Kepahlawanan Kita Hari Ini

ADVERTISEMENT

Kolom

Kepahlawanan Kita Hari Ini

Martinus Joko Lelono - detikNews
Kamis, 10 Nov 2022 13:00 WIB
Ucapan Selamat Hari Pahlawan Nasional 2022
Ilustrasi: Dok. iStock
Jakarta -

Peringatan Hari Pahlawan yang kita kenangkan hari ini merupakan sebuah pengakuan tentang pribadi-pribadi yang telah teruji sebagai nasionalis sejati. Tema "Pahlawanku, Teladanku" yang diangkat pun seakan menjadi rangkuman dari makna yang ingin diambil dari peringatan ini.

Masyarakat Indonesia disuguhi berbagai macam keutamaan hidup orang-orang yang pernah hidup di negeri Indonesia. Mereka bukan orang-orang biasa, melainkan pribadi-pribadi yang mendarmabaktikan hidupnya untuk negeri dalam berbagai macam bentuk pengorbanan: fisik; pikiran; masa muda; kenyamanan; dan tentu juga kesempatan untuk lari dari tanggung jawab sebagai anak bangsa.

Di antara mereka ada Presiden, Wakil Presiden, Menteri, pemimpin kelompok agama, tentara, guru, dokter, dan banyak orang dari berbagai profesi. Keragaman pahlawan di negeri ini menjadi bukti sekaligus ajakan untuk menyadari bahwa kepahlawanan adalah milik semua orang. Seakan ingin digaungkan kesadaran bahwa hari ini pun masih amat mungkin untuk melahirkan pahlawan, bukan pada orang lain, melainkan pada diri masing-masing dari kita.

Keutamaan

Peristiwa yang melatarbelakangi penetapan Hari Pahlawan adalah pertempuran 10 November di Surabaya di mana ada sekitar 6000 orang gugur demi menegakkan kedaulatan bangsa. Berhadapan dengan 15.000an tentara Sekutu yang ingin mengembalikan negeri ini di bawah penjajahan Belanda, orang Indonesia tak gentar menjaga kedaulatan bangsanya. Bangsa ini tidak lagi ingin menjadi budak di negeri sendiri. Semangat yang ada adalah merdeka atau mati. Artinya, kemerdekaan itu begitu berharga bahkan kalau harus dibayar dengan nyawa.

Dalam ilmu sosial terdapat pemahaman masyarakat dan nilai hidup yang diupayakan dikenal teori tentang struktur sosial. Ada banyak terjemahan atas ungkapan ini, tetapi salah satu yang bisa diterima adalah "pola relasi dalam masyarakat atau kelompok masyarakat yang menentukan hubungan kuasa berdasarkan sistem nilai yang dihidupi oleh masyarakat tersebut."

Penjelasan ini membantu kita menjelaskan bagaimana semangat kepahlawanan itu dijunjung tinggi. Hal ini berkaitan dengan Pancasila sebagai sistem nilai yang mendasari tindakan-tindakan apa yang dihormati di negeri ini --bahkan untuk orang-orang tertentu layak disebut pahlawan. Tindakan mereka yang melawan tentara sekutu itu adalah aksi heroisme.

Negeri ini tidak lagi ingin dikuasai oleh penjajah karena selain tidak bisa menentukan nasib bangsanya sendiri. Penerapan sila pertama "Ketuhanan yang Maha Esa" tentu mensyaratkan kemerdekaan. Banyak orang tidak bisa menjalankan agamanya ketika selalu ada dalam situasi ancaman. Amat sulit mempertahankan sila "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" karena nyatanya manusia Indonesia dalam masa penjajahan berkali-kali diperlakukan dengan tidak beradab.

Sila "Persatuan Indonesia" akan tercabik-cabik mengingat bahwa kebanggaan sebagai negeri tidak ada di masa kolonial. Manusia bangsa ini lebih sering dianggap sebagai budak. Salah satu yang jelas adalah pembedaan sistem sosial di mana orang Barat dianggap sebagai masyarakat kelas satu, orang China, Arab, India dikenal sebagai kaum timur jauh sebagai masyarakat kelas dua, dan orang pribumi dianggap sebagai bangsa nomer tiga atau golongan terbawah dari masyarakat.

Berbicara tentang rasis, ini kejam sekali. Berbicara tentang kebanggaan sebagai bangsa, kita dianggap sebagai bangsa budak dan harga diri kita direndahkan di negeri kita sendiri. Sila keempat soal kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan tentu amat sulit dicapai mengingat begitu negeri ini diambil alih oleh bangsa asing, bangsa kita akan kembali ada dalam kendali bangsa lain.

Dalam situasi itu, rakyat Indonesia tidak punya posisi memimpin. Kita hanya menjadi bangsa pengikut. Amat sulit atau bahkan mustahil menegakkan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia di bawah penjajahan karena penjajahan seringkali berjalan bersama dengan pemerasan.

Dari penelusuran di atas, maka menjadi jelas bahwa pengorbanan para pahlawan pada 10 November 1945 itu adalah pengorbanan untuk mewariskan Indonesia merdeka kepada generasi berikut. Mereka memperjuangkan kemerdekaan yang memungkinkan banyak orang merasakan diri sebagai pribadi merdeka yang bebas menghidupi nilai-nilai Pancasila.

Nilai Pancasila ini sudah diperjuangkan sampai titik darah penghabisan oleh pahlawan 10 November 1945, dan tentu jutaan pahlawan lain yang gugur demi tegak berdirinya negeri ini di bawah Sang Saka Merah Putih, bukan Merah-Putih-Biru.

Di kalangan masyarakat kapitalis mungkin yang dianggap teladan adalah mereka yang mempunyai uang lebih banyak. Di kalangan ekstremis agama, yang dianggap teladan adalah mereka yang rela menegakkan agama bahkan dengan mengambil hidup orang lain. Di dunia hiburan, yang dianggap sebagai teladan adalah mereka yang cantik, muda dan terkenal. Di negeri ini yang dianggap pahlawan adalah mereka yang dengan berbagai cara menjaga tegaknya negeri ini dalam naungan nilai-nilai Pancasila.

Kepahlawanan Hari Ini

Hadirnya penggambaran tentang pribadi-pribadi pahlawan di Indonesia sebagai model penting bagi masyarakat Indonesia selalu menjadi undangan bagi masyarakat kita untuk mereplikasi (mencontoh) jiwa kepahlawanan itu pada masa kini. Mengutip ungkapan dalam film Gundala Putra Petir, di sana dikatakan, "Negeri ini butuh pahlawan."

Bentuk-bentuk rongrongan terhadap sistem nilai bersama kita di negeri ini begitu banyak, mulai dari kemiskinan, pendidikan yang rendah, relasi sosial yang mulai renggang, dunia olahraga yang sarat politik, sampai kepada politik yang kotor. Beragamnya permasalahan ini menjadi gambaran bahwa jiwa kepahlawanan amat mungkin untuk dihidupi pada zaman ini.

Sangat menarik bahwa saat ini muncul berbagai macam model kepahlawanan ini di tengah masyarakat kita. Hadirnya kelompok GusDurian, yang bergerak di bidang menjaga persaudaraan antarumat beragama bekerja bersama dengan tokoh dan umat lintas agama guna menjaga damai di negeri ini. Di media digital kita menemukan beberapa platform berbagi yang dengan caranya sendiri menemukan cara untuk menjaga supaya masyarakat bisa saling membantu ketika ada di dalam kesulitan.

Di bidang media dan penyebaran berita palsu, di Indonesia sedang berkembang gerakan Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) yang bergerak di bidang cek fakta dan melawan hoax di tengah masyarakat. Upaya ini lahir dari keprihatinan betapa merusaknya media yang sarat dengan hoax, berita palsu dan fitnah bagi kedamaian bangsa ini. Tentu daftar ini masih bisa dilanjutkan dengan berbagai capaian di tengah masyarakat. Intinya, negeri ini tidak kehabisan pahlawan untuk menjaga negeri ini hari ini dan mewariskannya bagi generasi berikut.

Negeri Ini Butuh Pahlawan

Pernah ada orang mengungkapkan pendapat bahwa lebih baik hidup di tahun 1950-an sampai 1990-an saat perbedaan agama tidak perlu menjadi masalah. Saya sempat merenung tentang realitas ini, tetapi kemudian saya menjawab dengan menggunakan ungkapan dari YB. Mangunwijaya yang terkenal dengan novel-novel dan karya-karya sosialnya. Beliau pernah mengatakan, "Jangan didramatisir, setiap generasi memiliki medan juang dan pahlawannya masing-masing."

Ungkapan ini membantu kita untuk menyadari bahwa peristiwa nyata hari inilah yang harus menjadi medan juang bagi mereka yang hidup di Indonesia hari ini. Artinya, kepahlawanan ini adalah tentang kepekaan terhadap perannya di tengah masyarakat. Tidak ada alasan untuk lari tanggung jawab sebagai anak bangsa. Orang bijak mengatakan, "Kalau kamu dilahirkan di negeri ini, jadilah kebaikan untuk negeri ini. Bila kamu dilahirkan saat ini, jadilah berkat untuk masyarakat zaman ini."

Negeri ini butuh pahlawan. Saat ini kita diberi medan juang yang perlu terus coba digeluti supaya menghasilkan kebaikan juga kepada masyarakat. Perjuangan di bidang dialog agama bisa menjadi bentuk kepahlawanan yang menjawab tantangan disintegrasi bangsa akibat politik identitas dan makin minimnya kesempatan berjumpa dengan teman dari agama lain. Perjuangan di media menghalau hoax dan budaya kebencian bisa menjadi bentuk kepahlawanan yang lain. Anda tentu bisa menemukan kepahlawanan yang tepat bagi Anda dalam tugas Anda masing-masing.

Selamat Hari Pahlawan! Semoga pilihan hidup kita selaras dengan nilai Pancasila hingga kita pantas melanjutkan perjuangan para pahlawan.

Martinus Joko Lelono pastor Katolik, dosen Pancasila Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT