Candu KDRT dan Payung Hukum Lanjutan "Restorative Justice"

ADVERTISEMENT

Kolom

Candu KDRT dan Payung Hukum Lanjutan "Restorative Justice"

Fathurrohman - detikNews
Senin, 31 Okt 2022 14:28 WIB
one caucasian couple man and woman expressing domestic violence in studio silhouette   on white background
Ilustrasi: iStock
Jakarta -

Seorang teman aparatur sipil negara (ASN) di salah satu kementerian pusat meminta diskusi dengan saya terkait permohonan tes urine suami dari rekan kerjanya. Katanya, rekan kerjanya tersebut kerap menjadi korban kekerasan dari suaminya yang juga ASN di kementerian. Tes urine diperlukan untuk mengetahui apakah suami dari rekannya tersebut pemakai narkoba atau bukan.

Dari cerita yang disampaikan teman saya itu, rekan kerjanya tidak sekali mendapatkan kekerasan. Tentu saja inginnya melawan. Tapi dengan kerentanan yang dimilikinya sebagai ibu dari anak suaminya dan kerentanan karena alasan lain yang mungkin terjadi seperti ancaman hidup, karier, dan keluarganya.

Apa yang dialami teman kerja dari teman saya tersebut tidak jauh berbeda dengan yang dialami artis Lesti Kejora. Jika apa yang dipertontonkan kepada publik itu benar, maka penyanyi dangdut itu menjadi bulan-bulanan suaminya, Rizky Billar. Kekerasan yang dilakukan bukan sekali atau dua kali.

Video aksi lempar bola bowling Rizky Billar yang viral adalah contoh kegilaan yang dilakukan oleh Rizky. Untungnya, pelaku terpeleset sehingga Lesti aman dari lemparan pertama tersebut. Belakangan, Lesti terpaksa melapor ke kepolisian setelah dirinya lebam-lebam sebagai konsekuensi baku hantam suaminya. Rizky, seperti yang sudah-sudah, melakukan aksi kekerasan yang dipicu penyudutan yang dilakukan Lesti atas dugaan perselingkuhannya.

Kemudian, Rizky menjadi tersangka lengkap dengan baju tahanan khas kepolisian. Khalayak tampak mensyukuri situasi tersebut. Turut merasakan "kemenangan" yang diraih Lesti. Netizen republik ini mendukung penuh sikap kepolisian sebagai sikap empati atas kedzaliman yang diterima Lesti selama ini.

Namun, kekagetan kembali ditimbulkan oleh pasangan ini. Lesti mencabut laporannya. Bahkan menurut pengakuannya pencabutan laporan dilakukan sehari sebelum pengumuman penetapan Rizky sebagai tersangka. Khalayak kembali bereaksi keras dan heran dengan sikap Lesti tersebut.

Lesti memilih untuk memaafkan. Sementara khalayak kesal dan bingung kepada pihak mana harus membela. Suara-suara boikot atas sikap Lesti pun bertebaran di kanal-kanal media sosial.

Viktimisasi Berulang

Salah satu konsep untuk memahami sikap "aneh" Lesti adalah dengan memahami perasaan traumatik yang semakin menjadi pasca kejadian terutama selama proses hukum berjalan. Sebagai korban, Lesti akan terus-menerus, terpaksa atau tidak, menceritakan pengalaman pahitnya di berbagai kesempatan seperti dalam proses pemeriksaan di penyidik dan persidangan. Begitu juga di hadapan publik.

Situasi tersebut membuat korban kembali merasakan kepahitan dan rasa sakit yang berulang. Pengulangan traumatisasi yang dirasakan oleh korban seperti Lesti inilah yang disebut dengan viktimisasi berulang atau secondary victimization. Situasi seperti ini kerap terjadi terhadap korban pelecehan, pemerkosaan, atau kekerasan.

Perasaan sakit yang berulang tersebut tentu saja akan dirasakan berbeda oleh para korban. Sikap mental korban terpengaruh oleh berbagai situasi dan kondisi. Terdapat situasi sosial yang berbeda terhadap apa yang dialami oleh korban termasuk dalam kasus domestik atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Kekerasan domestik masih dianggap aib sehingga kerap tidak terungkap. Hanya orang-orang dekat keluarga saja yang biasanya mengetahui kasus tersebut. Belum lagi, umumnya, korban akan mendapatkan nasihat untuk bersabar dengan alasan-alasan tertentu. Apa yang dialami oleh Lesti adalah cermin pandangan tersebut sehingga korban kekerasan rumah tangga berkali-kali tersebut mencabut laporannya.

Apalagi, jika korban mendapatkan nasihat dari orang yang pernah berada di posisi yang sama, seperti yang kita ketahui terdapat artis lain yang mengaku biasa digebuki dalam keluarga. Sehingga siklus kekerasan dalam rumah tangga akan terus terjadi. Siklus tersebut adalah kekerasan, permintaan maaf pelaku yang disertai dengan rayuan dan hadiah, dan sikap memaafkan korban karena terbujuk pelaku dan lingkungan. Akhirnya korban terjebak dalam situasi trauma bonding. Yakni, situasi trauma yang membuat korban sulit keluar dari situasi kekerasan.

Kekerasan domestik kerap aman untuk pelaku dan tentu saja musibah besar bagi korban. Situasi berbeda jika pada bentuk-bentuk kejahatan konvensional lain seperti pemalakan, pencurian, dan kejahatan jalanan lainnya.

Agar tidak lagi menjadi korban pemalakan atau pembegalan, seseorang bisa menghindari waktu dan tempat sehingga dirinya aman dari jangkauan pelaku. Tapi dalam KDRT, korban tidak dapat menghindar sehingga kekerasan akan kembali terjadi. Situasi tersebut terjadi karena pelaku sepenuhnya memiliki akses terhadap korban.

Payung Hukum Lanjutan

Kasus Lesti Kejora dan Rizky Billar dianggap sebagai kasus yang melibatkan hubungan suami-istri dan dianggap sebagai masalah rumah tangga. Karena itu, kasus pasangan artis tersebut dianggap dapat diselesaikan dengan pendekatan restorative justice, pendekatan komitmen perdamaian antara pelaku dan korban.

Persoalannya, bagaimana agar restorative justice dilakukan secara benar terutama pada pihak korban? Pada kasus Lesti dan Billar, secara jelas Lesti adalah sepenuhnya korban dan dirugikan. Satu-satunya alasan rasional yang diungkap Lesti adalah pelakunya adalah ayah dari anaknya. Bahkan Lesti menyebutnya sebagai ayah terbaik bagi anaknya.

Tentu saja Rizky Billar adalah ayah terbaik karena satu-satunya ayah dari anaknya. Namun, telisik berikutnya adalah apakah kelak anaknya mendapatkan pengasuhan terbaik dari ayahnya yang memiliki riwayat pelaku kekerasan terhadap ibu dari anaknya tersebut? Jika kelak --semoga saja tidak terjadi-- anaknya juga menjadi korban seperti ibunya, maka kerusakan mental anaknya akan menjadi buruk.

Lingkaran KDRT memang tampak seperti drama yang tak berujung, seperti peran para artis yang memang kerap membuat drama. Karena itu, agar pendekatan restorative justice dalam upaya menyelesaikan masalah rumah tangga tidak manipulatif, diperlukan payung hukum lanjutan. Tujuannya adalah memberikan perlindungan hukum yang cukup kepada korban.

Lesti, sebagaimana juga korban-korban lainnya, cenderung akan memaafkan perilaku suaminya karena merasa berada pada posisi yang lemah. Seolah tidak berdaya. Maka, dengan payung hukum tersebut, pelaku berada pada pengawasan lebih oleh penegak hukum.

Secara tertulis, pelaku akan mendapatkan sanksi yang berlipat manakala suatu saat mengulangi perilaku buruknya. Karena kekerasan, ketika sudah menjadi tabiat, maka dia seperti candu, menjadi kebiasaan. Jika kekerasan sudah menjadi candu dalam rumah tangga, maka fondasi rumah tangga sesungguhnya rapuh serapuh-rapuhnya.

Fathurrohman analis kejahatan, ASN di BNN

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT