Air Mata Keadilan

ADVERTISEMENT

Kolom

Air Mata Keadilan

Muh. Ilham Akbar - detikNews
Jumat, 18 Nov 2022 10:21 WIB
ilham akbar
Muh. Ilham Akbar (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Menangis terisak-isak sembari mengucap, "Mohon maaf, Pak Hakim mungkin saya sangat panjang (berkata-kata), tapi di sinilah saya dapat meluapkan bagaimana hancurnya hatiku." Ini adalah kalimat ibunda almarhum Brigadir Joshua. Korban pembunuhan yang diduga melibatkan Ferdy Sambo, salah satu mantan pejabat tinggi di institusi kepolisian.

Saya menggunakan kata "diduga", demi menghargai proses hukum yang sedang berlangsung. Tetapi terlepas dari hal tersebut, perlu kiranya kita melihat persoalan ini pada sudut pandang keluarga korban. Mengapa demikian? Karena beberapa terdakwa hampir dapat dipastikan telah mengakui kesalahannya tersebut.

Fakta menunjukkan bahwa kasus ini tengah dalam proses persidangan yang menghadirkan sang ibunda almarhum Brigadir Joshua. Menariknya, hakim yang mengadili kasus tersebut memberikan porsi yang besar bagi orangtua almarhum, untuk menyampaikan pesan-pesan dalam persidangan. Bagi saya ini bukan merupakan persoalan yang hanya dapat dipandang sebagai kegiatan mencari kepastian hukum saja.

Lebih dari itu ada nilai keadilan yang harus mampu dihayati bagi jaksa dan hakim sebagai institusi penegak hukum yang mewakili negara. Sebab hanya dengan menegakkan keadilan, maka hukum akan memiliki kewibawaan dan martabat di hadapan publik. Sehingga hukum akan muncul sebagai panglima, bukan sebagai alat keberpihakan terhadap mereka yang mampu memutarbalikkan fakta.

Jika fakta dibolak-balik setidaknya keadilan tetap menjadi penuntun. Seorang pendeta terkemuka Eropa, Agustin Of Hippo pernah mengatakan, "An unjust law is no law at all" dengan intisari makna bahwa hukum yang tidak adil tidaklah dapat disebut hukum. Dalam konteks kasus penembakan ini, maka hakim tidak boleh hanya sekadar menjatuhi hukuman, tanpa mewujudkan keadilan yang harus terobati bagi keluarga korban.

Memberi Harapan

Selama ini kejaksaan dan lembaga kekuasaan kehakiman seperti pengadilan kerap mendapat kritikan keras. Baik dari aspek pelayanan terhadap warga negara yang mencari keadilan maupun pada aspek tuntutan dan putusan yang tidak jarang (seringkali) mendahului rasa keadilan. Dengan alasan menegakkan kepastian hukum, tetapi di saat bersamaan lupa menegakkan keadilan. Praktik keadilan dikesampingkan dengan alasan tidak sesuai dengan standar norma hukum terus terjadi.

Namun di kasus penembakan Joshua ini, setidaknya hakim dan jaksa seakan memberi harapan ada jalan bagi keluarga korban untuk mendapatkan keadilan. Misalnya saat yang mulia majelis hakim memberikan kesempatan untuk seluruh kesaksian dari keluarga korban, disampaikan dalam persidangan resmi tersebut. Artinya peradilan yang independen dan imparsial sejauh ini telah ditunjukkan majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara.

Secara dramatis Ibunda Brigadir Joshua, beberapa kali terharu dan emosional. Hingga sesekali histeris dalam tangisan meluapkan seluruh keluh kesahnya. Saya menegaskan air mata ibunda tercinta dan kalimat pengharapan untuk yang mulia hakim adalah bukti nyata bahwa pengadilan masih dipercaya bagi mereka yang mencari keadilan.

Kepercayaan tersebut adalah impian oleh seluruh masyarakat Tanah Air di seluruh Republik Indonesia. Agar perkara yang melibatkan seorang jenderal dijatuhi sanksi hukum seadil-adilnya. Sehingga nantinya akan terlihat bagaimana keadilan tidak pandang bulu, mampu menunjukkan eksistensinya.

Keadilan dalam perkara ini tanpa berlebihan saya berani mengatakan akan "menunjukkan wibawa negara dalam menghadirkan keadilan di ruang publik". Sebab seluruh mata dari Sabang sampai Merauke tertuju pada media sosial dan stasiun televisi nasional yang menayangkan sidang pembunuhan kasus Brigadir Joshua. Inilah bentuk perhatian publik atas harapan dan impian, kiranya perkara pembunuhan yang terjadi diselesaikan dengan prinsip keadilan.

Keadilan merupakan hal yang sangat penting bagi masa depan hukum, sebab di dalamnya ada harapan dan kepercayaan yang akan dipertaruhkan. Betapa penting keadilan, bahkan pada gerbang Fakultas Hukum Universitas Harvard di Inggris terpampang jelas Surah An-Nisa ayat 135 dengan makna "wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu-bapak dan kaum kerabatmu."

Maka dengan demikian dalam kasus pembunuhan Brigadir Joshua sudah sepatutnya hakim menggali nilai keadilan yang harus ditegakkan. Apabila di akhir persidangan fakta mengarah pada pembunuhan berencana, sudah sepatutnya dan selayaknya hukuman mati dijatuhkan.

Putusan yang adil akan memberikan edukasi kepada publik dan seluruh anggota kepolisian Republik Indonesia. Dengan bukti sekelas jenderal bintang dua tanpa pembedaan pangkat dan jabatan di muka persidangan sama kedudukannya seperti rakyat biasa. Ini adalah pesan penting atau ultimatum bagi mereka yang membanggakan jabatan, untuk tidak bermain-main dengan hukum. Menunjukkan di mata dunia bahwa penegakan hukum adalah panglima utama di republik yang kita cintai ini.

Terakhir dari saya, air mata keadilan adalah nurani publik bagi penegakan hukum yang menjunjung tinggi keadilan.

Muh. Ilham Akbar, S.H, M.H pengamat hukum tata negara

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT