Halloween, Kucing Hitam, dan Ketakutan Kita

ADVERTISEMENT

Jeda

Halloween, Kucing Hitam, dan Ketakutan Kita

Xavier Pranata - detikNews
Sabtu, 05 Nov 2022 10:08 WIB
A Saudi man takes a photo with people dressed in costumes to celebrate Halloween during
Foto ilustrasi: Reuters/Ahmed Yosri
Jakarta -

Saat mengantar makan malam keluarga yang datang dari jauh di sebuah mal di pusat kota, saya dan keluarga disambut hiasan bak rumah hantu. Resto pun dihias dengan suasana angker. Maklum akhir bulan ini sebagian masyarakat dunia-termasuk Indonesia-merayakan Halloween. Bagaimana perasan saya dan keluarga saat itu? Tidak ada rasa takut sama sekali. Saya bahkan melihat seorang bocah perempuan mendekati hiasan hantu dan minta papanya memotretnya. Jangan-jangan baginya orang sungguhan lebih menakutkan ketimbang hantu.

Beda sekali dengan apa yang saya alami di Amerika Serikat (AS). Saat itu saya sedang berada di salah satu kota di AS. Saya jalan-jalan sore ke pusat kota untuk mencari makan malam. Sepanjang jalan banyak orang yang memakai kostum yang aneh-aneh yang didominasi warna hitam dan menakutkan mulai nenek sihir dengan sapu terbagnya, werewolf sampai tengkorak.

Ketika masuk ke sebuah resto yang menyambut saya adalah drakula. Pramusaji pun drakula wanita dengan dandanan yang mengerikan. Salah satu menunya ada 'blood juice' yang tentu saja bukan dibuat dari darah betulan tetapi stroberi dengan sirup merah darah.

Setelah kenyang dengan makan malam dan pameran kengerian, saya jalan kaki kembali ke hotel yang hanya dua blok dari resto. Di sepanjang jalan saya lihat anak-anak kecil masuk dari satu rumah ke rumah lain sambal berkata, "Trick or treat!" agar dapat permen dan penganan kecil. Tinggal beberapa langkah ke hotel tiba-tiba saya dikejutkan oleh seekor kucing hitam yang melompat persis di depan saya. Saya ikut melompat karena kaget.

Saat merenung peristiwa yang menggelikan itu di kamar hotel saya yang nyaman dan hangat, saya mengambil kesimpulan. Seandainya saya tadi sebelumnya tidak disuguhi dengan berbagai 'festival kegelapan' dan 'karnaval hantu jalanan' serta makan di resto drakula, bisa jadi saya tidak melompat kaget saat bersirobok dengan kucing hitam.

Di Tanah Air berulang kali saya ketemu kucing hitam di malam hari dan biasa-biasa saja. Tidak terbersit rasa takut sedikit pun. Mengapa beda? Ternyata pengkondisian itu mempengaruhi alam bawah sadar saya tanpa saya sadari.

Sambo, Kanjuruhan, Gagal Ginjal

Kasus Sambo dan Kanjuruhan belum tuntas sudah muncul lagi kasus pembunuhan yang dianggap dilakukan seorang psikopat. Pembunuhnya tertangkap CCVT sedang mengumbar senyuman meskipun sedang membawa mayat korban. Belum lagi 'hantu obat sirup' yang menyebabkan gagal ginjal akut. Ditambah lagi berita inflasi di mana-mana yang membuat hidup makin merana.

"Ah biasa saja. Jika peristiwa biasa-biasa aja, mana bisa jadi berita?" Bisa jadi itu ungkapan kita, terlebih insan pers. Sebagai mantan pemimpin redaksi majalah popular, saya paham betul hal itu, bahwa kabar buruk bisa menjadi berita yang baik. Namun, benarkah berita kelam dan menakutkan semacam itu tidak berefek apa-apa kepada kita? Ojo kesusu ambil kesimpulan.

Seneca pernah mengungkapkan kalimat yang dahsyat: "We are more often frightened than hurt; and we suffer more from imagination than from reality." Imajinasi kita terbentuk dari apa yang ditangkap oleh panca indera kita-kadang indera keenam. Masalahnya, jika kita terus-menerus terekspose dengan hal-hal yang berbahaya dan mengerikan, imajinasi kita menambahi intensitasnya sehingga semakin mengerikan.

Jika selama ini kita biasa saja masuk WC, setelah melihat film horor yang hantunya keluar dari kloset, kita jadi ragu-ragu memakainya. Tiap hari kita terbiasa mandi di bawah shower, namun begitu pulang dari nonton film horor yang pancurannya mengeluarkan darah, kita mengecek ulang selang shower kita.

Demikian juga dengan berita bohong. Hoax yang disebar berulangkali pada akhirnya akan mengancam sebagian ke sel abu-abu kita dan kita anggap sebagai suatu kebenaran. Apakah Anda sempat mengecek keaslian ijazah Anda? Jika ya, Anda sudah meminum sirup yang menyebabkan gagal nalar.

Bahaya di Mana-Mana

Saat mengikuti seminar kepemimpinan di Singapura, salah satu pembicara dari Inggris menjelaskan sekali lagi singkatan dari FEAR: False Evidence Apperasing Real. Apakah kita tidak bisa menjadi korban konspirasi orang berpangkat, jatuh terinjak di ruang yang rapat, pembunuh psikopat, salah minum obat? Bisa jadi. Namun, yang lebih sering terjadi, kita 'terbunuh' oleh rasa takut kita sendiri terhadap sesuatu yang tidak pasti dan kemungkinan besar tidak terjadi.

"Kami sedang memeriksa semua obat sirup kami," ujar seorang direktur produksi sebuah Perusahaan Besar Farmasi menjawab pesan WA saya. "Lebih baik mencegah ketimbang mengobati" sangat terkenal di dunia kedokteran. "Kok bisa selama bertahun-tahun kita minum obat sirup baru kali ini heboh," ujar seorang di WAG.

Bagi saya, nasihat Raja Sulaiman sungguh manjur: "Orang bijaksana menghindar apabila melihat bahaya; orang bodoh berjalan terus lalu tertimpa malapetaka." Setelah hampir terhimpit saat keluar dari sebuah gedung pertunjukan, saya memilih menghindari kerumunan yang terlalu padat.

Orang yang lebih berani dan bijak dari saya bertindak lebih dari itu. Suatu kali, gedung bioskop tempat saya menonton mengalami kebakaran. Orang panik dan berhamburan menuju pintu keluar yang hanya satu dan gelap lagi. Tiba-tiba seorang bapak berdiri dan berteriak tegas, "Hai kalian berhenti semua. Keluar pelan-pelan. Pasti selamat semua!" Saat perintahnya dipatuhi, kami keluar dengan selamat. Meskipun begitu, masih ada sebagian penonton yang nyeletuk, "Uang tiket dikembalikan nggak ya?" Saya tersenyum sendiri. Kok sempat-sempatnya. Nggak mau rugi dia!

Judith Blume, penulis novel anak-anak Amerika yang terkenal, berkata, "Each of us must confront our own fears, must come face to face with them. How we handle our fears will determine where we go with the rest of our lives. To experience adventure or to be limited by the fear of it."

Itulah yang digambarkan dengan tepat dari serial film Netflix Jurassic World Camp Cretaceous. Enam remaja tertinggal di sebuah pulau penuh dinosaurus. Mula-mula mereka mengalami ketakutan yang luar biasa dan lari ke sana kemari sampai beradaptasi dan berani menghadapi bahaya, bahkan menjinakkan beberapa dinosaurus. Mereka merangkul ketakutan mereka sendiri dan menjadi manusia unggul.

Orang yang pasif, bahkan mager, selalu melihat bahaya di mana-mana. Menurut Raja Salomo, orang semacam ini selalu cari alasan, "Si pemalas berkata, 'Ada singa di tengah perjalanan! Ada singa di jalan-jalan!'" Dale Carnegie memberikan antidot yang cespleng: "Inaction breeds doubt and fear. Action breeds confidence and courage. If you want to conquer fear, do not sit home and think about it. Go out and get busy." Bisa jadi bahaya ada di mana-mana, orang gila haus nyawa ada, inflasi terus mengejar kita, namun jika kita tidak bergerak dan terus bekerja, kita justru akan mati konyol. Bukankah begitu?

Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa

Simak juga 'Halloween Kemungkinan Bakal Dilarang dari Siaran Korea Selamanya':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT