Indonesia dan Ancaman Resesi Global

ADVERTISEMENT

Kolom

Indonesia dan Ancaman Resesi Global

Bawono Kumoro - detikNews
Rabu, 09 Nov 2022 09:57 WIB
Negara Masuk Resesi
Ilustrasi: Mindra Purnomo/tim infografis detikcom
Jakarta -

Di tengah ancaman resesi global 2023, kabar baik datang menghampiri Indonesia menjelang pengujung tahun ini. Indonesia masuk dalam 10 negara dengan ekonomi terbesar dunia versi Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) sebagaimana termuat dalam World Economic Outlook edisi Oktober 2022.

Daftar ekonomi terbesar dunia tersebut merujuk pada tingkat produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang mengacu purchasing power parity. Yakni, salah satu ukuran perbandingan nilai mata uang yang ditentukan oleh daya beli uang tersebut terhadap barang dan jasa di tiap-tiap negara.

Indonesia mencatatkan PDB sebesar USD 4,02 triliun pada tahun ini. Posisi paling atas ditempati Tiongkok dengan besaran PDB USD 30 triliun. Di posisi kedua dan ketiga ikuti oleh Amerika Serikat dengan PDB USD 25 triliun dan India USD 11,6 triliun. Kemudian Jepang tercatat memiliki PDB USD 6,1 triliun, Jerman mencatatkan PDB USD 5,3 triliun, dan Rusia USD 4,6 triliun. Sedangkan Brazil, Inggris, dan Prancis berada di bawah Indonesia.

Capaian itu tentu saja tidak terlepas dari kinerja moncer ekonomi Indonesia di mana secara konsisten mencatat pertumbuhan ekonomi di atas lima persen selama tiga kuartal beruntun sejak akhir 2021. Bahkan, Kementerian Keuangan meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal III - 2022 mendatang akan berada pada kisaran angka 5,7 persen. Itu berarti akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan Kuartal II - 2022 yang mencapai 5,44 persen.

Angka pertumbuhan ekonomi pada Kuartal III - 2022 akan diumumkan pada November ini oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Bagaimana Indonesia dapat mencatat pertumbuhan ekonomi sangat impresif selama tiga kuartal? Apa resep pemerintah untuk membuat ekonomi Indonesia menjauhi jurang resesi sehingga diganjar IMF masuk 10 negara dengan ekonomi terbesar dunia?

Penopang Pertumbuhan

Saat mengumumkan capaian pertumbuhan ekonomi Kuartal II - 2022 beberapa bulan lalu, BPS mencatat beberapa faktor penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pelonggaran aktivitas seiring penurunan kasus positif harian COVID-19 turut berkontribusi dalam mendongkrak tingkat konsumsi rumah tangga.

Konsumsi rumah tangga berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional mencapai 5,51 persen. Pertumbuhan tingkat konsumsi ini juga didukung oleh momen hari besar keagamaan Idul Fitri pada Mei lalu. Faktor lain adalah kinerja ekspor terus melesat mencapai 19,74 persen. Kinerja ekspor ini moncer karena lonjakan harga sejumlah komoditas unggulan, seperti batu bara, nikel, dan sawit.

Gangguan rantai pasok dunia berdampak terhadap kenaikan harga komoditas unggulan Indonesia tersebut sehingga memberikan keuntungan tersendiri bagai durian runtuh terhadap kinerja ekspor Indonesia. Langkah pemerintah menambah subsidi energi dan memberikan bantuan sosial juga menjadi faktor lain memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal II - 2022.

Sebagaimana diketahui, melalui Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2022, pemerintah telah menambah anggaran subsidi energi Rp 208,9 triliun. Pemerintah juga memberikan kompensasi kepada Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara sebesar Rp 293,5 triliun karena telah menahan harga dalam dua tahun terakhir. Total anggaran subsidi energi mencapai Rp 502 triliun.

Subsidi energi membuat inflasi Indonesia lebih terkendali dibandingkan negara-negara lain. Tingkat inflasi pada Juli tercatat sebesar 4,94 persen, jauh di bawah Amerika Serikat 9,1 persen, Inggris 8,2 persen, Korea Selatan 6,1 persen, dan Uni Eropa 9,6 persen. Lalu bagaimana dengan utang luar negeri?

Krisis hebat dialami oleh Sri Lanka sejak beberapa bulan lalu memunculkan analisis dari sejumlah pihak yang pesimis terhadap ekonomi Indonesia dengan mengatakan kondisi Indonesia saat ini yang juga memiliki jumlah utang luar negeri tinggi akan membuat negara ini akan mengalami krisis seperti Sri Lanka.

Harus dilihat bagaimana kondisi pertumbuhan ekonomi sebuah negara untuk menilai apakah negara tersebut akan gagal dalam utang luar negeri atau tidak. Selama negara tersebut masih memiliki pertumbuhan ekonomi positif dan utang luar negeri terus diusahakan turun, besar kemungkinan negara itu akan mampu bertahan lolos dari jeratan utang dan ketidakpastian ekonomi di masa depan.

Kembali pada Jalur Semula

Kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini sebagaimana capaian pada Kuartal II - 2022 tersebut menegaskan tren tumbuh di atas lima persen secara beruntun selama tiga kuartal terakhir. Sebelum ini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal I - 2022 sebesar 5,1 persen. Tren positif ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah kembali pada jalur semula seperti sebelum dihantam pandemi.

Merujuk data Kementerian Keuangan hingga 31 Mei 2022 utang Indonesia mencapai Rp 7.002,24 triliun, dengan rasio utang terhadap PDB sebesar 38,88 persen. Realisasi utang itu naik 9,1 persen dibandingkan realisasi posisi utang pada Mei 2021 sebesar Rp 6.418,5 triliun. Adapun bila dibandingkan dengan posisi utang pada April 2022 turun 0,54 persen --saat itu mencapai Rp 7.040,32 triliun.

Selain itu, harus dipahami juga posisi rasio utang terhadap PDB 38,88 persen berada dalam kategori aman. Kondisi itu sangat jauh apabila dibandingkan dengan Sri Lanka di mana rasio utang terhadap PDB lebih dari 100 persen. Perbandingan itu bagaikan bumi dan dan langit.

Apabila dibedah lebih jauh sebagian besar utang Indonesia berupa surat berharga negara berdenominasi rupiah. Merujuk data Kementerian Keuangan, komposisi utang hingga 31 Mei 2022 berasal dari penarikan Surat Berharga Negara sebesar Rp 6.175,83 triliun atau mencapai 88,20 persen. Dalam bentuk rupiah domestik sebesar Rp 4.934,56 triliun, berasal dari penerbitan Surat Utang Negara sebesar Rp 4.055,03 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara Rp 879,53 triliun.

Kemudian komposisi utang Indonesia berasal dari pinjaman senilai Rp 826,41 triliun atau mencapai 11,8 persen. Ini terdiri dari pinjaman dalam negeri sebesar Rp 14,74 triliun dan utang berasal pinjaman luar negeri sebesar Rp 811,67 triliun. Adapun utang luar negeri terdiri dari pinjaman bilateral Rp 280,32 triliun, pinjaman multilateral Rp 488,62 triliun, commercial banks Rp 42,72 triliun. Jadi, komposisi pinjaman luar negeri didominasi oleh pinjaman multilateral.

Kondisi perekonomian Indonesia saat ini di mana tengah mengarah pada pemulihan menuju kondisi sebelum pandemi perlahan-lahan mulai dirasakan dan diapresiasi oleh publik. Merujuk temuan hasil survei Indikator Politik Indonesia periode 9 - 11 Juli 2022, sebagian besar responden (39,2 persen) menilai kondisi ekonomi nasional saat ini lebih baik atau jauh lebih baik dibandingkan kondisi ekonomi tahun lalu.

Adapun responden menilai kondisi ekonomi nasional saat ini lebih buruk atau jauh lebih buruk dibandingkan kondisi ekonomi tahun lalu 26,9 persen. Sedangkan 31,4 persen responden mengatakan tidak ada perubahan dan 2,5 persen responden lain tidak tahu atau tidak menjawab.

Dengan melihat pencapaian impresif pertumbuhan ekonomi selama tiga kuartal berturut-turut tersebut serta posisi rasio utang terhadap PDB, tidak berlebihan untuk mengatakan Indonesia jauh dari ancaman resesi tahun depan. Tidak ada alasan bagi bangsa ini untuk tidak optimis menatap tahun 2023

Bawono Kumoro peneliti Indikator Politik Indonesia

Simak juga 'Ancang-ancang Pengusaha, Resesi 2023':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT