Golden Time dan Daulat atas Kekayaan Sendiri

ADVERTISEMENT

Golden Time dan Daulat atas Kekayaan Sendiri

Iwan Yahya - detikNews
Kamis, 24 Nov 2022 14:32 WIB
Kolomnis Iwan Yahya
Foto: Iwan Yahya (dok. iARG)
Jakarta -

Diskusi saya dengan mahasiswa di kelas Filsafat Ilmu pekan ini sedikit berbeda dari biasanya. Perbincangan tentang responsibility of science merambah ke isu kecepatan berinovasi yang lalu dikaitkan gelombang pemutusan hubungan kerja di sejumlah perusahaan pengusung inovasi terkemuka.

Kehebatan kemajuan dunia digital bahkan menjadi sebagian sebab yang menghantam para kampiun yang sebelumnya bertahta. Mereka yang semula sukses secara gemilang meraup keuntungan dari penguasaan inovasi di dunia digital itu justru kini terpukul sendiri. Itu yang antara lain menimpa Google dan Stripe. Di dalam negeri, hal serupa dialami oleh Ruang Guru dan Goto. Mereka terpkasa merumahkan karyawan mereka dalam jumlah besar akibat tekanan bisnis yang berdampak signifikan pada penurunan keuntungan perusahaan.

Tidak berhenti di situ, diskusi kemudian berkembang hingga menyentuh persoalan kalahnya Indonesia di WTO berkait gugatan ekspor nikel. Adakah simpul bersama dalam sengkarut kedua persoalan di atas? Jika memang demikian, ruang solusi apa yang dapat disumbangkan oleh institusi pendidikan tinggi yang konon merupakan salah satu penyokong ekonomi berbasis inovasi?

Belajar Kepada BYD

BYD adalah contoh sukses perusahaan Tiongkok di ranah mobil listrik. Mereka secara gemilang mengambil alih posisi Tesla yang sebelumnya merupakan kampiun dalam penjualan mobil listrik dunia. Seperti dilaporkan oleh Global Times 5 Oktober 2022, BYD bertahta dengan kinerja penjualan 200.000 unit lebih banyak di atas Tesla pada kuartal ketiga 2022. Jika berbicara pertumbuhan, Tesla hanya tumbuh sebesar 3 persen sementara di tahun yang sama BYD mencatatkan angka 187 persen.

Kudeta BYD terhadap tahta Tesla merupakan bukti bahwa kesejatian keunggulan berpengetahuan itu mustahil sepenuhnya dapat digenggam oleh satu tangan kendali.

Pengetahuan itu merupakan tautan simpul ayat-ayat semesta. Maka kemampuan membaca semesta merupakan kunci untuk berselaras dengan cara kendali semesta atas pengetahuan itu sendiri.

BYD melakukannya dengan sangat baik. Mereka mewujudkan kemampuan itu melalui kehadiran inovasi blade battrery yang fenomenal. Nail penetration test atas produk teknologi maju itu menunjukkan keunggulan yang luar biasa. Kenaikan temperatur terbaca di kisaran 30oC hingga 60oC. Nilai yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan temperature batere lithium yang mencapai angka berbahaya 500oC karena dapat memicu kebakaran pada kondisi pengujian yang sama.

Kehadiran teknologi blade battery memaksa Tesla untuk menerima fakta akal sehat dan lalu memutuskan untuk menyematkan teknologi itu pada produk unggulan mereka. Begitulah kemudian, awal tahun ini teknologi baterai Tiongkok itu telah dibawa ke Gigafactory di Berlin untuk menghidupkan kendaraan terbaru Tesla.

Apakah BYD telah melakukan penaklukan? Apakah Tesla takluk? Tentu tidak. Era digital yang sangat terbuka, berubah cepat dan disruptif seperti saat ini seolah menghapus diksi tak terkalahkan dalam kesadaran innovator dan pelaku usaha tentang masa depan.

Kemampuan membaca semesta dalam tekanan disrupsi memicu siapa pun untuk bergerak cepat menghadirkan solusi unggul dengan kompatibilitas tinggi. Itulah yang dilakukan BYD.

Di sisi berbeda, Tesla sebagaimana semua pelaku bisnis di era digital berhidmat pada keyakinan bahwa masa depan itu adalah soal golden time sebelum kematian. Maka menerima dan menyematkan teknologi blade battery pada produk mereka adalah cara yang jitu agar keunggulan Tesla pada aspek lain yang belum dimiliki oleh kompetitor termasuk BYD terjamin tidak kehilangan masa keemasan untuk tumbuh dan memenangkan pasar masa depan. Bergerak dinamis dan cerdas dalam sinergi agar tidak terlindas oleh kehebatan yang lebih mumpuni.

Perspektif golden time sebelum kematian yang melandasi setiap keputusan itu juga berlaku pada institusi seperti Google, Stripe, Ruang Guru dan Goto seperti disebutkan
di depan.

Pertanyaan yang muncul di benak saya kemudian adalah, mungkinkah budaya berinovasi seperti itu disemai dalam atmosfir akademik universitas kita saat ini?

Seberapa jauh para cendekia kita telah berhidmat pada pandangan bahwa tanggung jawab penguasaan sains itu harus terejawantah dalam metrik daya ungkit universitas terhadap penguatan kesejahteraan bangsa?

Daulat atas Kekayaan Sendiri

Kekalahan Indonesia dalam sengkarut ekspor nikel telah diprediksi oleh pemerintah bahkan sebelum keputusan WTO atas hal itu keluar 17 oktober 2022. Sebagaimana dikemukakan oleh mentri ESDM dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI tanggal 21 November 2022, negara kita dipandang melanggar Ketentuan WTO sebagaimana tercantum dalam pasal XI.1 GATT 1994 yang dipandang tidak dapat dijustifikasi dengan Pasal XI.2 (a) dan XX (d) GATT 1994.

Sebagai bangsa berdaulat tentu negara tidak berdiam diri. Keputusan WTO itu belum bersifat mengikat dengan kekuatan hukum tetap. Oleh karena itu negara tidak saja memilih untuk melakukan banding. Lebih dari itu harus beradu cepat, menjadikan sedikit waktu yang ada sebagai golden time untuk menciptakan perubahan penting.

Melakukan perubahan pada sejumlah peraturan perundangan yang berkait dengan persoalan yang ada.

Saya memandang bahwa terdapat kesamaan dalam esensi cara penyelesaian masalah oleh pihak Tesla seperti saya sebutkan di atas dengan apa yang akan ditempuh negara dalam kasus sengketa di WTO. Kemampuan mendefisikan metrik golden time merupakan kunci jitu yang tidak saja memupuskan belenggu persoalan.

Lebih dari itu menjadi loncatan untuk tumbuh dan terbukanya ruang manfaat dan keunggulan yang lebih besar di masa depan.

Kecemerlangan dan kemilau aksi dalam golden time tidak pernah disandingkan dengan kusam dan segala pilu masa lalu. Dunia yang berubah sedemikian cepat dan terbuka mengajarkan semua pihak untuk berhidmat pada standar global yang sama.

Bahwa referensi untuk semua prestasi itu telah bergeser dan kini letaknya berada di masa depan. Keadaan yang telah menjadi kelaziman yang bahkan, seperti yang kita alami sekarang, menjadi penentu seberapa besar daulat bangsa atas kekayaannya sendiri.

Dengan perspektif seperti itu, sebagai pengajar dan pembelajar dengan sedikit pengalaman layanan industri secara profesional, timbul pertanyaan di dalam diri saya sendiri. Unsur-unsur apa yang baik disertakan dan disemai di bawah bentang atmosfir
pendidikan tinggi kita saat ini? Rasanya kita memang memerlukan banyak lompatan berani demi menjadikan masa studi bertahun-tahun itu sebagai sebenar-benarnya golden time untuk tumbuhnya generasi yang berjaya di masa depan.

Itu adalah tantangan yang nyata bagi setiap institusi pendidikan tinggi dan madrasah pada umumnya. Bukankah sudah semestinya memang demikian? Wallahualam

Iwan Yahya. Dosen dan peneliti. The Iwany Acoustics Research Group (iARG) Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta.

(rdp/rdp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT