Rektor Baru, Dispersi dan Impian Kesejatian Diri

ADVERTISEMENT

Rektor Baru, Dispersi dan Impian Kesejatian Diri

Iwan Yahya - detikNews
Senin, 14 Nov 2022 12:21 WIB
Iwan Yahya
Foto: Iwan Yahya (dok. Pribadi)
Jakarta -

Jumat 11 November 2022 merupakan hari bersejarah bagi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Pemilihan rektor yang pertama di era UNS sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) telah mengguratkan kisah kontestasi menarik antar kandidat. Pemenangnya terpilih sudah. Profesor Sajidan akan mengemban amanat sebagai rektor untuk periode 2023 hingga 2028.

Impian besar yang menantang sentuhan manajerial dan kerja cerdas tak biasa dari rektor terpilih telah menunggu di depan mata. Salah satunya adalah melawan barrier kewarasan pada metrik jati diri dalam tradisi akademik UNS itu sendiri (Yahya, DetikNews 1 Nov. 2022).

Menarik untuk mencermati pergeseran dukungan anggota MWA pada pemungutan suara hari Jumat itu jika disejajarkan dengan sebaran dukungan pada pemungutan suara tahap pertama. Perubahan suara yang signifikan pada dua kandidat yakni Pak Sajidan dan Pak Hartono mengisyaratkan betapa dinamis laju komunikasi para pihak di balik teduhnya suasana UNS di permukaan. Dalam perspektif seorang fisikawan, saya membacanya sebagai penanda terjadinya dispersi yang kuat. Sesuatu yang sangat wajar dan bahkan merupakan keniscayaan dalam setiap kontestasi pada setiap sistem demokrasi.

Ketiga kandidat rektor itu ibarat tiga harmonik dalam paket gelombang yang bergerak sefase saat putaran pertama. Namun pola pergerakannya berbeda setelah memasuki putaran kedua. Bagaikan paket gelombang yang merambat dari udara lalu memasuki medium dispersif. Fasenya tidak lagi sama. Bergerak dengan karakteristik tersendiri dengan pola interaksi dan kecepatan berbeda-beda. Professor Sajidan terakselerasi dan menguat hingga seratus lima puluh persen, sementara Profesor Hartono di angka mendekati empat ratus persen. Adapun Profesor Ayu tampak laksana gelombang yang tidak lagi memiliki kecocokan impedansi dengan medium rambatnya. Alih-alih resonan dan menguat justru teratenuasi hingga lima puluh persen.

Tentu timbul beragam spekulasi di kalangan akar rumput, mengapa bisa demikian? Sebuah pertanyaan yang wajar karena struktur bernalar mereka pasti tertaut dengan catatan torehan suara putaran pertama. Namun bagi saya, seperti halnya yang berlaku dalam kaidah semesta, selalu terdapat konstrain dalam relasi yang bersifat dispersif. Bahwa perubahan laju gelombang di dalam medium semacam itu bukan bersifat tanpa batas.

Sudut pandang ilmu fisika mengajarkan bahwa terdapat syarat geometrik dan kecocokan sifat spesifik medium jika dikaitkan dengan nilai panjang gelombang yang menjalarinya. Maka dengan analogi itu, dapat dikatakan bahwa meski mengalami penguatan luar biasa, sifat alami dari perubahan pergerakan dispersif suara Profesor Hartono tampak tak kuasa melawan pola sejenis pergerakan Profesor Sajidan. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan pada sistem resonansi yang tunable sekali pun, pada akhirnya selalu saja kecocokan impedansi menjadi penentu alami dalam prilaku dan laju perambatan energi. Itulah yang terjadi.

Saya membaca peristiwa itu sabagai penanda bahwa UNS telah berada pada keadaan dimana resonansi lokal dalam rentang harmonik tertentu yang cukup kuat.

Energi resonansi lokal itu mengalahkan daya pacu resonansi lain yang berselaras dengan harmonik eksternal. Keadaan yang dapat dipandang sebagai isyarat baik bagi kemandirian berpikir sebuah universitas dalam perspektif the freedom of university. Lantas apakah kemudian pola interaksi yang dispersif itu akan usai begitu saja dengan terpilihnya seorang rektor baru? Jawabannya bisa iya dan bisa tidak.

Jati Diri Budaya Akademik Berprestasi

Gejala dispersi di dalam budaya akademik berprestasi merupakan sesuatu yang jamak khususnya bagi kalangan universitas yang sedang bertumbuh. Oleh karena itu membincangkan UNS sedikit banyak mewakili keadaan umum budaya akademik berprestasi institusi pendidikan tinggi tanah air hingga ke batas tertentu.

Dispersi tidak hanya terjadi pada momen kontestasi pemilihan rektor. Hal seperti itu juga terjadi pada kinerja berprestasi yang seharusnya menjadi ciri utama budaya akademik universitas. Kecepatan dan kelincahan bergerak untuk menjadi bagian baris depan pengusung state of the art perkembangan ilmu pengetahuan dapat dijadikan salah satu simpul perbincangan. Hampir tidak dapat dijamin bahwa para scholar yang berada pada jenjang jabatan akademik lebih tinggi memiliki kecepatan, kelincahan dan capaian berkarya tertelusur yang lebih hebat dibanding sejawatnya yang berada di jenjang jabatan akademik lebih rendah. Seorang professor tidak selalu memiliki kelincahan dan pencapaian berprestasi yang melampaui dosen berjabatan lektor kepala.

Itu terjadi di hampir semua universitas kita. Menjadi penanda bahwa sistem inovasi belum sepenuhnya mampu menghadirkan pola interaksi dan karakter bekerja dalam keserempakan dan sinergi kelompok dosen. Karakter yang seharusnya menjadi spirit grup riset maupun pusat studi. Itu baru sebagian simpul persoalan menantang yang dihadapi para rektor saat ini.

Oleh karena itu, kecakapan manajerial yang mampu menghadirkan lompatan solusi kreatif atas hal itu akan menjadi bagian penentu jawaban atas pertanyaan di depan. Hilang tidaknya pola dispersi dalam budaya akademik unversitas bukan semata bertaut dengan tradisi demokrasi, melainkan mengakar hingga ke sistem inovasi.

Berpijak pada pandangan tersebut saya menilai bahwa UNS telah memiliki dua modal penting yang dapat dirajut untuk dijadikan formula solusi. Pertama, penyelarasan fase bekerja dalam sinergi kelompok. UNS telah cukup lama membangun sistem inovasi.

Bermigrasi dari pola bekerja perseorangan ke kekuatan sinergi kelompok secara selaras. Migrasi itu terbukti mampu mengangkat torehan catatan pencapaian karya berimpak secara signifikan meski masih bersifat segmented. Jika UNS mampu membangun strategi migrasi lanjutan untuk penyelarasan fase berkarya dalam sistem inovasi, maka pencapaian bersifat segmented penanda dispersi itu akan pupus perlahan. Lompatan radikal dalam kebijakan tata kelola riset dan investasi peralatan laboratorium tentu tak pelak elok menjadi prioritas untuk diciptakan.

Disamping itu UNS memiliki modal kedua. Komitmen institusi untuk berhidmat tumbuh dan membesar dengan selalu bertaut kepada kearifan budaya bangsa dapat dijadikan lompatan hebat solusi. Tidak saja terbaca sebagai kalimat mangesthi luhur ambangun nagara pada logo UNS. Lebih dari itu berkesadaran berada dan tumbuh di pusat Budaya Jawa semestinya memudahkan setiap insan UNS untuk beresonansi dengan lebih banyak harmonik keluhuran nilai budaya.

Dalam urusan jati diri misalnya, terdapat kalimat bijak berbunyi ajining dhiri dumunung ing lathi, ajining raga saka busana. Maka tantangan yang muncul kemudian adalah, sanggupkah para pimpinan dan semua insan UNS mentransformasikan pesan arif budaya itu menjadi ukuran kesejatian dan karakter berprestasi institusi? Bahwa kesejatian diri seseorang itu tergambarkan dari lisan santun dan bijaksana. Begitupun sandangan dapat memberi kesan dan karakter dalam kehadiran seseorang.

Dapatkah insan UNS menyerapnya untuk kemudian berhidmat memberi interpretasi bahwa metrik akademik dari lisan yang santun bijaksana itu tak lain dari karya serta inovasi yang terdiseminasikan dan berimpak kuat? Bahwa sandangan kecerdasan sebuah institusi akademik itu dapat dimanifestasikan dengan misalnya metrik green campus. Dalam wujud infrastruktur yang ramah terhadap kaum difabel. Terejawantah bersama kemampuan berselaras dengan lini depan kemajuan global tanpa berlepas sedikitpun dari komitmen dan kesetiaan menjunjung keindonesiaan secara kuat.

Selaras dalam keberagaman. Dapatkah kemudian UNS dan setiap universitas kita menjadikannya laksana darah di dalam daging? Wallahualam.

Bravo UNS dan semua universitas tanah air. Kuat untuk Indonesia dan peradaban!

Iwan Yahya. Dosen dan peneliti The Iwany Acoustics Research Group (iARG) Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Simak juga 'UNS Akan Beri Penghargaan Buat Sri Mulyani pada Dies Natalis ke-46':

[Gambas:Video 20detik]



(rdp/rdp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT