Secrets of Divine Love: Panduan Spiritualisme untuk Milenial

ADVERTISEMENT

Pustaka

Secrets of Divine Love: Panduan Spiritualisme untuk Milenial

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Senin, 14 Nov 2022 14:21 WIB
Foto buku Secrets of Divine Love (Rakhmad/detikcom)
Foto: Foto buku Secrets of Divine Love (Rakhmad/detikcom)
Jakarta -

Judul buku: Secrets of Divine Love; Penulis: A Helwa; Penerjemah: Marlina dan Arif; Penerbit: Quanta, Juni 2022; Tebal: 399 halaman

Tak ada kata 'terlalu muda' untuk mengamalkan laku spiritualisme. Namun, terkadang, orang-orang muda merasa sungkan untuk melakukannya. Entah karena karena kendala bahasa, atau rasa tak pantas karena usia muda yang masih nyaman dalam gelimang dosa.
Padahal, spiritualisme adalah salah satu cara agar tetap waras di zaman yang penuh ketidakpastian ini.

Maka, rasanya tepat jika menyebut buku 'Secrets of Divine Love' yang ditulis oleh A Helwa sebagai oase. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Quanta setelah versi bahasa Inggrisnya laris manis.

A Helwa sendiri dikenal sebagai seorang pembelajar spiritualisme Islam. Sebelum menulis buku ini, tulisannya yang ada di blog dan berbagai platform media sosial telah banyak menginspirasi orang, khususnya anak muda. Keahlian Helwa dalam menyajikan tulisannya ke hadapan para pembaca muda inilah barangkali yang membuat buku 'Secrets of Divine Love' layak untuk disimak.

Karena memang buku 'Secrets of Divine Love' ditulis dengan bahasa populer yang mengasyikkan. Uniknya, hal itu tidak membuat pembahasan dalam buku ini menjadi dangkal atau klise.

Ada senarai buku referensi soal Islam dan spiritualisme yang bisa dibilang cukup otoritatif. Misalnya seperti kitab-kitab hadis Bukhari Muslim, kitab karangan Imam Al-Ghazali, tafsir Al-Quran oleh Muhammad Asad hingga buku-buku Karen Armstrong dan Seyyed Hossein Nasr. Tak mengherankan jika buku ini juga dihiasi kutipan-kutipan mutiara dari tokoh seperti Rumi hingga Sayyidina Ali RA. Sumber literatur yang kaya membuat penjelasan-penjelasan Helwa bisa dipertanggungjawabkan.

Selain itu, cara Helwa untuk mengenalkan sebuah topik tertentu, jauh sekali dari kesan menggurui dan penghakiman. Ia lebih memilih menuntun pembaca melalui kisah atau analogi-analogi yang menarik.

Seperti ketika ia mengibaratkan berinvestasi selain kepada Allah itu bak seseorang yang menaruh es krim di tengah gurun padang pasir alias sia-sia, semuanya akan hilang diterpa panasnya sinar matahari. Analogi semacam ini rasanya memang terdengar aneh bagi orang-orang tua, tapi ia akan tampak lebih menarik untuk dibayangkan anak-anak muda.

Tema ketauhidan yang menjadi pokok dari buku ini juga bisa dituturkan dengan baik. Kisah terusirnya Adam dan Hawa usai tergoda Iblis diceritakan kembali. Meskipun kita sudah berulang kali mendengar kisah itu lewat kitab suci dan cerita para pemuka agama, Helwa membuat kisah ini melahirkan sudut pandang yang menarik soal keimanan. Keimanan bukan sekadar saat ketika bersaksi tentang keberadaan Tuhan, tetapi melampaui hal itu.
Namun bagi saya, yang paling menarik dari beragam topik di buku ini adalah ketika Helwa menjelaskan bahwa tujuan manusia hidup dan beribadah kepadaNya bukan semata untuk agar bisa meraih surga dan diselamatkan dari neraka.

Ia, dengan mengutip ujaran masyhur Rabiah Al-Adawiyah, menekankan bahwa tujuan dari segala ibadah dan akhir kehidupan ini ialah untuk mencapai cinta Tuhan. Sesuatu yang sudah ribuan kali dibahas buku-buku tasawuf selama beribu-ribu tahun lalu. Helwa mengulang pesan ini dan membuatnya tidak using meskipun sudah terlampaui sering dibahas.
Helwa bukan sosok penulis yang terjebak dalam dikotomi moral hitam-putih. Bahwa hidup bukan perkara surga dan neraka.

Praktis, membaca buku ini pun saya seperti melihat harapan pada ekosistem beragama yang penuh kedamaian di era generasi saat ini.

Pesan-pesan spritualisme penuh cinta dalam 'Secret of Divine Love' menjauhkan pembacanya dari tafsir tunggal agama yang kerap penuh amarah.

Alih-alih menyuburkan fanatisme terhadap agama, buku ini justru akan mengantarkan pembacanya kepada wajah agama yang ramah penuh cinta kasih. Buku ini mengembalikan pembacaan kita tentang ajaran 'agama sebagai renungan dan personal' di tengah maraknya orang yang membaca ajaran agama sekadar 'sebagai kitab hukum yang kaku'.

Rasanya, 'Secrets of Divine Love' memang cocok untuk menjadi pemandu anak-anak milenial dan gen z yang malu-malu atau sungkan mempelajari agamanya kembali ketika ia merasa dosanya sudah menumpuk setinggi gunung. Seperti halnya buku-buku stoikisme dan ajaran tentang seni memelihara kewarasan, buku ini juga bisa menjadi pengingat di zaman yang kian tidak pasti.

Rakhmad Hidayatulloh Permana, wartawan detikcom.

(rdp/rdp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT