Membaca Arah dan Gerakan Alumni HMI

ADVERTISEMENT

Kolom

Membaca Arah dan Gerakan Alumni HMI

Ambar Susatyo Murti - detikNews
Jumat, 25 Nov 2022 10:30 WIB
Membaca Arah dan Gerakan Alumni HMI
Ambar Susatyo Murti (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Saya dulu berpikir kuliah hanyalah belajar, lulus dengan IPK bagus, dan setelahnya bekerja. Dan, semuanya berubah total setelah saya bertemu dan mengikuti proses di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Melalui pengkaderan HMI saya merasa dunia ini semakin luas, banyak hal baru, dan membuka cakrawala. Saya mulai paham berorganisasi, mengerti pentingnya akademik, dan berusaha keras menjadi insan akademis "berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, dan berpikir rasional dan kritis".

Dari HMI juga saya mulai memahami berbagai pemikiran dan bermacam isu. Tak hanya pemikiran klasik, tetapi juga pemikiran rasional modern, pemikiran pembaharuan Islam dan tentunya berbagai isu keumatan Nurcholish Madjid. Dan, yang masih terus membekas adalah peneguhan terkait komitmen keislaman dan keindonesiaan.

Saya juga banyak belajar tentang bersikap kritis, teknik pengambilan keputusan, bahkan dalam tingkat selanjutnya saya juga belajar tentang strategi taktik, yang membawa pada pemahaman berbagai hal terkait manajemen konflik, membaca peta politik, intrik kepentingan, dan lainnya. Banyak hal di luar ekspektasi benar-benar saya peroleh dari proses ber-HMI.

Tak hanya saya, banyak kawan-kawan yang pernah menjadi aktivis HMI juga menjalani fase dan proses yang sama. Dan, saya beruntung dengan bekal dan tempaan dari HMI, saya merasa menjadi pribadi yang lebih matang dalam menghadapi tantangan dunia. Meskipun tak semuanya menjadi tokoh penting, namun alumni HMI bertebaran di pemerintahan, profesional, NGO, petani, pengusaha, pendidik di kampus hingga "kiai pesantren", dan berbagai profesi lain yang tersebar di berbagai tempat di seantero Indonesia bahkan ada juga di beberapa belahan dunia.

Dua Jalur

Menurut saya gerakan alumni HMI ini ada dua jalur, yaitu gerakan personal "individu masing-masing kader" dan gerakan alumni secara kelembagaan dalam institusi resmi organisasi Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

Kalau saya cermati sebenarnya alumni HMI itu tidak hanya mereka yang sering terlihat di media dan sering muncul dalam agenda publik memperbincangkan berbagai macam isu, perkembangan politik, dan ramainya perebutan kekuasaan. Namun di luar itu banyak juga alumni yang mendedikasikan diri pada level akar rumput, menjadi tokoh-tokoh kecil di masyarakat, menjadi orang biasa yang berada pada sudut-sudut tak terliput, namun perannya nyata dalam kehidupan.

Untuk alumni yang berada pada jalur gerakan personal, saya kira kontribusi mereka sangat riil, karena secara alamiah mereka telah mendedikasikan ilmu yang dimiliki terwujud dalam bentuk pengabdian konkrit sebagai "insan pengabdi". Dan, yang menurut saya perlu dipertegas adalah gerakan alumni yang berada dalam naungan kelembagaan KAHMI. Selain gerakan sosial dan kekeluargaan yang selama ini masif dijalankan, akankah ada lagi gerakan baru yang akan dilakukan?

Alumni HMI juga dikenal dengan jejaring yang kaya dan relasi yang kuat. Ini menjadi salah satu kekuatan. Jejaring dan relasi inilah yang selama ini menonjol menjadi kekuatan sosial KAHMI. Apakah sudah saatnya kekuatan ini ditransformasikan dan dikembangkan menjadi kekuatan yang lain?

Intinya dengan modal potensi intelektual dan jumlahnya yang besar, gerakan alumni HMI harusnya semakin kaya kreasi, inovatif, dan berani masuk ke ruang-ruang baru, namun tetap tak mengingkari nilai-nilai HMI. Ambillah misal saat di HMI setiap kader harus memegang independensi etis dan organisatoris, selalu berpegang pada nurani kebenaran, dan tak pernah meninggalkan sifat hanif. Setelah menjadi alumni dengan berbagai macam dinamika dan persoalan, independensi dan keberpihakan pada nurani kebenaran itu tetap harus dipegang teguh meskipun sulit seperti menjinakkan bumerang.

Perubahan sosial pun mutlak terjadi seiring dengan berkembangnya zaman. Bersamaan dengan itu potensi alumni HMI harus diberikan ruang lebih longgar. Tak ada kata lain alumni HMI harus pandai membaca arus perubahan, memahaminya, dan akhirnya mampu memformulasikan ke mana arah gerakan selanjutnya dilakukan. Jangan sampai gerakan alumni HMI terhenti atau hanya berkutat dalam zona nyaman elite dan kekuasaan.

Momentum Munas

Alumni HMI terlembagakan dalam struktural KAHMI. KAHMI adalah organisasi resmi para alumni HMI dan secara organisatoris menjadi wadah bernaung dan eksistensi alumni. KAHMI dibentuk pada munas alumni HMI yang bertepatan dengan Kongres VIII HMI di Solo, Jawa Tengah. Motivasi dasar terbentuknya KAHMI yaitu adanya keinginan wadah kekeluargaan alumni HMI. KAHMI disahkan pada 17 September 1966. Kepengurusan KAHMI saat ini telah menjangkau seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri.

KAHMI telah menjadi wadah bagi aktivitas para alumni HMI di berbagai bidang kehidupan. Berbagai aktivitas telah dilakukan KAHMI, mulai dari aktivitas sosial kemasyarakatan hingga pembahasan isu-isu strategis menjadi diskusi rutin dan kajian. Bahkan saat ini KAHMI juga memiliki perguruan tinggi yaitu Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Januari 2021 dan sekaligus menjadi hari lahir UICI.

KAHMI telah berusia 56 tahun. Meskipun belum bisa dibandingkan seperti ormas pendahulu semisal Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, namun jika dikelola dengan baik bukan tidak mungkin peran KAHMI akan mampu mengejar ormas-ormas besar yang telah lama hadir dan menghiasi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Nah, sampai di sini, akankan KAHMI memilih gerakan untuk mengejar ormas-ormas besar tersebut?

Saya pun merasa penasaran dan masih menebak-nebak ke mana gerbong besar KAHMI yang telah meraksasa ini akan dibawa. Saya juga menunggu-nunggu apa kiranya yang akan diputuskan dalam Munas KAHMI terkait arah gerakan alumni HMI. Apakah sekadar sebagai wadah berhimpun, ruang silaturahmi, momen bernostalgia sembari menjalani fungsi dalam rangka menunjang pengkaderan HMI, atau akan ada transformasi gerakan untuk membuka ruang-ruang pengabdian baru.

Saya yakin dengan potensi yang dimiliki, alumni HMI tak akan pernah diam dan akan terus mencari dan menemukan pintu-pintu pengabdian baru sebagai wujud tanggung jawab sebagai insan akademis dan pengabdi. Sedangkan secara kelembagaan saya percaya bahwa seluruh alumni HMI yang terhimpun dalam KAHMI memiliki modal yang lebih dari cukup untuk berkontribusi dalam merancang masa depan bangsa dengan segala persoalan dan dinamikanya. Peran-peran apapun yang dilakukan alumni HMI baik personal maupun kelembagaan adalah wujud syukur dan kecintaan kepada bangsa Indonesia.

Selamat melaksanakan Munas KAHMI ke XI, 24-28 November 2022 di Palu, Sulawesi Tengah. Semoga tujuan HMI "terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab terhadap terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT" selalu menjadi motivasi dan tetap terpatri kokoh dalam sanubari. Yakin Usaha Sampai!

Ambar Susatyo Murti, M.Si Ketua Umum HMI Cabang Ponorogo Periode 1999-2000


(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT