak-anak di atas sudah sulit ditemukan. Sifat menolong sesama dan memecahkan roti untuk diberikan kepada orang lain tak lagi dianggap populer, makin tak kedengaran. Bahkan ada saja orang yang berpura-pura menolong orang lain justru hanya demi konten. Begitu tega.

Sebaliknya, nilai-nilai sarat kemewahan dijadikan ukuran tujuan hidup. Nilai keutamaan untuk bangga jika menolong sesama, bersuka cita jika mendorong kemajuan, bergembira karena bekerja sama di dalam melakukan sesuatu, telah digeser oleh nilai yang mengutamakan kemewahan. Koleksi-koleksi tas mewah yang dimiliki dan yang kemudian ditunjukkan ke media sosial; gonta-ganti pakaian dari butik desainer hebat yang bisa dipamerkan, kendaraan keluaran terbaru yang bisa dijejerkan di parkiran dijadikan tujuan pribadi.

Banyak tokoh panutan tak lagi panutan dalam mendorong nilai-nilai yang kita anggap baik. Mereka malah mengeksplorasi kemewahan sebagai sebuah tujuan. Parahnya kita semakin kehilangan sosok-sosok yang mencontohkan kesederhanaan dan menunjukkan empati hidup kepada orang lain.

Ketiga alasan di atas menyebabkan gaya hidup mewah dan nilai kemewahan menjadi arus utama perilaku saat ini. Ketiga hal tersebut saling melengkapi untuk menciptakan tali temali kemewahan yang tak terbendung. Karena telah menjadi perilaku, dilakukan oleh para panutan, dan didorong oleh masifnya nilai materialistik, alhasil kita tak mudah mengeremnya. Maka ini adalah masalah bangsa, bukan hanya masalah perilaku para pejabat Polri.

Perombakan

Kita perlu bekerja keras melakukan perombakan. Ada baiknya Menteri Dalam Negeri serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi membuat aturan perilaku etika penyelenggara negara. Mulai dari kepala daerah dan keluarganya sampai dengan pejabat eselon terendah dilarang berperilaku memamerkan kemewahan.

Di daerah, mudah sekali kita melihat gaya hidup mewah dipraktikkan dalam acara-acara pemerintahan sekalipun, entah dari aksesoris para pejabat maupun dalam penampilan sehari-hari. Ironis memang gaya hidup mewah ini sempat-sempatnya dilakukan saat sebagian besar masyarakat di sebuah daerah masih hidup dalam kemiskinan.

Perlu ada tindakan tegas kepada para pejabat-pejabat daerah dan politisi ini. Bagaimanapun mekanismenya, melawan gaya hidup mewah adalah salah satu bentuk dari mempraktikkan Pancasila secara konkret. Tidak usah jauh-jauh mendorong penerapan pilar-pilar kebangsaan dan sejenisnya. Tak memamerkan gaya hidup mewah adalah bentuk dari keberpihakan pada nasib sesama anak bangsa yang masih hidup dalam kondisi memprihatinkan.

Kementerian Informasi dan Komunikasi juga perlu mengundang para pemilik media supaya perubahan kultural mengenai gaya hidup ini bisa disampaikan melalui saluran publik. Tidak dapat dipungkiri, apa yang ditonton oleh masyarakat saat ini entah itu sinetron, berita, termasuk tontonan tentang para pesohor, telah menjadi lingkungan belajar yang sering "menjual" gaya hidup mewah. Begitu banyak tontonan dan berita yang tidak mendidik dan malahan mendorong gaya hidup buruk ini.

Pemerintah harus mendorong para pemilik media melakukan seleksi lebih ketat terhadap setiap materi yang hendak disampaikan kepada publik. Jangan sampai mereka yang menjadi pengguna saluran publik itu menyebarluaskan program-program yang sangat tidak mendidik dan merusak.

Pembalikan nilai juga mutlak diperlukan. Para tokoh agama dan kalangan penggerak masyarakat termasuk para pendidik harus bergerak melalui salurannya masing-masing agar gaya hidup ini tidak menjadi virus yang membajak secara permanen akal dan nurani. Ini harus disuarakan supaya masyarakat tidak terbenam ke dalam nilai hidup yang sama sekali tak ada yang bisa dibanggakan itu. Dan, sosok-sosok penuh kesederhanaan harus dijadikan panutan ideal dan membanggakan.

Marilah kita secara total bersama-sama membudayakan program massal menghentikan gaya hidup yang memamerkan kemewahan.

Fotarisman Zaluchu pengajar di Prodi Antropologi Sosial FISIP Universitas Sumatera Utara



(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT