Kebohongan dan Forensik Peradilan

ADVERTISEMENT

Kolom

Kebohongan dan Forensik Peradilan

Akhmad Mu - detikNews
Selasa, 08 Nov 2022 09:50 WIB
Bharada Richard Eliezer menjalani sidang lanjutan kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (31/10/2022). Asisten rumah tangga (ART) Ferdy Sambo, Susi dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan tersebut.
Susi, salah satu saksi di sidang kasus Sambo (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -
Kebohongan menjadi berita minggu ini setelah Susi, salah satu saksi sidang kasus pembunuhan Brigadir Yosua, mendapatkan peringatan keras dari majelis hakim. Netizen kembali riuh, kasus ini nangkring dalam puncak tagar media online. Media mainstream juga tak mau kalah cepat dan kembali menyajikan kasus ini. Terdapat beberapa hal yang membuat kasus Brigadir Yosua terus menarik atensi massal. Selain melibatkan otoritas kepolisian, kasus ini terus menjadi komoditas panas pemberitaan karena penuh dengan bumbu drama. Antara orang kuat dengan orang lemah, bagaikan David dan Goliath.

Sejatinya, sejak awal perhatian publik hanya tertuju pada satu hal, yaitu kebohongan.

Kebohongan besar, seperti yang diduga kental dalam kasus ini, dapat memiliki dampak yang luar biasa. Ilmuwan forensik dan psikologi telah mempelajari mengapa orang berbohong. Ada banyak motivasi, semuanya didasarkan pada apa yang dirasakan akan mendatangkan hasil menguntungkan bagi pelakunya. Masalahnya, pembohong juga bisa menipu diri sendiri dan tidak sepenuhnya menghargai tindakan mereka.

Strategi Kebohongan dan Ingatan Palsu

Bisakah tindakan berbohong mempengaruhi ingatan akan pengalaman aslinya? Telah banyak penelitian yang mengkaji tentang pembentukan distorsi memori tanpa niat, namun studi eksperimental tentang hubungan antara berbohong dan memori sangat terbatas, terutama mengingat kemungkinan konsekuensi bahwa berbohong mungkin bermain ke dalam arena hukum.

Studi terbaru memberikan kita gambaran tentang beberapa strategi yang sering digunakan untuk melakukan kebohongan dalam sebuah persidangan dengan membentuk ingatan palsu. Ilmu kognitif menyebutnya mnemonic, bagaimana seseorang membentuk ingatannya dan mekanisme yang mendasarinya.

Pertama, seseorang yang terlibat dalam pembuktian hukum terkadang secara keliru menyangkal bahwa suatu peristiwa benar-benar terjadi. Inilah yang disebut penyangkalan palsu (false denials). Penelitian menunjukkan bahwa dalam beberapa keadaan, tersangka secara salah menyangkal keterlibatan mereka dalam kejahatan untuk menghindari hukuman. Sementara korban secara keliru menyangkal bahwa mereka menjadi korban (biasanya korban pelecehan seksual) untuk tidak mengalami kembali ingatan traumatis, tekanan kehormatan keluarga atau karena takut menuduh seseorang.

Penelitian menarik dilakukan oleh Henry Otgaar dan tiga koleganya pada 2016. Peneliti dari Maastricht University tersebut meminta peserta penelitian melihat beberapa rangsangan (seperti, gambar, video pencurian) dan kemudian mereka diminta menjawab beberapa pertanyaan terkait rangsangan tersebut. Peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yang pertama adalah kelompok kebenaran dan kelompok kedua diminta memberikan penyangkalan palsu. Kelompok pertama harus menjawab pertanyaan dengan jujur, sedangkan kelompok kedua diminta untuk menyangkal setiap pertanyaan secara salah (misalnya, dia tidak memukul temannya).

Setelah beberapa saat, ingatan peserta kembali diuji, kali ini semua peserta diminta jujur terkait apa yang pernah mereka saksikan sebelumnya. Peneliti menemukan dan menyimpulkan bahwa peserta dalam kelompok kedua menunjukkan gangguan memori untuk rincian yang dibahas dalam wawancara sementara memori untuk peristiwa yang sebenarnya tetap utuh. Hasil penelitian ini kemudian popular dengan istilah efek Denial-Induced Forgetting (DIF) atau efek mnemonic dari penolakan palsu yang membuat seseorang melupakan kejadian sesungguhnya. Tindakan menyangkal detail dari suatu peristiwa yang dialami membuat informasi tersebut lebih kecil kemungkinannya untuk disimpan dalam memori (jangka panjang), yang pada akhirnya membuat pengambilannya lebih sulit dari waktu ke waktu.

Hal kedua yang sering dilakukan merusak memori dalam proses hukum adalah pura-pura lupa ingatan (feigning amnesia). Natalie M. Pyszora Bersama dua rekannya dalam sebuah publikasi ilmiah pada 2010 menyebut bahwa sekitar 30% individu pura-pura lupa amnesia setelah kejadian pidana dan mencoba mendapatkan keuntungan dalam peradilan dengan tampil tidak kompeten. Selanjutnya, ketika strategi menipu ini diadopsi, informasi yang relevan dan asli dari peristiwa kejahatan dapat benar-benar dilupakan. Penelitian hampir serupa dilakukan Susanna Byli dan Sven-Ake Christianson pada 2010 dan juga Ivan Mangiulli beserta empat rekannya pada 2018.

Mereka meminta peserta membaca cerita naratif dan video kejahatan tiruan dengan instruksi bahwa peserta penelitian adalah pelaku kejahatannya. Setelah itu mereka membagi peserta dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang pura-pura lupa (simulator) dan kelompok yang mengakui kejahatan. Seteleh seminggu semua peserta diminta kembali untuk mengingat kejadian sebenarnya. Temuan menunjukkan bahwa ketika diminta untuk melepaskan peran mereka sebagai sebagai simulator, peserta kelompok pertama memiliki memori yang lebih buruk terkait peristiwa dibandingkan peserta kelompok kedua.

Hal ketiga yang dapat merusak memori dan menumbuhkan memori palsu adalah pemalsuan (fabrication). Jenis kebohongan ini mengacu pada seseorang yang membuat pengakuan yang sepenuhnya salah untuk peristiwa tertentu, misalnya dengan memberikan alibi palsu seputar peristiwa kriminal. Beberapa penelitian mencoba mengungkap pemalsuan kesaksian dengan paradigma konfabulasi paksa (forced confabulation paradigm). Caranya peneliti meminta peserta menonton video dan mereka diberikan pertanyaan benar dan salah tentang video tersebut.

Satu kelompok diminta untuk menjawab dengan jujur, sementara kelompok kedua harus mengarang sendiri jawaban untuk setiap pertanyaan, bahkan saat mereka benar-benar tidak mengingat detailnya. Satu minggu kemudian, ingatan mereka diuji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengarang detail tentang video lebih mungkin untuk kemudian mengingat rekayasa mereka sendiri. Akibatnya mereka membuat kesalahan dalam pernyataan terkait memori akhir mereka (commission errors).

Menyikapi Kebohongan Persidangan

Terlepas bahwa saksi dan pelaku berbohong tentang sebuah peristiwa kejahatan, alasannya akan melulu tentang menghindari kesalahan, melindungi diri, dan meminimalkan keterlibatan. Kesemuanya berkaitan dengan bagaimana membuat posisi mereka lebih menguntungkan dalam hukum. Ini adalah mekanisme alamiah manusia.

Ilmuwan telah mengungkapkan bagaimana cara kerja memori serta menyebutnya sebagai bangunan yang mudah dibentuk dan rapuh. Tulisan pendek ini telah menunjukkan bahwa sangat memungkinkan kebenaran dikaburkan dengan cara-cara sistematis untuk mengubah jejak memori seseorang dan menumbuhkan ingatan palsu. Katakanlah, Susi mungkin saja berbohong dan sangat mungkin dia mempercayai kebohongannya. Begitu juga tersangka dan semua saksi lainnya. Akibatnya, fakta dan kebenaran akan menjadi misteri yang sangat menarik untuk diungkapkan.

Tidak diragukan lagi, ini akan menjadi kerja panjang, terutama bagi saksi ahli forensik dan hakim. Memiliki gambaran lengkap tentang apa yang sebenarnya terjadi bisa jadi sulit. Namun, mengetahui efek mnemonic semacam itu dapat membantu mengurangi kesalahan oleh para profesional hukum. Hukum akan menemukan mitra untuk mengungkapkan kebenaran dan menegakkan keadilan. Terlebih, saya percaya nurani hakim tidak akan salah pilih.

Akhmad Mu dosen psikologi FITK UIN Malang, anggota PPIAUD Indonesia

Lihat Video: Sidang Lanjutan Sambo Hari Ini: ART hingga Ajudan Akan Bersaksi

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT