Integrasi Tanaman dan Ternak

ADVERTISEMENT

Kolom

Integrasi Tanaman dan Ternak

Yoseph Yoneta Motong Wuwur - detikNews
Senin, 14 Nov 2022 15:10 WIB
Integrasi Tanaman dan Ternak
Yoseph Yoneta Motong Wuwur (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -
Pertanian terintegrasi merupakan pola pertanian yang saling mendukung antara satu komoditas dan komoditas yang lainnya, sehingga biaya produksi dapat ditekan semaksimal mungkin dengan memanfaatkan komoditas lainnya yang ditanam dan/atau diolah secara bersamaan dalam satuan lahan petani.

Membangun pertanian integratif tanaman dan ternak harus didukung dengan inovasi teknologi yang berwawasan untuk masa depan. Tidak saja untuk meningkatkan pendapatan usaha taninya, tetapi kelestarian produk pertanian dan lingkungan. Teknologi ini juga menerapkan konsep produksi bersih yakni teknologi tanpa limbah, karena limbah peternakan digunakan sebagai sumber pupuk usaha pertanian dan limbah pertanian digunakan untuk pakan ternak.

Secara umum, teknologi integrasi tanaman dan ternak bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan ternak, mengurangi pencemaran lingkungan, memperbaiki kesuburan lahan secara berkelanjutan dengan biaya murah, meningkatkan pendapatan petani, dan meningkatkan kegiatan usaha tani secara efisien. Teknologi ini diharapkan mampu mempercepat tercapainya swasembada daging dan komoditas hasil tani lainnya.

Meningkatkan Produktivitas

Strategi pertanian dengan mengintegrasi polah budi daya tanaman dan ternak merupakan kegiatan usaha tani yang memadukan kegiatan usaha pertanian dan usaha peternakan. Dalam suatu kegiatan usaha tani, petani menempatkan dan mengusahakan sejumlah ternak di areal pertanaman tanpa mengganggu aktivitas dan produktivitas tanaman dan ternak itu sendiri, bahkan keberadaan tanaman dan ternak mampu meningkatkan produktivitas masing-masingnya.

Teknologi pertanian yang mengintegrasi tanaman dan ternak, petani melaksanakannya dengan sangat tergantung pada kondisi agroekosistem, harga produk, teknologi, sosial ekonomi masyarakat serta kepadatan penduduk dan ternak.

Pola integrasi tanaman dan ternak dalam satu sistem pertanian memberikan manfaat kepada petani dalam berbagai aspek seperti adanya diversifikasi penggunaan sumber daya produksi, dapat mengurangi risiko, efisiensi penggunaan tenaga kerja, efisiensi penggunaan komponen produksi, pengurangan ketergantungan terhadap energi kimia dan energi biologi serta masukan sumber daya lainnya dari luar, menjadikan sistem ekologi lebih lestari dan tidak menimbulkan polusi sehingga dapat melindungi lingkungan hidup, dapat meningkatkan output, dan menjadikan berkembangnya rumah tangga petani yang lebih stabil.

Sesuai Kebutuhan

Petani dapat menerapkan sistem pertanian integrasi antara tanaman dan ternak sesuai dengan kebutuhan masyarakat petani. Petani dapat mengintegrasikan antara ternak sapi dan jagung atau ternak sapi dan tanaman kakao. Untuk mengintegrasikan tanaman jagung dan ternak sapi misalnya, pola integrasi jagung-sapi merupakan suatu pendekatan yang holistik melalui pemanfaatan sumber daya tanaman dan ternak sehingga produktivitas jagung dan sapi dapat ditingkatkan.

Pola ini juga sering disebut dengan pola pertanian terpadu. Dalam hal ini, memadukan antara kegiatan budi daya jagung dengan usaha ternak sapi. Keuntungan yang dapat didapat petani dalam memanfaatkan teknologi integrasi tanaman jagung dan ternak sapi ini, yakni terjadi diversifikasi penggunaan sumber daya produksi, kesuburan tanah meningkat karena penggunaan pupuk organik padat dan cair (urine) yang berasal dari sapi, kegagalan produksi dapat dikurangi, produktivitas tanaman jagung meningkat karena penggunaan pupuk organik padat dan cair, produktivitas ternak sapi meningkatkan karena penggunaan pakan yang berasal dari limbah jagung, penggunaan tenaga kerja dan sarana produksi lebih efisien, dan mengurangi pencemaran lingkungan karena penggunaan bahan kimia berkurang.

Hasil utama ternak sapi adalah berupa daging dan susu yang dapat dijual langsung ke pasar. Limbah atau produk sampingnya berupa urine yang dapat dijadikan sebagai sumber pupuk organik untuk tanaman jagung. Kotoran sapi selain dapat dijadikan sebagai sumber pupuk organik untuk tanaman jagung, juga sebagai sumber biogas. Hasil akhir biogas dapat berupa bahan bakar kompor, sumber energi listrik, dan sisa kotoran sapi. Sisa kotoran sapi juga dapat dijadikan sebagai sumber pupuk organik untuk tanaman jagung.

Sementara itu, hasil utama tanaman jagung adalah pipilan kering yang dapat dijual langsung ke pasar. Limbah atau produk sampingnya berupa batang, daun, tongkol, dan kelobot dapat dijadikan sumber pupuk organik dan sumber pakan ternak. Melalui model pertanian integrasi tanaman dan ternak diterapkan konsep produksi bersih yang menghasilkan usaha tani tanpa limbah.

Teknologi peningkatan produktivitas sekaligus limbah tanaman jagung dan ternak sapi melalui konsep integrasi tanaman-ternak sudah banyak ditemukan. Diyakini teknologi ini merupakan salah satu solusi dalam meningkatkan pendapatan petani. Namun, kendala yang umum ditemukan di tingkat petani adalah masih rendahnya tingkat adopsi teknologi tersebut akibat kebutuhan biaya yang relatif tinggi untuk mengembangkan usaha integrasi tanaman-ternak tersebut.

Tentu saja penerapan teknologi integrasi tanaman-ternak dalam skala kecil diharapkan akan mampu meningkatkan kepercayaan petani tentang manfaat teknologi tersebut dan selanjutnya akan diadopsi dalam skala luas.

Pilihan di Tengah Keterbatasan

Pola pertanian terintegrasi muncul sebagai pilihan masyarakat petani di tengah keterbatasan lahan, keterbatasan akses sarana produksi pertanian, dan keterbatasan akses atas permodalan usaha serta keterbatasan akses atas informasi dan pengetahuan seputar dunia pertanian dan peternakan. Dalam situasi yang serba terbatas, tingkat kesejahteraan petani sulit terangkat bahkan kadang pada situasi tersebut petani terperangkap dalam jebakan tengkulak.

Untuk dapat terhindar dari permasalahan jebakan tengkulak petani dapat menerapkan pola pertanian terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian, yang pada akhirnya memberikan peningkatan kesejahteraan ekonomi pada tingkat keluarga petani.

Pola pertanian terintegrasi, luasan lahan tidak selalu menjadi syarat mutlak sebagai jalan utama untuk mengatrol kesejahteraan petani, sebab yang paling dibutuhkan justru kreativitas dalam melihat potensi yang dimiliki dan dimanfaatkannya dalam mata rantai saling menguntungkan. Dalam pola pertanian terintegrasi, desain lahan, pilihan komoditas, metode budidaya, dan target pendapatan dapat disesuaikan dengan rancangan usaha yang diimpikan.

Penerapan pola pertanian terintegrasi perlu memperhatikan pula efektivitas kinerja usaha, efisiensi dalam proses produksi serta memiliki relasi fungsional yang saling mendukung. Dengan sistem pertanian terintegrasi ini, usaha pada sektor pertanian dan peternakan dapat saling mendukung dan menguntungkan. Pelaksanaan usaha pertanian yang saling terintegrasi akan menciptakan suatu konsep usaha yang saling melengkapi.

Pengintegrasian tanaman dengan ternak terdapat keterkaitan yang saling menguntungkan. Keterkaitan tersebut terlihat dari pembagian lahan yang saling terpadu dan pemanfaatan limbah dari masing-masing komponen baik tanaman maupun ternak. Penerapan teknologi pada masing-masing komponen merupakan faktor penentu keberhasilan sistem integrasi tersebut.

Yoseph Yoneta Motong Wuwur alumnus Fakultas Pertanian Universitas Flores

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT