Sumpah Pemuda dan Petani Muda

ADVERTISEMENT

Kolom

Sumpah Pemuda dan Petani Muda

Bayu Dwi Apri Nugroho - detikNews
Jumat, 28 Okt 2022 14:18 WIB
Jokowi Unggah Poster Hari Sumpah Pemuda, Kucing Oyen dan CepmekĀ Nampang (dok Twitter Jokowi)
Ilustrasi: tangkapan layar akun medsos Presiden Jokowi
Jakarta -

Tanggal 28 Oktober 2022 merupakan salah satu hari yang bersejarah di Indonesia, di mana bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-94 tahun. Sumpah Pemuda inilah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Indonesia Merdeka, di mana ikrar satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa menumbuhkan semangat patriotisme yang lebih untuk merebut kemerdekaan.

Tahun 2022, usia Sumpah Pemuda sudah 94 tahun, dan ini bukan waktu yang sebentar, hampir satu abad. Dalam kurun waktu yang hampir satu abad tersebut banyak sekali hal-hal terkait dengan pemuda yang bisa kita perbincangkan. Peran pemuda ini sangat strategis, karena pemuda sering digambarkan sebagai pewaris dan penerus kelangsungan bangsa, dan di pundak merekalah masa depan bangsa dipertaruhkan.

Banyak sekali kiprah pemuda yang membawa nama Indonesia dalam kancah internasional baik dari bidang olahraga, seni, budaya, maupun pendidikan. Tetapi ada satu hal yang mungkin kita lupa, bagaimana kaitan pemuda dengan dunia pertanian. Hal Ini menjadi penting, karena dalam waktu belakangan ini, kaum muda terekam semakin tidak tertarik untuk berkiprah menjadi petani. Profesi petani benar-benar tidak dilirik, sedangkan para pemuda ingin mendapatkan pekerjaan yang mampu menjamin kehidupannya.

Tidak Tertarik Lagi

Permasalahan yang dihadapi bangsa kita dan mungkin beberapa negara lain di dunia adalah minat pemuda untuk terjun ke sektor pertanian. Pemuda yang tinggal di pedesaan terekam sudah tidak tertarik lagi jadi petani. Hal ini terlihat dari aktivitas mereka yang beramai-ramai keluar dari desa menuju perkotaan demi mendapat kehidupan yang lebih baik, padahal di desa-desa mereka masih banyak lahan pertanian yang bisa digarap dan dikerjakan.

Hal ini menunjukkan bahwa untuk saat ini berprofesi bukan pilihan terbaik untuk diambil. Mungkin ini juga terkait dengan pemikiran pemuda-pemuda desa tadi bahwa menjadi petani identik tidak sejahtera. Pemuda belum melihat masa depan yang cerah atau jaminan masa depan yang pasti dari sektor pertanian. Hal ini ditambah lagi bahwa pemuda-pemuda di desa telah melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana nasib dan kehidupan para petani atau orangtua mereka yang menjadi petani yang hingga sekarang yang masih dalam keadaan biasa-biasa saja. Akibatnya, para pemuda melihat perkotaan menjadi daerah yang menjanjikan.

Mereka optimis akan memperoleh pekerjaan yang menjanjikan dan mampu memenuhi harapannya dibandingkan terus menetap di pedesaan. Ditambah lagi banyak orangtua yang kini berprofesi sebagai petani melarang anak-anak mereka menjadi petani. Para orangtua ini lebih mendambakan anak-anak mereka jadi pegawai negeri atau pegawai swasta, polisi atau TNI.

Masalah Serius

Menurunnya minat kaum muda pedesaan jadi petani betul-betul merupakan masalah serius untuk dijadikan bahan pencermatan kita bersama. Pertanyaan mendasarnya adalah siapa yang akan menggantikan petani-petani saat ini yang sudah berusia lanjut,jika kaum muda pedesaan sendiri tidak memiliki hasrat jadi petani? Banyak pihak menyebut, bila hal ini tidak diselesaikan secara cerdas dan cepat, maka bangsa ini akan menghadapi krisis alih generasi petani.

Dari permasalahan menurunnya minat anak-anak muda ke dunia pertanian ini kemudian memunculkan pertanyaan, bagaimana cara meningkatkan minat anak-anak muda ke dunia pertanian. Selama ini diyakini bahwa pemanfaatan inovasi dan teknologi di dunia pertanian seperti pemanfaatan drone, traktor otomatis, aplikasi pertanian sangat membantu menaikkan minat anak-anak muda ke dunia pertanian walaupun belum signifikan.

Tetapi, ada hal lain yang mungkin kita lupakan bahwa kita harus mengenalkan pertanian termasuk pemanfaatan-pemanfaatan teknologinya sedini mungkin. Caranya adalah dari sisi pendidikan, dengan memasukkan pertanian dan teknologi ini dalam kurikulum atau materi pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) termasuk pesantren. Harapannya adalah dari usia muda sudah diajarkan dan diberi pengertian bahwa dalam pertanian juga ada teknologi yang digunakan, karena selama ini banyak masyarakat yang masih memiliki pandangan bahwa pertanian identik dengan petani tua, konvensional, kotor-kotor, dan tidak menguntungkan ke depan.

Kini pokok masalahnya sudah mulai tergambarkan, dan banyak solusi yang bisa dikerjakan. Bangsa Indonesia benar-benar menunggu kehadiran pemuda untuk menjadi petani-petani muda. Mereka inilah yang diharapkan mampu jadi generasi penerus para petani, dan mengambil estafet pertanian ke depan. Kita berharap, peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-94 tahun ini bisa menjadi titik balik yang kuat mewujudkan keinginan di atas. Selamat Hari Sumpah Pemuda dan Dirgahayu Pemuda Indonesia!

Bayu Dwi Apri Nugroho, PhD Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, FTP UGM; Ketua Dewan Pakar Pemuda Tani Indonesia

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT