Kendaraan Listrik Jangan Berhenti di KTT G20

ADVERTISEMENT

Kolom

Kendaraan Listrik Jangan Berhenti di KTT G20

Djoko Setijowarno - detikNews
Senin, 21 Nov 2022 11:08 WIB
Djoko Setijowarno, pengamat transportasi Univ Soegijapranata
Djoko Setijowarno (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Euforia pengembangan kendaraan listrik sangat marak menjelang KTT G20. Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam upaya menunjukkan kinerja kendaraan listrik yang dianggap sebagai transportasi masa depan. Mulai touring kendaraan listrik Jakarta - Bali hingga kolaborasi riset antara BUMN dengan Perguruan Tinggi. Upaya ini jangan berhenti sampai KTT G20.

Touring Jakarta - Bali untuk menguji kemampuan kendaraan listrik untuk perjalanan jarak jauh. Perjalanan 1.250 kilometer ditempuh dalam empat hari. Touring ini melibatkan sejumlah produsen kendaraan listrik, seperti DFSK Gelora, Hyunday, Lexus (Toyota), Nissan, Wuling, Fuso, Mistsubishi, dan Bluebird Grup (BYD). Juga ada dua armada bus listrik disertakan dalam touring ini, yakni Sinar Armada Globalindo (SAG) dan Zhongtong. Total (mobil dan bus) ada 13 unit kendaraan listrik.

Selain mobil dan bus, juga diikuti sejumlah sepeda motor listrik, namun untuk perjalanan jarak pendek dan tidak masuk jalan tol.

Bus listrik yang sebenarnya hanya digunakan untuk angkutan perkotaan diuji coba perjalanan antarkota juga bisa berjalan lancar dan selamat sampai tujuan. Selama perjalanan berhenti di tujuh lokasi untuk melakukan pengisian baterai (Rest Area 207 A Cirebon, Semarang, Solo, Rest Area 626 A Madiun, Surabaya, Jember dan Bali) dan acara sosialisasi di dua tempat, yakni Solo dan Jember.

Di Jember sempat dilakukan pawai kendaraan listrik keliling kota. Dan, bersamaan dengan acara peluncuran naik angkot gratis. Untuk mendukung udara bersih, Kabupaten Jember punya slogan "Wes Wayahe Jember Langit Biru".

Disimpulkan untuk saat ini, kendaraan listrik untuk perjalanan jarak jauh masih terkendala. Kendalanya adalah masih terbatasnya penyediaan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Untuk sementara waktu hanya bisa untuk mobilitas perkotaan, itu pun harus sudah siap dulu penyediaan SPKLU di sejumlah tempat yang strategis.

Bercermin dari program penggunaan bahan bakar gas yang gagal karena minimnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), hal yang sama jangan sampai terulang kembali jika menganggap kendaraan listrik akan menjadi sarana transportasi di masa depan.

Mengantar Delegasi

Pada saat KTT G20, pemerintah menyiapkan 30 bus listrik berukuran sedang dan satu bus listrik berukuran besar. Bus buatan PT INKA dengan operator Perum Damri yang bertugas mengantar para delegasi tamu negara, panitia, dan pekerja untuk menuju tempat pertemuan serta tempat menginap mereka di kawasan Nusa Dua. Pengemudi diambilkan dari sejumlah pengemudi yang terbaik dari sejumlah unit kerja Perum Damri se-Indonesia.

Sementara TNI mengerahkan 252 unit kendaraan listrik berbasis baterai untuk mengawal para tamu negara partisipan KTT G20. Mobil listrik untuk pengawalan sebanyak 42 unit dengan merek Hyundai, sedangkan sepeda motor listrik untuk pengawalan sebanyak 126 unit dan sepeda motor listrik untuk penyelamatan sebanyak 84 unit.

Kolaborasi antara BUMN (PT Inka), Karoseri (Piala Mas dan Tentrem), dan Perguruan Tinggi (ITS, Unair, UGM, dan ISI Denpasar) untuk menciptakan bus listrik memacu penggunaan produk dalam negeri.

Sekarang sudah diselenggarakan pembenahan layanan angkutan umum dengan skema pembelian layanan (buy the service) 11 kota. Ada tiga kota rencananya diberikan tambahan koridor baru dengan menggunakan armada bus listrik, yaitu Trans Metro Dewata (Bali), Trans Pasundan (Bandung,) dan Trans Semanggi Surabaya.

Anggaran Subsidi

Pada Mei 2022, Kementerian Keuangan menambah anggaran subsidi dan kompensasi energi tahun ini sebanyak Rp 349,9 triliun. Dengan tambahan ini, anggaran subsidi dan kompensasi energi 2022 menjadi Rp 502,4 triliun.

Laporan dari Kementerian Keuangan menunjukkan BBM bersubsidi di Indonesia rata-rata lebih dari 80 persennya dinikmati oleh golongan masyarakat ekonomi menengah ke atas. Setidaknya dari dua jenis BBM bersubsidi, yakni solar dan pertalite ternyata yang dinikmati oleh masyarakat tidak mampu relatif minim, yakni rata-rata kurang dari 20 persen.

Komposisi konsumsi BMM di Indonesia terbesar untuk transportasi, yakni 79,14 persen. Berikutnya industri 12,62 persen, komersial 1,48 persen, rumah tangga 0,74 persen dan lainnya 6,03 persen. Jika mengacu angka subsidi BBM Rp 502,4 triliun, maka subsidi di sektor transportasi Rp 397 triliun.

Sementara, komposisi pengguna BBM subsidi (ESDM, 2012) sebanyak 93 persen dinikmati kendaraan pribadi (mobil 53 persen dan sepeda motor 40 persen), 4 persen mobil barang dan 3 persen transportasi umum.

Impor BBM sudah di atas 50 persen, tentunya akan mengganggu keuangan negara. Bagi daerah-daerah yang kesulitan mendapatkan penyaluran BBM, sebaiknya didesak warganya menggunakan kendaraan listrik.

Mengatasi Krisis Energi

Warga Kota Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua sejak 2007 telah menggunakan kendaraan listrik dalam mobilitas kesehariannya. Bahkan sejak 2011 sudah diterbitkan Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati yang mengatur kewajiban penggunaan kendaraan listrik. Saat ini tercatat lebih dari 4.000 unit kendaraan listrik beroperasi di Kabupaten Asmat.

Hal yang mungkin tidak dinyana oleh pemerintah pusat jika sebenarnya ada warga Indonesia sudah lama menggunakan kendaraan listrik. Ojek dengan kendaraan listrik sebagai angkutan umum wajib berpelat kuning dan pengemudinya berseragam.

Transportasi menggunakan kendaraan listrik diharapkan mampu mengatasi krisis energi dan mendukung udara bersih. Perbanyak kota-kota di Indonesia untuk segera membenahi layanan transportasi umum dengan menggunakan bus listrik produksi dalam negeri.

Melibatkan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sejumlah BUMN besar untuk pengadaan bus listrik akan sangat membantu produktivitas bus buatan PT Inka. Euforia penggunaan kendaraan listrik tidak hanya heboh dan berhenti di KTT G20. Namun ini adalah momentum makin gencarnya penggunaan kendaraan listrik terutama bus listrik sebagai sarana transportasi umum di banyak kota.

Djoko Setijowarno akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT