Zaman Tanpa Pahlawan

ADVERTISEMENT

Kolom

Zaman Tanpa Pahlawan

Joko Riyanto - detikNews
Kamis, 10 Nov 2022 14:30 WIB
Kirab merah putih 1001 meter di Semarang saat menuju Lapangan Simpang Lima, Kamis (10/11/2022).
Kirab merah-putih di Semarang (Foto: Afzal Nur Iman/detikJateng)
Jakarta -

Indonesia adalah negeri pahlawan, sosok yang dikagumi karena keberaniannya berkorban bagi bangsa. Di banyak kota besar dan kecil dijumpai taman makam pahlawan. Pada tanggal 10 November, kita mengenang pengorbanan pahlawan, sosok gagah berani melawan penguasa kolonial dan mempertahankan negeri dari rekolonisasi.

Merujuk kepada beberapa filsuf bahwa pahlawan adalah manusia menggugah hati. Pahlawan adalah orang besar. "Orang-orang besar adalah mereka yang meluhurkan diri mereka sendiri dengan bekerja demi semua orang. Pengalaman menunjukkan orang yang paling bahagia adalah orang yang membuat semakin banyak orang bahagia." (Karl Marx, 1835).

Pahlawan datang dan pergi. Tiap era membutuhkan pahlawan-pahlawan baru. Mestinya negeri ini tidak kekurangan pahlawan. Asal, bangsa ini tak terpenjara dalam memori retrospektif yang mengagungkan heroisme militeristis. Asal, jiwa patriot dikaitkan tantangan dan masalah bangsa.

Secara semantik, arti lain pahlawan adalah pelopor, lebih dari sekadar produk zaman. Pahlawan adalah inspirator zaman karena inovasi gagasan atau tindakannya. Pahlawan adalah orang yang berjuang agar masyarakat menjadi lebih cerdas, sejahtera, dan beradab.

Di tengah kondisi bangsa yang masih dibelenggu krisis multidimensi, kita memerlukan para pahlawan sejati. Anehnya, anak-anak bangsa negeri ini, di tengah krisis yang akut dan mendalam, justru menampilkan sosok-sosok yang ironi, ambigu, dan absurd. Para pejabat negara, elite politik, dan wakil rakyat (DPR, DPD, MPR), penegak hukum justru menampilkan kultur kontra-produktif dengan jiwa kepahlawanan itu sendiri.

Reformasi tetap stagnan. Dalam konteks ini, baik pemerintah atau penegak hukum justru ekstase untuk dirinya sendiri: hukum mati dan korupsi membanjir. Anehnya, dalih sebagai pahlawan pula, sebagai garda depan penyelamat bangsa digunakan menjadi atribut. Atas nama melindungi rakyat, membela kepentingan bersama, dan klaim adiluhung lain, dipergunakan meski hukum tidak bertaji.

Hampir semua dari kita, yang direpresentasikan oleh kekuatan-kekuatan di atas selalu bermonolog, atas nama pahlawan rakyat. Padahal, yang dilakukan sama sekali jauh dari nilai kepahlawanan sejati. Dalam konteks ini, reformasi justru dikhianati oleh para pahlawannya (yang mengaku pahlawan). Kita bisa tertipu, menyebut seseorang pahlawan, dan tokoh tertentu sebagai pahlawan hanya karena ia berbaju diikuti sekian pemilih.

Demikian pula menyebut pahlawan hanya karena ia selalu membela pemerintah akan masygul atas kritik. Sebab, kita sulit menyebutnya sebagai pahlawan, mesti omongannya reformasi dan sederet perjuangan agung. Kenyataannya, hukum kita mati dan semua di antara kita adalah koruptor, terselubung atau tidak.

Yang kita dapatkan sekarang ini dan mereka yang kini disebut para pahlawan itu ialah orang-orang selalu bicara reformasi, membela negara, kencangkan perut rakyat, dan sederet lain. Tetapi, mereka-mereka ini sebenarnya adalah orang-orang yang bergelimang paradoksal: sederhana hidup diucapkan, realitasnya bergelimang dengan kemewahan. Sedikit-sedikit minta gaji naik, tetapi prestasi nol; altruis diucapkan, riilnya kepentingan partai dan kelompok didahulukan; menghormati dan mengabdi rakyat diucapkan, riilnya mempolitisasi dan mengadu domba rakyat; siap maju ke depan membela rakyat, riilnya hanya berani dari belakang dengan berbagai intrik dan rekayasa.

Setiap zaman akan melahirkan pahlawan. Barangkali, inilah "zaman edan" sebagaimana ramalan Joyoboyo. Amenangi zaman edan, nak ora melu edan ora keduman (Memasuki zaman gila, kalau tak ikut-ikutan gila tak akan kebagian). Sebuah situasi di mana nilai-nilai moral kemanusiaan terkoyak parah. Hilangnya pedoman yang sahih untuk membedakan antara kebenaran dan kebohongan. Kita tak lagi mengetahui siapa yang layak kita jadikan panutan dalam setiap perilaku kita.

Pada situasi seperti ini, yang muncul adalah klaim kebenaran, aksi kebohongan dan jiwa pengecut. Lihatlah dinamika bangsa saat ini, para elite dan pendukung rela menjadi edan untuk meraih kekuasaan dan alas kaki pejabat. Rakyat hanya dibohongi, kekayaan alam dikeruk segelintir orang, dan menghamba pada oligarki.

Sangat sedikit ditemukan pemimpin kita sekarang ini yang benar-benar memuaskan rakyat karena bekerja atas nama "etos kepahlawanan sejati". Inilah ironi pahlawan reformasi: mengklaim diri garda depan reformasi, tetapi melupakan cita-cita reformasi, melupakan mahasiswa dan melupakan altruisme, bergelimang dengan kemewahan, dan yang mengecewakan selalu mengadu-domba serta mempolitisasi rakyat.

Memang kita tidak bisa mengatakan reformasi kini belum melahirkan pahlawan. Kita tahu, mahasiswa yang menjadi martir reformasi adalah para pahlawan. Tetapi di luar itu, banyak klaim kepahlawanan reformasi menjadi sangat absurd. Sebab, pahlawan sejati tidak bisa dinilai dengan sekejap. Ia butuh rentang waktu, dan menembus dimensi ruang dan waktu.

Kalau begitu soalnya, sejarahlah yang akan menyebut apakah nama besar yang kita agungkan selama ini, yang diklaim reformis sebagai seorang pahlawan, ataukah justru para pengkhianat. Janganlah kita mengulang lagi memberikan atribut kepahlawanan, tetapi sejatinya adalah kepalsuan. Jangan pula kita silau dengan nama besar formal, tetapi sejatinya dialah yang membunuh rakyat dan reformasi.

Di tengah ini semua, kita memang sedang krisis pahlawan. Kita krisis orang-orang seperti Soedirman: berani hidup sederhana, memikirkan rakyat, dan teguh dalam moral. Ada ungkapan orang bijak, bahwa tidak semua zaman melahirkan pahlawan. Barangkali, sekarang ini zaman tanpa pahlawan.

Joko Riyanto alumnus Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT