Impian Melampaui Barier Kewarasan

ADVERTISEMENT

Impian Melampaui Barier Kewarasan

Iwan Yahya - detikNews
Selasa, 01 Nov 2022 10:03 WIB
Iwan Yahya
Foto: Iwan Yahya (dok. Pribadi)
Jakarta -

Mengejar harkat sebagai sebuah universitas berkelas dunia nampaknya demikian mempengaruhi dan menyedot energi besar universitas kita. Metriknya seolah menjadi penanda kuatnya marwah institusi. Tak terkecuali bagi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Itu tergambarkan dari target pencapaian yang demikian tegas di dalam peraturan Majelis Wali Amanat (MWA) tentang Kebijakan Umum UNS. Menempati ranking 600 dunia tahun 2027 dan lalu melejit ke dalam ranah Top 100 pada akhir tahun 2047. Sebuah target yang luar biasa besar, berani dan ambisius. Sah saja.

Bagaimana rektor baru di UNS meramu strategi untuk mencapainya? Publik sangat layak untuk tahu. Tak terkecuali civitas akademika dan semua insan UNS termasuk alumni. Mereka harus dipandang sebagai pihak yang berkepentingan dan berhak untuk mengetahuinya.

Karena itu gelaran gagasan para kandidat rektor yang bersifat terbuka dan disiarkan langsung via kanal Youtube tanggal 27 Oktober 2022 patut diapresiasi. Itu memberi akses kepada publik dan seluruh insan UNS untuk membuat penilaian. Sebaik apa para kandidat rektor periode 2023 hingga 2028 itu memahami persoalan kekinian UNS dan sehebat apa visi mereka tentang masa depan.

Ruang untuk Lompatan Menggila

Saya mengikuti acara itu via kanal Youtube. Antusias dan berharap cemas. Bahwa para kandidat itu akan menyitir fakta kekinian dalam sistem inovasi UNS. Misal saja tentang rendahnya sitasi dan mengurai biang sebab di sebaliknya. Setidaknya karena hal itu menjadi fakta eksak yang terbaca dari data di laman Scopus dan menjadi basis penilaian QS Star.

Saya memimpikan jawaban berupa lompatan solusi tak biasa. Semisal gagasan universitas sebagai sebuah innovation factory. Mengkhayalkan di dalamnya terurai kebijakan ruang pembiayaan maksimal bagi para professor dengan h-index di atas sepuluh. Dana yang kemudian dapat digunakan untuk memberi beasiswa S2 dan S3 di lab para professor itu. Mengembangkan riset unggul dan menghasilkan paten dan publikasi di jurnal bereputasi dan terkemuka. Mengirimkan mahasiswa ke forum konferensi internasional, serta memperkuat jejaring di dalam ekosistem inovasi nasional dan global, dan lain sebagainya. Segala ragam kegiatan unggulan yang menghasilkan impak signifikan.

Muncul bayangan karakter sebuah universitas yang dinamis dalam tradisi berkarya dan integritas akademik sangat kuat. Betapa hebatnya jika misalnya UNS dapat bersinergi dengan Solo Technopark (STP). Mengambil inspirasi dari sinergi antara MIT dengan Harvard University yang melahirkan Broad Institute. Sebuah symbiosis yang secara taktis menempatkan Broad Institute sebagai institusi akademik dengan capaian competitive impact tertinggi di antara Top 100 dunia tahun 2022. Melampaui Tsinghua University, University of California dan bahkan Harvard University dan MIT sendiri seperti yang tersaji dalam laporan Innovation Momentum 2022: The Global Top 100 yang diterbitkan oleh LexisNexis.

Saya membayangkan STP berada dalam posisi sebagai salah satu clearing house untuk kepentingan delivery inovasi UNS. Pendekatan semacam ini pasti akan berdampak terhadap bertumbuhnya kemampuan menghasilkan pendapatan dari inovasi bernilai bisnis yang tercipta sebagai hasil riset unggulan para dosen.

Tidak berhenti di situ saja. Kemitraan UNS-STP dapat menjadi jawaban UNS terhadap dampak laju perubahan global, pandemi covid dan resesi ekonomi yang dikaitkan dengan penguatan daya saing alumni untuk bertarung dalam perebutan kesempatan kerja. Kemitraan bersama STP diharapkan dapat memunculkan manfaat semisal saja berwujud bootcamp dengan biaya terjangkau atau bahkan gratis. Layanan yang dapat
disajikan oleh sektor bisnis maupun institusi lain dalam jejaring STP dan Pemkot Solo.

Program untuk mendapatkan sertifikat keahlian seperti itu sangat diperlukan oleh para fresh graduate. Sayangnya sejauh ini aksesnya masih terbatas. Hanya dapat dinikmati oleh mereka yang berasal dari kalangan mampu karena sifatnya yang berbayar.

Saya juga membayangkan sajian gagasan berupa lompatan solusi serempak untuk penguatan pendidikan bela negara dan penanggulangan kekerasan seksual yang ditautkan dengan konsep green campus. Betapa menarik jika kemudian UNS dapat merancang ketentuan wajib tinggal di asrama bagi mahasiswa tahun pertama.

Banyak universitas lain memang telah menerapkan konsep seperti ini. Akan menjadi sangat berbeda jika misalnya UNS memunculkan konsep student city dengan keterlibatan Pemerintah Kota Surakarta dan jejaring perguruan tinggi di Surakarta. Bayangkan sebuah smart satellite city yang dinamis, berfasilitas lengkap, digital dan hijau dengan konektivitas transportasi 24/7. Kota yang dihuni oleh puluhan ribu mahasiswa. Solusi yang memperkuat posisi kota Solo sebagai Kota Tujuan Belajar.

Keberadaan student city merupakan solusi serempak untuk penguatan pendidikan bela negara dan green campus. Lompatan seperti itu juga akan menghasilkan dampak yang sangat baik bagi pertumbuhan ekonomi kota Solo. Menjadi model yang dapat diduplikasi oleh kota-kota pelajar lain di Indonesia (Yahya, DetikNews 11 April 2022).

Sisi liar di batang nalar saya tak berhenti sampai di situ. Terbayang lompatan kiat yang menyatukan persoalan perluasan akses belajar dan strategi branding digital UNS.

Alih-alih mengikuti cara universitas lain yang membuka banyak cabang di berbagai kota bahkan manca negara, saya justru membayangkan UNS Metaverse!

Intinya berupa keberanian untuk memformulasi ulang sajian kurikulum program sarjana dan sarjana terapan ke dalam modul-modul portofolio bersertifikat yang tidak bersifat sekuensial. Layanan perkuliahan di domain metarverse dengan jaminan mutu terpercaya tentu akan memudahkan akses belajar bagi siapa saja tanpa kendala ruang dan waktu. Daya tampung kelas menjadi tidak terbatas sekaligus menghapus
kendala demografi dalam branding institusi. Pangsa pasar tumbuh menjadi berlipat ganda karena adanya fleksibilitas dalam menentukan waktu dan beban studi.

Faktor yang akan menjadi daya tarik penting bagi mereka yang berkeinginan belajar sambil tetap bekerja (Yahya, DetikNews 6 April 2022).

Ah, rupanya batang nalar saya telah menjadi sedemikian liar. Terlalu berharap untuk mendengar sajian gagasan dan lompatan kegilaan kreatif kaum penuh mimpi. Gairah yang dipicu interpretasi atas metrik pencapaian dalam peraturan MWA UNS nan bagai mimpi besar kelewat berani.

Melawan Barier Kewarasan

Sebagai insan UNS dengan masa kerja mendekati tiga puluh tahun menjadi dosen di Departemen Fisika, tentu saya cukup dalam mengenal budaya akademik dan tradisi berprestasi di UNS. Pengalaman merancang migrasi sistem inovasi berbasis grup riset sebagaimana yang berlaku saat ini memberi saya alasan baik untuk tidak sepenuhnya membiarkan ruang bernalar saya penuh dengan optimisme.

Sajian data di laman Scopus elok menjadi alasan baik bagi semua insan UNS untuk menggeser pola bekerja dan berinovasi. Kontributor bagi publikasi berimpak yang bersifat segmented dan masih banyaknya dosen bahkan guru besar dengan capaian h-index rendah harus dipandang sebagai salah satu simpul masalah serius.

Tidak ada yang salah dengan menjadikan persoalan itu sebagai pemantik gelisah.

Kegelisahan yang kita diperlukan agar sikap permisif terhadap pola bekerja tidak produktif tidak terpelihara. Segala hal yang seharusnya telah hilang dari budaya akademik tidak boleh dipandang sebagai kelaziman karena dapat menjadi kebenaran diskursif di ruang nalar insan UNS. Jika tidak dikendalikan maka akan tumbuh menjadi barrier kewarasan berkarya dan berpengetahuan. Menguras energi sistem inovasi secara sia-sia. Rasa gelisah itu menghadirkan pertanyaan, sanggupkah rektor baru UNS melampauinya?

Sanggupkah misalnya rektor yang akan datang menghentikan pembayaran tunjangan kehormatan seorang professor jika terbukti tidak berkinerja sesuai ketentuan berlaku?

Tentu saja bisa dan bernyali jika telah terbentuk kesadaran kolektif. Semua insan UNS berkenan mengambil hikmah bagaimana barrier kewarasan dalam perkembangan ilmu pengetahuan rontok karena bergesernya sudut pandang yang menghadirkan pemahaman kebenaran baru.

Saya menganalogikannya dengan kaidah Bragg yang mengatur persyaratan dimensi geometrik dalam skala panjang gelombang untuk persoalan resonansi material. Persyaratan Bragg itu dipandang oleh para fisikawan sebagai batasan atau barrier kebenaran berpengetahuan. Namun keadaan berubah ketika Victor Vaselago berhasil menjabarkan perspektif teoretik perambatan gelombang pada material yang memiliki permitivitas dan permeabilitas negatif. Teori tersebut menjadi fundamen pengetahuan baru yang bernama metamaterial dan memunculkan konsep meta atom yang merontokkan syarat Bragg. Metamaterial kemudian berkembang dengan sangat pesat dengan ranah aplikasi yang sangat luas.

Analogi persamaan Maxwell untuk perambatan gelombang bunyi mengantarkan ilmuwan China Zhengyou Liu dan kawan-kawan menyajikan bukti eksperimental pertama tentang kebenaran eksistensi metamaterial di ranah akustik tahun 2000.

Mereka membuktikan bahwa resonansi dapat terjadi pada material dengan struktur yang memiliki dimensi geometrik jauh lebih kecil daripada nilai panjang gelombang. Runtuhnya syarat Bragg oleh prilaku metamaterial merupakan kebenaran ayat

Mari buktikan kepada publik dan dunia bahwa mimpi besar UNS dapat dirajut dengan pergeseran budaya akademik semua insan UNS. Menjadi lebih hebat dengan nyali dan kegilaan yang tidak biasa! Wallahualam.

Iwan Yahya. Dosen dan peneliti The Iwany Acoustics Research Group (iARG) Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta.

(rdp/rdp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT