Menguji Pertumbuhan Ekonomi

ADVERTISEMENT

Kolom

Menguji Pertumbuhan Ekonomi

Mansur Afifi - detikNews
Kamis, 24 Nov 2022 11:15 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.
Ilustrasi: dok. detikcom
Jakarta -

Perekonomian Indonesia secara mengejutkan tumbuh positif sepanjang tiga kuartal terakhir pada 2022. Pada kuartal pertama pertumbuhan ekonomi mencapai 5,02% kemudian meningkat menjadi 5,46% pada kuartal kedua dan 5,72% pada kuartal ketiga. Keterkejutan itu dipicu oleh berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan situasi perekonomian domestik dan global yang tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Isu ini mencuat di acara "Flagship Diseminasi Laporan Nusantara serta Launching Buku Penguatan Struktur Ekonomi Indonesia dan Pariwisata" di Nusa Dua Bali pada 18 November 2022. Ada beberapa fakta yang menyebabkan mengapa angka pertumbuhan ekonomi tersebut harus diuji.

Pertama, tren pertumbuhan ekonomi global menuju pengujung 2022 makin melemah dan diperburuk dengan tekanan inflasi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS), Kawasan Eropa, dan Jepang diperkirakan makin melemah hingga 2023 dengan risiko mengalami resesi. Hal ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang terus berlanjut sehingga menimbulkan fragmentasi ekonomi, perdagangan, dan investasi.

Selain itu, kebijakan moneter yang ketat turut memperburuk kinerja perekonomian secara keseluruhan. Hal ini tentu memberi dampak pada arus ekspor Indonesia ke pasar global.

Kedua, inflasi global cenderung makin meningkat seiring dengan gangguan rantai pasokan dan kesempatan kerja yang masih terbatas terutama di AS dan Eropa. Tren kenaikan inflasi tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga di negara berkembang.

Kondisi ini menyebabkan bank sentral di banyak negara menaikkan suku bunga acuan. Bank Sentral AS secara terus menerus menaikkan suku bunga acuan, Fed Fund Rate, sehingga menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Kebijakan tersebut mendorong terjadinya arus modal keluar (capital flight) dan tekanan nilai tukar mata uang dari berbagai negara.

Ketiga, tingkat inflasi masih relatif tinggi dan terus meningkat di seluruh wilayah di Tanah Air. Inflasi indeks harga konsumen (IHK) mencapai 5,95% secara tahunan (y-o-y) pada triwulan III - 2022 yang berarti terjadi peningkatan dari triwulan II - 2022 yang berada di level 4,35% (y-o-y). Inflasi yang tinggi akan mengurangi daya beli masyarakat dan menjadi disinsentif untuk berinvestasi.

Keempat, sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung makin melemah dan berada di level 15.622,50 pada penutupan pasar 17 November 2022. Melemahnya nilai tukar rupiah akan meningkatkan biaya produksi barang yang mengandung komponen impor.

Kelima, hingga September 2022 realisasi belanja negara baru mencapai 61,6% atau Rp 1.913,9 triliun dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 yang sebesar Rp 3.106,4 triliun. Serapan belanja yang rendah dapat mengurangi efektivitas APBN dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomi.

Keenam, kenaikan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) yang dilakukan secara berturut-turut selama empat bulan menyebabkan suku bunga acuan meningkat sebesar 1,75% yaitu dari 3,5% pada Juli 2022 hingga menjadi 5,25% pada November. Kenaikan suku bunga acuan menyebabkan kenaikan suku bunga simpanan dan suku bunga kredit meskipun tidak secara simultan. Konsekuensinya, tingkat investasi menurun, produksi dan produktivitas stagnan jika tidak melambat.

Sumber Pertumbuhan

Meskipun dihadapkan pada berbagai dinamika dan tantangan, perekonomian nasional menunjukkan perbaikan yang signifikan. Sumber utama pertumbuhan selama tiga triwulan terakhir adalah dari membaiknya permintaan domestik yang disokong oleh konsumsi swasta yang tinggi, investasi yang tetap positif, dan ekspor yang terus bertumbuh.

Membaiknya mobilitas, berkembangnya aktivitas ekonomi, dan kuatnya keyakinan konsumen menyebabkan kegiatan produksi terus bertumbuh. Meskipun dibayangi dengan kenaikan harga, kinerja lapangan usaha meningkat seperti batu bara, CPO, besi, dan baja seiring dengan peningkatan permintaan dari mitra dagang utama.

Kebijakan stimulus pemerintah dengan memberikan bantuan sosial menyebabkan daya beli masyarakat dapat dipertahankan di tengah kenaikan inflasi akibat pengalihan subsidi BBM. Selain itu, bauran kebijakan yang diambil Bank Indonesia dan koordinasi yang dilakukan mitra strategis dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah dan Pusat (TPID dan TPIP) dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) berhasil mengerem laju inflasi dan mengendalikan dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM.

Meskipun demikian perlu diwaspadai bahwa dampak kenaikan suku bunga acuan terhadap suku bunga pinjaman hingga triwulan III belum signifikan. Kenaikan suku bunga pinjaman akan naik signifikan dalam beberapa bulan ke depan. Oleh karena itu, mitigasi atas kenaikan suku bunga pinjaman melalui operasi moneter perlu dilakukan secara terukur, prudent, dan berkelanjutan.

Kenaikan suku bunga pinjaman semakin membebani pengusaha karena biaya modal yang bertambah dan di saat yang sama harga input produksi dan energi juga meningkat. Untuk itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu memberikan insentif berproduksi melalui pengurangan pungutan dan keringanan pajak bagi para pelaku industri. Di samping itu, pemerintah perlu memberikan subsidi bunga kepada pelaku usaha atau industri mikro, kecil, dan menengah.

Selain itu, kondisi ekonomi global yang masih bergejolak dapat menekan laju ekspor komoditas primer Indonesia. Oleh karena itu, ide atau keinginan pemerintah untuk hilirisasi sumber daya alam (SDA) mentah produk pertambangan dan pertanian perlu segera diimplementasikan. Hilirisasi SDA tidak hanya dapat meningkatkan nilai tambah komoditas tetapi juga menciptakan kesempatan kerja dan transfer teknologi.

Untuk mempertahankan tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat yang tergerus oleh kenaikan harga, pemerintah perlu meluncurkan program social safety net (jaring pengaman sosial) seperti bantuan sosial, bantuan langsung tunai dan bantuan subsidi upah. Kebijakan ini tidak hanya dapat menjadi insentif berproduksi bagi pelaku industri/usaha, tetapi juga menjaga pertumbuhan ekonomi yang positif sehingga kegiatan usaha masyarakat terus berkembang dan kesempatan kerja tetap tercipta.

Meskipun perekonomian global masih bergejolak, harapan pertumbuhan ekonomi domestik yang positif tetap ada jika kita berfokus menyelesaikan persoalan ekonomi dalam negeri dengan cerdas dan cermat. Semoga!

Mansur Afifi Guru Besar Ekonomi Universitas Mataram

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT