Wapres Ma'ruf Amin di Antara Thomas Marshall dan Jusuf Kalla

ADVERTISEMENT

Kolom

Wapres Ma'ruf Amin di Antara Thomas Marshall dan Jusuf Kalla

Sudrajat - detikNews
Selasa, 01 Nov 2022 11:00 WIB
Sudrajat, wartawan detikcom
Foto: Rahman / detikcom
Jakarta -

"Once there were two brothers. One ran away to sea; the other was elected vice president of the United States. And nothing was heard of either of them again."

Thomas R. Marshall melontarkan lelucon tersebut saat Woodrow Wilson mendaulatnya untuk menjadi wakil presiden pada 1912. Lelucon pahit tersebut akhirnya benar-benar dialami Marshall. Dia yang menjadi wapres pada 1913 - 1921 praktis tak memainkan peran signifikan seperti juga dialami para wapres lainnya di AS.

Thomas R. Marshall, Wapres AS 1913 - 1921, KH Ma'ruf Amin, dan Jusuf KallaThomas R. Marshall, Wapres AS 1913 - 1921, KH Ma'ruf Amin, dan Jusuf Kalla Foto: Kolase foto: Sudrajat

Saat berada di Boston pada akhir 1918, Marshall kembali melontarkan joke terkait dirinya sebagai wapres. Posisi wapres, kata dia, merupakan pekerjaan terbaik dan tertinggi yang dimilikinya tanpa harus mempertanggungjawabkan apa saja yang pernah diperbuatnya. Bila sesuatu yang dikerjakannya dianggap keliru, tak seorang pun dapat menyalahkan karena penanggung jawab segala kebijakan memang tidak pada dirinya.

Menurut Ronald G. Shafer, mantan editor politik di The Wall Street Journal, Marshall cuma sekali berkesempatan memimpin sidang kabinet pada 10 Desember 1918. Kala itu dia terpaksa melakukannya karena Presiden Woodrow Willson mendadak harus memperpanjang perjalanan dinasnya di Paris.

"Kiprah lainnya yang sempat tersorot publik adalah ketika dia harus menyambut kunjungan kenegaraan Raja Albert I dari Belgia pada 2 Oktober 1919," tulis Shafer di Washington Post edisi 14 Desember 2021.

Apa yang dialami Thomas R. Marshall dan para wapres lainnya di AS sebetulnya mirip dengan yang terjadi di Indonesia, tak kecuali KH Maruf Amin. Karena itu agak berlebihan ketika Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) mencemooh Kiai Maruf dengan menyebut "sekadar jadi simbol dan pajangan di depan kelas-kelas sekolah dasar."

Cemoohan semacam itu menggambarkan BEM UI tak memahami konstitusi dengan baik. Sebab kedudukan Wakil Presiden sebagaimana diatur di dalam UUD 1945 Pasal 4 ayat (2) adalah sebagai Pembantu Presiden. Sebagai pembantu presiden, kedudukan wapres menjadi setara dengan menteri yang juga sama-sama sebagai Pembantu Presiden. Wakil Presiden hanya merupakan the second man (orang kedua).

Wapres tidak bertanggung jawab kepada Presiden, sebagaimana layaknya status menteri sebagai Pembantu Presiden yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Dalam tradisi dan praktik ketatanegaraan, belum pernah ada wapres yang menyampaikan pertanggungjawaban kepada MPR atau kepada rakyat. Pertanggungjawaban selalu dibebankan kepada Presiden. Karena itu, posisi wapres sebagai pembantu presiden menjadi kurang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan.

Di masa Orde Baru, dari enam wapres yang pernah mendampingi Presiden Soeharto malah biasa disebut sebagai "ban serep". Pamor Try Sutrisno yang lumayan berkilau semasa menjadi Panglima ABRI justru langsung meredup begitu menjadi wapres pada 1993-1998. Sebab kiprah yang dimainkannya sesuai arahan Presiden Soeharto lebih banyak bersifat seremonial.

Barangkali cuma BJ Habibie yang mendapatkan tugas dan kepercayaan begitu besar dari Soeharto. Tak heran bila kemudian Habibie dianggap sebagai "putra mahkota". Dia tak cuma diberi tugas di bidang pengawasan seperti para wapres sebelumnya. Habibie juga diminta terlibat aktif dalam percaturan global. Di bidang ekonomi, mantan Menristek itu diberi kepercayaan untuk menyerasikan pembangunan industri. Selain itu, Habibie juga menjadi Ketua Harian Dewan Pembina Golkar.

Saya menduga, BEM UI cuma memahami sepak terjang wapres dari sosok Jusuf Kalla (JK). Saat pertama kali menjadi wapres mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 2004-2009, penampilan JK yang terkesan lebih dominan nyaris melampaui SBY sebagai presiden, untuk tidak menyebut telah muncul semacam "matahari kembar" dalam pemerintahan kala itu.

JK yang secara konstitusi seharusnya menjadi pendamping presiden malah kemudian cenderung menjadi semacam pesaing. Hal itu, menurut Roy BB Janis dalam bukunya, Wapres: Pendamping atau Pesaing dimungkinkan sebab dia adalah sosok yang paling 'berkeringat' untuk meraih posisi tersebut bila dibandingkan dengan para wapres terdahulu.

JK secara terbuka memberikan konfirmasi. Dia mempunyai basis massa di kawasan Timur Indonesia, punya modal untuk ikut membiayai kampanye, dan saat pencalonan memang SBY lah yang paling membutuhkannya. "Jadi, saya tidak datang dengan modal nol," ujar JK dalam wawancara khusus dengan Tempo, 5 Februari 2004.

Tak heran bila JK kala itu punya posisi tawar untuk ikut menentukan rekrutmen sejumlah menteri. Puncaknya, saat Presiden SBY membentuk Unit Kerja Presiden Bidang Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R) dia menentangnya. Bahkan di pengujung masa pemerintahan, JK menjadi penantang SBY untuk memperebutkan kursi kepresidenan periode 2014-2019. Sebuah sikap dan tindakan yang di AS sekalipun belum pernah dilakukan.

Namun di negeri yang kerap dianggap sebagai embahnya demokrasi itu, mereka yang pernah menjadi wapres dan kemudian ikut mencalonkan diri sebagai presiden pada periode berikutnya umumnya terpilih menjadi presiden.

Toh begitu, saat menjadi wapres kedua kalinya, mendampingi Presiden Jokowi (2009-2014), dominasi JK praktis berkurang. Dia lebih tahu diri untuk tidak bersikap dan bertindak jemawa. Kali ini bahkan ada yang menyebut JK lebih berperan sebagai mentor untuk Jokowi yang dinilai sejumlah orang belum matang untuk tampil di kancah politik nasional.

Ada juga yang menyebut JK tengah mengamalkan nasihat Pierre Sainger, juru bicara Presiden AS John F. Kennedy, tentang kepatutan seorang wapres. Menurut Sainger, "Wapres harus rela berjalan satu langkah di belakang, bersedia berbicara dengan nada lebih rendah, dan sama sekali tak boleh bermimpi merebut jabatan presiden."

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT