Mahasiswa Terjerat "Pinjol"

ADVERTISEMENT

Kolom

Mahasiswa Terjerat "Pinjol"

Yudha Nata Saputra - detikNews
Kamis, 24 Nov 2022 13:40 WIB
Ilustrasi pinjol
Ilustrasi: Shutterstock
Jakarta -

Ratusan mahasiswa IPB University terjerat pinjaman online (pinjol) menunjukkan perlunya upaya untuk terus meningkatkan literasi keuangan di kalangan mahasiswa. Literasi keuangan diperlukan seiring dengan meningkatnya akses masyarakat terhadap berbagai produk layanan keuangan, sehingga masyarakat dapat terlindungi ketika menggunakan berbagai produk layanan keuangan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan di bidang teknologi informasi telah meningkatkan akses masyarakat terhadap berbagai produk layanan keuangan tadi. Pinjaman online merupakan salah satu contoh produk layanan keuangan yang hadir seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Dengan kehadiran pinjol, masyarakat dapat meminjam tanpa perlu bertatap muka secara fisik.

Di satu sisi tentunya ini memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pinjamannya. Tetapi jika tidak dengan bijak memanfaatkannya, maka yang terjadi sebaliknya. Di sinilah letak pentingnya untuk terus meningkatkan literasi keuangan masyarakat supaya mereka bisa menerima manfaat dari berbagai produk layanan keuangan yang dihadirkan tetapi sekaligus terhindar daripada masalah di kemudian hari.

Jika diamati masih terdapat gap yang cukup jauh antara meningkatnya akses masyarakat dalam mengakses berbagai produk layanan keuangan dengan literasi keuangan. Hasil Survei Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 49,68 persen dan inklusi keuangan sebesar 85,10 persen. Sementara itu hasil SNLIK 2019 menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 38,03 persen dan inklusi keuangan 76,19 persen.

Hasil SNLIK yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di atas menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat kita masih di bawah indeks literasi inklusi keuangannya yang terpaut cukup jauh. Hal ini yang menjadi penyebab banyaknya masyarakat yang justru bermasalah dalam ketika menggunakan berbagai produk layanan keuangan yang ditawarkan kepadanya.

Kecepatan layanan produk layanan keuangan dalam meningkatkan akses masyarakat baik dalam bentuk menyediakan produk-produk yang dibutuhkan maupun dalam hal aspek pemasarannya secara otomatis akan meningkatkan indeks inklusi keuangan masyarakat, apalagi ditambah dengan pemanfaatan teknologi informasi yang begitu masif. Tetapi hal ini perlu disertai dengan usaha untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat dalam mengakses berbagai produk layanan keuangan tersebut.

Tentu sangat disayangkan dengan kasus yang menimpa ratusan mahasiswa IPB University yang terjerat pinjol ini, mengingat akan mengganggu tugas utama mereka sebagai mahasiswa untuk belajar. Bayangkan saja, jika mahasiswa harus dikejar-kejar untuk melunasi utangnya sudah dapat dipastikan stres apalagi mahasiswa ini rata-rata belum memiliki penghasilan sendiri.

Seperti kita ketahui dalam prinsip pemberian pinjaman dikenal dengan prinsip 5C. Character yang berhubungan dengan karakter peminjam; Capacity yaitu kemampuan peminjam dalam melunasi hutangnya; Collateral yaitu jaminan yang bisa disita jika peminjam tidak dapat memenuhi kewajibannya; Capital yaitu kondisi kekayaan yang bisa dilihat dari ratio keuangan; Condition yaitu kondisi ekonomi.

Dengan mencermati prinsip pemberian pinjaman di atas, tentu kita bisa berkaca, apakah peminjam yang berstatus mahasiswa tadi bisa memenuhi kelima persyaratan tadi sehingga layak mendapatkan pinjaman? Jika prinsip-prinsip di atas diterapkan dengan ketat, maka tentunya kemungkinannya kecil untuk banyak mahasiswa terjerat pinjol, di sinilah penekanannya.

Di sisi lain, peminjam yang berstatus mahasiswa ini juga bisa mengetahui apakah dirinya memang layak untuk mendapatkan pinjaman atau tidak dengan melihat persyaratan pemberian pinjaman tadi. Di sinilah pentingnya untuk terus meningkatkan literasi keuangan di masyarakat, dan ini sudah menjadi tanggung jawab pemerintah sebagai regulator dan perusahaan penyedia produk jasa layanan keuangan.

Jadi di satu sisi baik pemerintah maupun perusahaan perlu berupaya untuk terus meningkatkan literasi keuangan masyarakat termasuk di kalangan mahasiswa agar ke depan tidak ada lagi kasus mahasiswa yang terjerat pinjol. Hal ini cukup beralasan mengingat pemerintah dan perusahaan berkepentingan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap berbagai produk layanan keuangan tadi.

Yudha Nata Saputra dosen Pascasarjana STT Cipanas

Simak Video: Polisi Beberkan Modus Penipu Ratusan Mahasiswa IPB

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT