Simalakama Peredaran Minuman Alkohol Tradisional

ADVERTISEMENT

Kolom

Simalakama Peredaran Minuman Alkohol Tradisional

T Keizerina Devi Azwar - detikNews
Selasa, 15 Nov 2022 14:30 WIB
pengiriman arak bali ke mojokerto digagalkan
Polisi menggagalkan pengiriman arak bali (Foto: dok. Humas Polres Mojokerto Kota)
Jakarta -

Peredaran minuman alkohol tradisional bak buah simalakama. Bagaimana tidak, di satu sisi peredaran minuman alkohol tradisional kerap mendapatkan perlakuan tegas oleh aparat kepolisian. Tak jarang ditemukan kasus-kasus penyitaan terhadap minuman alkohol tradisional tersebut.

Tetapi di sisi lain kebutuhan akan minuman alkohol tradisional menjadi suatu yang mutlak bilamana dikaitkan dengan kebudayaan di Indonesia. Sehingga menimbulkan kegalauan bagi pelaku usaha yang memproduksi minuman alkohol tradisional. Apakah mereka tetap bertahan untuk memproduksi dengan disertai bayang-bayang "penyitaan" oleh aparat, atau memutuskan untuk tidak lagi memproduksi minuman tersebut.

Eksistensi minuman alkohol tradisional tak mungkin dapat kita ingkari. Sebut saja Sopi yang terbuat dari aren atau enau berasal dari Maluku dan Flores, Swansrai Papua yang terbuat dari air kelapa, Ballo Makassar yang terbuat dari pohon palem, Tuak Nifaro dari Nias, Arak Bali, Lapen dari Yogyakarta, hingga Cap Tikus dari Manado. Berbagai daftar nama minuman alkohol tradisional yang tersebar dari segala penjuru ini menunjukkan bahwa negeri kita kaya akan jenis-jenis minuman alkohol tradisional. Sudah sepantasnya pemerintah lebih peka terhadap keberadaan minuman alkohol tradisional ini.

Minuman alkohol tradisional berperan penting dalam kebudayaan serta memiliki nilai penting dalam masyarakat adat sejak zaman dahulu mulai dari ritual keagamaan, ritual adat istiadat, dan simbol dalam kegiatan kehidupan sehari-hari. Namun dengan diberlakukannya penyitaan terhadap minuman alkohol tradisional membuat minuman alkohol impor menjadi pilihan utama masyarakat. Lantas bagaimana dengan nasib para produsen minuman alkohol tradisional di daerah jikalau hasil produksi mereka kerap disita karena terganjal izin beredar dari pemerintah setempat?

Rancangan Undang-Undang tentang larangan minuman beralkohol (RUU Minol) sempat menuai perdebatan di masyarakat kala itu. Kata "larangan" diyakini merupakan makna filosofis dan semangat yang menegaskan bahwa minol adalah barang terlarang, karena tidak hanya merusak badan tetapi juga biang tindakan kejahatan, meskipun naskah akademis RUU Minol tidak memberikan data yang spesifik terkait tudingan itu. Kendati demikian, larangan minuman beralkohol tidak berlaku untuk kepentingan terbatas. Seperti kepentingan adat, ritual keagamaan, wisatawan, farmasi, dan tempat-tempat yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan.

Keberadaan payung hukum untuk mengatur minuman alkohol tradisional menjadi sebuah solusi. Apalagi di tengah arus import minuman beralkohol yang berasal dari luar negeri. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, nilai impor minuman alkohol mencapai US$ 90,8 miliar pada 2017. Setahun setelahnya, nilai impor minuman alkohol di dunia sempat turun menjadi US$ 65,23 miliar. Angkanya lalu kembali meningkat menjadi US$ 97,3 miliar pada 2019.

Senada dengan itu, Kementerian Keuangan mengumumkan minuman beralkohol menyumbangkan sekitar Rp 7,3 triliun pada penerimaan cukai negara pada 2019, jumlah yang disebut "besar bagi penerimaan negara". Maraknya temuan minuman beralkohol impor daripada minuman alkohol tradisional yang dijajakan oleh pedagang di daerah wisata seperti wilayah Labuan Bajo dan Lombok (terutama daerah Gili Trawangan) dituding sebagai bentuk "pilih kasih" pemerintah terhadap minuman beralkohol impor.

Bagaimana wisatawan asing dapat merasakan minuman alkohol tradisional Indonesia kalau terlalu sulit untuk didapatkan? Bahkan harus dibeli secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan oleh aparat. Sudah sepantasnya pemerintah bangga untuk mengakui keberadaan minuman alkohol tradisional di negeri ini. Seperti halnya dengan Jepang yang bangga mengakui arak sebagai minuman alkohol tradisional milik mereka yang bernilai budaya dan menjadi identitas negeri sakura itu.

Begitu juga terhadap Korea Selatan yang kerap menyisipkan scene meminum Soju dalam setiap produksi drama mereka. Soju, Sul, Munbaeju, Gyeongju, dan Gwasilju telah diproklamasikan sebagai warisan budaya tak benda oleh Lembaga Administrasi Warisan Budaya di Korea Selatan, bahkan ditempatkan ke dalam posisi yang penting atau important intangible cultural heritage.

Patut diberi apresiasi atas salah satu scene dalam film Ngeri-Ngeri Sedap di mana memperlihatkan minuman alkohol tradisional bernama Tuak dari Sumatera Utara yang diminum oleh Bapak Domu beserta kawan-kawannya sembari menyanyi di pinggiran Danau Toba. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya masih ada yang peka dan bangga terhadap keberadaan minuman alkohol tradisional ini sebagai bagian dari budaya masyarakat di daerah sekitaran Danau Toba.

Besar harapannya pemerintah pun belaku demikian. Keberadaan minuman alkohol tradisional akan sebatas menjadi minuman ilegal semata bilamana pemerintah tak kunjung peka melihat potensi profit dari minuman tersebut. Sebab mungkin saja wisatawan asing akan tertarik untuk mengonsumsi minuman alkohol tradisional milik kita daripada minuman alkohol impor mereka.

Aturan terkait minuman beralkohol mestinya memberikan perhatian khusus terhadap minuman alkohol tradisional. Pencabutan lampiran terkait investasi minuman keras dalam Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal menjadi "penghalang" bagi UMKM yang akan memproduksi minuman alkohol tradisional. Akibatnya penyitaan gencar dilakukan terkait ketiadaan izin untuk industri minuman beralkohol karena tidak mendapat izin dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Harusnya aturan ini dikecualikan terhadap industri minuman alkohol tradisional agar menjadi angin segar bagi produsen minuman alkohol tradisional di daerah untuk bersaing dengan minuman alkohol impor. Bukan tidak mungkin, minuman alkohol tradisional mendapatkan tempat di lidah wisatawan asing dan menambah pundi-pundi negara di sektor pariwisata.

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT