Mewaspadai Kerawanan Pangan di Tingkat Petani

ADVERTISEMENT

Kolom

Mewaspadai Kerawanan Pangan di Tingkat Petani

Lin Purwati - detikNews
Senin, 07 Nov 2022 11:00 WIB
Waspadai Kerawanan Pangan di Tingkat Petani
Lin Purwati (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Leave No One Behind menjadi tema Hari Pangan Sedunia 2022. Tema ini mengingatkan kita bahwa masih terdapat jutaan orang di dunia yang tidak memiliki kemampuan dan akses regular untuk mendapatkan pangan yang sehat, aman dan terjangkau. Dunia dihadapkan dengan krisis kerawanan pangan global yang kian memburuk diiringi dengan meningkatnya resiko kemiskinan dan kelaparan khususnya di benua Afrika dan Asia.

Dalam beberapa tahun terakhir kita menghadapi tantangan kerawanan pangan yang semakin kompleks. Pandemi Covid-19, krisis ekonomi global, konflik dan peperangan, perubahan iklim, degradasi lingkungan hingga terganggunya rantai pasok pangan internasional telah mengakibatkan naiknya harga pangan. Kondisi ini semakin memperparah beban kehidupan kelompok penduduk rentan seperti penduduk miskin, lansia, dan mereka yang tinggal di wilayah terisolir.

Kerawanan Pangan

Kerawanan pangan didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mencukupi kebutuhan pangan yang memenuhi standar fisiologi dan kesehatan. Kondisi rawan pangan umumnya berkaitan erat dengan kemiskinan maupun keadaan darurat seperti bencana alam.

Terdapat beberapa indikator yang biasanya digunakan untuk menggambarkan kondisi rawan pangan. Salah satunya adalah Skala Pengalaman Kerawanan Pangan (Food Insecurity Experience Scale - FIES). Berdasarkan indikator tersebut pada tahun 2020 terdapat 5,12% penduduk Indonesia dengan status rawan pangan sedang dan berat.

Indikator lainnya yang juga sering digunakan adalah Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan (Prevalence of Undernourishment - PoU). Berdasarkan indikator tersebut pada tahun 2020 terdapat 8,34% penduduk Indonesia dengan konsumsi energi di bawah kebutuhan energi minimum untuk dapat melakukan aktivitas hidupnya sehari-hari.

Ironinya, petani yang merupakan produsen utama pangan justru mengalami kondisi kerawanan pangan yang paling buruk jika dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Pada 2020 terdapat 7,35% rumah tangga buruh tani dan 5,51% rumah tangga tani dengan status rawan pangan sedang dan berat. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok rumah tangga non pertanian dengan 4,65% saja yang masuk dalam status rawan pangan sedang dan berat.

Prevalensi ketidakcukupan pangan juga paling tinggi terjadi pada kelompok rumah tangga tani yaitu mencapai 12,65% disusul oleh kelompok rumah tangga buruh tani sebesar 10,92%. Angka ini juga jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok rumah tangga non pertanian dengan hanya 6,56% yang mengalami kondisi tidak cukup pangan.

Kondisi ini tentunya harus segera ditindaklanjuti. Berbagai penelitian yang telah dilakukan menyimpulkan bahwa kerawanan pangan di tingkat petani berkaitan erat dengan tingkat harga komoditas pertanian, pendapatan petani serta literasi masyarakat akan gizi.

Peningkatan Kesejahteraan

Besaran pendapatan riil petani sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas pertanian di pasaran. Mengikuti mekanisme pasar, harga komoditas pertanian akan turun saat panen raya. Terkadang harga jual bahkan jauh di bawah biaya produksi yang sudah dikeluarkan hingga petani lebih memilih membuang hasil panennya. Perlu dukungan lintas stakeholder untuk menangani permasalahan ini.

Edukasi penanganan pascapanen perlu diberikan sebagai upaya memperpanjang usia produk pertanian yang umumnya tidak tahan lama dan mudah rusak. Petani yang biasanya menjual produk dalam bentuk bahan mentah (raw material) juga perlu dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan untuk melakukan pengolahan lebih lanjut atas produk pertanian yang dihasilkannya. Dengan demikian nilai tambah yang dihasilkan akan lebih tinggi dan secara langsung dapat meningkatkan pendapatan petani.

Di sisi lain juga perlu dilakukan penyederhanaan rantai pasok produk pangan dan pertanian. BPS mencatat bahwa minimal terdapat tiga pelaku dalam pendistribusian beras dari petani hingga ke konsumen akhir yaitu melewati distributor dan pedagang eceran. Hal ini mengakibatkan adanya margin perdagangan sebesar 21,47% antara harga di tingkat petani dengan harga di tingkat konsumen akhir.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan harga produk pangan di tingkat konsumen tidak dinikmati oleh petani tetapi justru dinikmati oleh pedagang. Kebijakan pemerintah dalam menetapkan HPP di tingkat petani maupun penggilingan tidak berdampak secara nyata pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Literasi Gizi

Penanganan kerawanan pangan hendaknya tidak hanya terfokus pada ketersediaan pangan berkualitas dalam jumlah yang cukup serta keterjangkauannya baik dari sisi infrastruktur maupun kemampuan daya beli masyarakat.

Statistik menunjukkan bahwa beberapa wilayah yang merupakan sentra pangan nasional seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan justru menunjukkan prevalensi ketidakcukupan pangan yang tinggi. Para ahli menengarai bahwa hal ini terjadi karena minimnya literasi gizi masyarakat khususnya di kalangan perempuan/kaum ibu. Karenanya peningkatan literasi gizi melalui berbagai penyuluhan yang dilakukan oleh PKK, posyandu maupun kader-kader kesehatan perlu terus digalakkan.

Krisis Petani

Indonesia mengalami krisis petani. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian, jumlah petani Indonesia menurun sebesar 16,32% selama periode 2003-2013. Hal ini semakin diperparah dengan kenyataan bahwa 60,79% petani Indonesia merupakan lansia usia 45 tahun ke atas, sehingga modernisasi pertanian sulit dilakukan.

Regenerasi petani tidak berjalan sesuai harapan. Generasi muda enggan menekuni profesi sebagai petani yang identik dengan tingkat penghasilan yang rendah, kemiskinan dan tampilan yang kotor. Jika kondisi ini dibiarkan maka dalam 10 hingga 20 tahun mendatang bukan tidak mungkin Indonesia justru akan kekurangan petani dan berdampak pada krisis pangan.

'Tagline' Leave No One Behind merupakan seruan kerjasama global untuk memperbaiki sistem pertanian agar menjadi lebih efisien, lebih inklusif, lebih tangguh dan lebih berkelanjutan untuk bisa menghasilkan produksi pangan yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik bagi masyarakat serta lingkungan yang lebih baik bagi kita semua dan generasi mendatang.

Lin Purwati Statistisi BPS Kabupaten Semarang

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT