Mereduksi Spekulasi, Mengantisipasi Resesi

ADVERTISEMENT

Kolom

Mereduksi Spekulasi, Mengantisipasi Resesi

Andi Suryadi - detikNews
Senin, 21 Nov 2022 15:00 WIB
Mereduksi Spekulasi, Mengantisipasi Resesi
Andi Suryadi (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -
All investors labor under a cruel irony: We invest in the present, but we invest for the future. And, unfortunately, the future is almost entirely uncertain – Benjamin Graham

Bank sentral memainkan peran penting untuk mencegah dampak tak terduga secara global yang terjadi akibat kenaikan suku bunga The Federal Reserve, tekanan geopolitik, dan disrupsi rantai pasok. Kredibilitas dan sistematika kebijakan dibutuhkan demi menjaga reaksi fungsi pasar dan pengendalian spekulasi. Formulasi yang sistematik, cepat, dan terukur akan menjadi pembeda dalam siklus ekonomi yang segera dihadapi.

Bank of England (BoE) beberapa waktu lalu melakukan aksi heroik dengan melakukan intervensi darurat terhadap pasar selang enam hari pasca Kwasi Kwarteng mengumumkan program mini-budget atau pemotongan pajak yang tidak didanai senilai £45 juta. Andrew Baily dan kolega secara sigap menyelamatkan tanah Britania yang hampir saja membuka lebih cepat tabir krisis yang tak tahu seberapa parah dampaknya bagi belahan bumi lain. Pound sterling turun lebih ke level terendah (£1 = $1.03) dan imbal hasil (yield) utang pemerintah Inggris tenor 30 tahun yang menyentuh level 5%.

Meskipun, faktanya kredibilitas dan situasi tidak sepenuhnya membaik di antara para Pension Funds, tetapi hal penting dari kasus ini adalah kesiapan bank sentral dalam bertindak secara cepat, terukur, dan tepat. Tanpa pembelian senilai £65 miliar ($71 miliar), guncangan pasar obligasi pemerintah Inggris (gilts) bukan hanya memberikan krisis pada negara itu, melainkan dampak tak terkira yang meluas.

Intervensi semacam ini hanya bekerja bila memang sejalan dengan fundamental makro-ekonomi. Bank sentral di pelbagai dunia, termasuk Indonesia kiranya perlu menyiapkan diri dalam kesigapan BoE. Terlebih, nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan. Sampai dengan tulisan ini dibuat, kurs transaksi Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah berada di level 15.760 terhadap dolar AS.

Terlebih, suku bunga BI yang bisa dibilang relatif terlambat dinaikkan di tengah hawkish-nya the Federal Reserve. Belum lagi inflasi inti domestik yang terus mengalami peningkatan, kini menyentuh angka 3,31% dan headline inflasi tercatat 5,71%. Bahkan, mengacu BI masih melanjutkan pembelian obligasi pemerintah hingga akhir tahun ini. Kebijakan BI sebelumnya juga telah diwanti-wanti oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

Meningkatkan Efektivitas

The Fed memang dikritik karena dianggap terlambat menaikkan suku bunga oleh para ekonom. Kini, mereka dikritik pula karena menaikkan suku bunga terlalu cepat. Sikap The Fed yang terbilang inkonsisten inilah yang menjadi fokus perhatian. Kondisi tidak jauh berbeda sebenarnya terjadi pada BI. Bisa dibilang BI cukup terlambat mengingat disparitas suku bunga saat ini dengan the Fed yang terbilang cukup dekat.

Bukan hanya itu, pelemahan rupiah yang semakin serius dan dampak dari Quantitative Tightening yang akan sangat terasa tahun depan bisa saja membawa kejutan yang tak tersampaikan oleh pesan manis makro-ekonomi selama ini.

Dalam dunia investasi, ada ungkapan yang menyatakan, "semakin meyakinkan pesan yang disampaikan, maka semakin layak untuk dikhawatirkan." Data-data tampaknya memang bisa berbicara sebaliknya dari apa yang disampaikan para pemangku kebijakan. Mulai dari tingkat inflasi dan pelemahan nilai rupiah, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) seyogianya cukup membuat BI mulai pasang kuda-kuda bersiap dengan skenario terburuk.

Data-data tersebut sebetulnya ingin berbicara bahwa ada kondisi berat yang memang sedang terjadi dan mungkin lebih parah bila dibiarkan. Badai PHK terjadi bukannya hanya pada industri start-up, melainkan sudah meluas ke padat karya seperti tekstil. Tampaknya pemerintah memang kaget dengan hal ini karena menganggap sektor tersebut masih kuat. Bukan tidak mungkin momentum yang juga dinikmati saat ini karena kenaikan harga komoditas akan mulai terkikis dan mengarah pada PHK massal yang jauh lebih besar.

Belum lagi persoalan-persoalan yang mungkin langsung mengarah pada sistem finansial seperti fenomena paylater dan pinjaman online yang menjamur. BI kini mesti membantu para investor untuk memahami tindakan mereka. Berkaca dari the Fed misalnya, Greg Ip dalam tulisannya di Wall Street Journal secara terang-terangan menyebutnya tidak mengikuti formula reaksi fungsi yang konsisten.

El-Erian dan Lawrence Summers pun demikian. Keduanya terbilang sangat vokal terhadap tindakan kebijakan the Fed dengan mengatakan mereka di belakang kurva dan mungkin akan flip-flop. Untuk memberi pesan yang jelas ini, BI mesti melakukan tindakan preemptif lebih jauh, serta membantu investor domestik untuk memahami dan mengantisipasi kebijakannya.

Pesan yang mesti bisa disampaikan dengan baik adalah bahwa suku bunga BI bergerak secara sistematik terhadap tujuannya dan mengacu pada data-data ekonomi dan finansial yang mungkin tak tertangkap fenomena makro. Sebab, berita pembandingan yang acapkali kurang kontekstual bisa saja salah dipahami dan mengulangi situasi 1998. Oleh karena itu, penting untuk mengikuti fungsi reaksi yang sistematik untuk membendung spekulasi pasar yang berlebih. Sebab, bagi pelaku pasar, tantangannya selalu terkait dengan mencari tahu kapan dan seberapa besar keputusan moneter yang dibuat mampu mengatasi pelemahan ekonomi.

Andi Suryadi Investment Research Analyst di CIC


(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT