Nusantara: Peradaban Indonesia Dulu, Kini, dan Masa Depan

ADVERTISEMENT

Kolom

Nusantara: Peradaban Indonesia Dulu, Kini, dan Masa Depan

Aminuddin Ma'ruf - detikNews
Kamis, 24 Nov 2022 23:03 WIB
Aminuddin Ma’ruf
Aminuddin Ma'ruf (Foto: Dok Istimewa)
Jakarta -

Sebagai negara yang letak geografisnya berada di jalur Cincin Api Pasific (Ring of Fire), Indonesia sejatinya punya distingsi yang cukup khas dari negara-negara lain di dunia. Salah satu kekhasannya adalah "hard to identify", sulit diidentifikasi. Ia tak masuk rumpun Barat, tak pula Arab, bukan pula Timur dalam rumpun Jepang, Korea, dan Tiongkok. Ia lebih condong ke rumpun Melayu, tapi tak juga sama dengan Malaysia, Brunei, dan lain-lain. Bahkan menurut mendiang Almarhum Abdurrahman Wahid, Indonesia ini bukan negara sekuler, bukan pula negara Agama, maka sebenarnya Indonesia ini adalah negara yang bukan-bukan. Demikian anekdotnya yang cukup populer.

Dalam perjalanannya, hampir semua ideologi besar dunia pernah mencoba penetrasi dan menancapkan pengaruh di tanah Ibu Pertiwi, tapi tak satu pun yang diadopsi secara total menjadi ideologi tunggal bangsa kita. Bangsa kita justru lebih terbiasa mengambil saripati kebaikan dari setiap Ideologi, untuk kemudian diperas dan diramu ulang menjadi sesuatu yang menurut kita lebih "advance" dan relevan. Artinya, sebetulnya secara antropologis, corak masyarakat kita adalah Open Society, Masyarakat Terbuka. Dalam bahasa Perancis kerap disebut "Société Ouverte".

Société Ouverte atau Masyarakat Terbuka semula dikenalkan oleh filsuf asal Perancis, Henri Bergson, pada tahun 1932. Menggambarkan sistem dinamis yang bermuara pada moral yang Universal. Kebebasan, kesetaraan, pemenuhan hak-hak dan kewajiban, dan demokrasi adalah sejumlah ciri yang melekat pada masyarakat terbuka.

Indonesia Dulu

Kata Indonesia sejatinya adalah dermaga terakhir dalam ikhtiar pencarian nama. Saat Nusantara berada di bawah kekuasaan Belanda, nama yang populer adalah Hindia-Belanda. Dan jauh sebelum itu, gugusan pulau yang terbentang di sepanjang Samudera Hindia dan Pasifik ini, lebih dikenal dengan kata Nusantara, yang terdiri dari kerajaan-kerajaan. Mulai dari Kutai (4M), Tarumanegara (4M-7M), Sriwijaya (7M), Mataram Kuno (8M), hingga Majapahit (13M), lalu dilanjut kepada Kerajaan-Kerajaan Islam.

Kerajaan-kerajaan tersebut lah yang pada awalnya membentuk corak asli peradaban kita. Peradaban Nusantara. Peradaban yang hingga hari ini menjadi buhul pengikat yang membuat bangsa kita terus kokoh dan eksis. Sebagaimana pendekatan Harrison dan Huntington dalam bukunya "Cultural Matters: How Values Shape Human Progress" (2000), bahwa kebudayaan adalah modal utama bagi ketahanan dan kemajuan suatu bangsa. Jika suatu bangsa tak memiliki akar sosial budaya yang kokoh, maka bersiaplah untuk terhapus dari peta peradaban dunia.

Indonesia Kini

Secara official, terhitung sejak proklamasi Kemerdekaan, usia Indonesia sudah 77 tahun. Itu usia resmi. Sedangkan usia non resmi, tentu saja sudah ratusan tahun sejak dinasti-dinasti berdiri. Artinya, kita adalah pemilik peradaban tua, luhur, dan adiluhung.

Dalam usia yang sudah relatif matang, tak sekali dua kali kita pernah mengalami pasang surut politik dan juga krisis. Perjalanan bangsa kita terekam dalam patahan-patahan sejarah dari orde lama, orde baru, hingga reformasi.

Dari tiga fase tersebut di atas, yang tengah kita jalani adalah fase pasca reformasi. Fase yang cukup berat, sebab masyarakat sudah mulai bertanya tentang pembuktian-pembuktian. Tentang sampai mana cita cita reformasi terwujud, dan sejauh mana para aktornya memberi warna dalam perjalanan bangsa kita.

Indonesia kini, adalah Indonesia yang bukan lagi menjadi penonton cemberut di panggung sejarah, menyaksikan negara negara maju membangun mercusuar peradaban.

Indonesia kini adalah Indonesia yang tegak di panggung dunia, menjadi anggota G20 dan sekaligus Tuan Rumah pertemuannya. Ditunjuk dalam Keketuaan ASEAN. Menjadi mediator dalam ikhtiar perdamaian Rusia-Ukraina, dan menemui pemimpin kedua negara. Artinya, kita punya peran strategis, bukan peran pinggiran.

Dalam kurun masa pemerintahan Presiden Jokowi, investasi dan ekspor industri kian menggeliat. Transformasi fundamental ekonomi Indonesia juga menjadi agenda utama. Dari ekonomi berbasis konsumsi, menuju ekonomi berbasis produksi.

Kemudian kebijakan pengentasan kemiskinan, dan pembangunan yang lebih merata di luar Jawa, dengan mengusung tagline pembangunan berbasis Indonesia sentris. Lalu negara hadir dalam kerja kerja kongkrit pembangunan infrastruktur fisik dan bahkan digital, di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Sebuah ikhtiar adiluhung dalam rangka mewujudkan sila ke-5, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Mewujudkan Cita-Cita Ibu Kota Nusantara

Presiden Jokowi menyampaikan di banyak forum bahwa kebijakan IKN bukan sekadar usaha memindahkan gedung gedung pemerintahan ke Kalimantan. Bukan pula sekadar memindahkan Istana Presiden. IKN adalah ikhtiar untuk membangun New Paradigm of Civilization, Paradigma Baru tentang Peradaban. Tentang Budaya Kerja Produktif yang didukung tata kelola manajemen yang baik, serta implementasi teknologi yang mumpuni.

Sumber energi di IKN adalah energi terbarukan, dan transportasinya adalah transportasi listrik. Smart city dan smart living country dengan 70 persen area hijau. Area yang semula terdiri dari hutan produksi yang monokultur dengan pohon ekaliptus, menjadi hutan heterogen dari pepohonan asli tanah Borneo.

Oleh sebab itu mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang hari ini juga menjadi Dewan Pengarah Ibu Kota Nusantara (IKN), dengan skema tersebut di atas, mengatakan bahwa IKN akan membuka peluang besar bagi ekonomi dan menarik investor dari seluruh dunia. Bahkan lebih dari itu, IKN juga tentang nilai dan spirit. Kepala Otorita IKN Bambang Susantono mengatakan bahwa IKN adalah "City with Soul, city the has to be believeable and loveable". Kota dengan jiwa, kota yang dipercaya dan dicintai. Di sana lah kita akan menemukan sebuah kota dengan aneka klaster spesifik yakni Healthcare Center, Education Center, Housing Area, hingga pusat hiburan (tourism) dan juga pusat mengelola emosi / well being center, serta Green Area.

Alhasil, Ibu Kota Nusantara adalah masa depan Indonesia. Tempat di mana cita-cita besar tertancap. Tempat yang ramah pejalan kaki, pesepeda, pengguna kendaraan umum, dan "Ten Minutes Area" yang artinya setiap jarak tempuh bisa dicapai dalam waktu 10 menit. Sesuatu yang kini jadi barang mewah, jika diukur dari sudut pandang Kota Jakarta yang serba traffic. Sekian.

Aminuddin Ma'ruf, Staf Khusus Presiden RI

(knv/knv)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT