Tiga Serangkai Literasi, Bahasa, dan Daya Belajar

ADVERTISEMENT

Kolom

Tiga Serangkai Literasi, Bahasa, dan Daya Belajar

Yanto Musthofa - detikNews
Kamis, 27 Okt 2022 10:57 WIB
20 Ucapan Hari Guru Sedunia 2022: Bahasa Indonesia dan Inggris
Foto ilustrasi: detikcom/ilustrasi/thinkstock
Jakarta -

Langkah revisi UU Sisdiknas untuk sementara gagal masuk Prolegnas di DPR. Pada saat bersamaan, sekolah-sekolah tengah sibuk menerka, meraba, dan mencoba sebisanya mewujudkan gagasan Merdeka Belajar. Meski secara malu-malu, gagasan itu ditahbiskan sebagai pengganti Kurikulum 2013. Entah ke mana muaranya nanti, yang pasti ada anomali kusut yang tak kunjung terurai, yakni rendahnya tingkat literasi.

Anomali, karena dalam masyarakat, anak-anak Indonesia sebetulnya sudah dipacu agar segera bisa "membaca" sedini mungkin. Sampai-sampai, ada satu pasal di PP No 17 tahun 2010 (Pasal 69), yang melarang tes baca-tulis bagi calon murid SD dan yang sederajat. Anehnya, nafsu kolektif pada target "cepat bisa baca" itu ternyata tak menghasilkan bangsa yang suka baca buku. Menurut hasil survei Most Literate Nations oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia berada di urutan nomor dua paling bawah dari 62 negara yang disurvei.

Akar Masalah

Rendahnya tingkat literasi adalah rendahnya daya belajar. Sebab, literasi adalah urusan bahasa, dan bahasa adalah instrumen dasar manusia dalam belajar memperbaiki kehidupan dari waktu ke waktu. Terbukti, rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia konsisten dengan rendahnya daya belajar di banyak survei internasional seperti PISA, PIRLS, TIMSS, dan lain-lain.

Akar masalahnya ada pada rezim pembelajaran di sekolah, khususnya pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa terlalu menyibukkan anak dengan hafalan pengetahuan tentang bahasa. Sementara, porsi pembelajaran berbahasa secara fungsional dalam mendengar, berbicara, menulis, dan (terutama) membaca hanya artifisial. Anak sibuk dengan definisi salah dan benar dalam membuat kalimat, tapi tak banyak berlatih agar produktif menghasilkan kalimat.

Mau tahu kegilaan soal pengetahuan tentang bahasa? Dalam silabus mata pelajaran Sekolah Dasar, ada materi jenis-jenis paragraf. Di era 1980-an, materi itu diajarkan pada Kelas 2 SMA. Jangankan anak SD, cobalah uji guru SMA untuk menyusun contoh paragraf narasi, eksposisi, argumentasi, deskripsi...niscaya terpancarlah kultur warga sekolah, termasuk guru Bahasa Indonesia, yang rata-rata alergi dengan tugas kepenulisan. Lalu, pengetahuan tentang jenis paragraf itu untuk apa?

Objek komponen survei-survei pendidikan internasional sejatinya mencerminkan struktur pembelajaran SD dan sekolah menengah di negara-negara maju. Komponennya adalah Reading, Mathematics, dan Science. MEMBACA bukan mata pelajaran Bahasa. Sebaliknya di negeri ini, bahasa Indonesia dikemas dalam mata pelajaran yang sarat muatan pengetahuan tentang bahasa. Ibarat tentang buah, anak diberitahu ada banyak jenis mangga di Indonesia. Ada harum manis, golek, kopyor, manalagi, Indramayu, dan lain-lain. Anak-anak hafal nama-nama dan asal buah mangga, tapi tak pernah merasakan mangga-mangga itu.

Praktik seperti seperti itu mengingkari teori LAD (Language Acquisition Development)-nya Noam Chomsky yang diterima dan banyak mempengaruhi praktik pembelajaran di dunia. Menurut Chomsky, sebagaimana dikutip Crosser (2000) dalam artikel berjudul Enhancing the Language Development, setiap anak manusia memiliki instrumen LAD dalam otaknya. Dengan sarana pemerolehan bahasa itu, anak menyerap, memahami, dan akhirnya menggunakan bahasa ibunya secara alamiah.

Kita tidak harus, misalnya, mengajarkan kepada anak pengetahuan tentang kalimat aktif dan pasif agar anak dapat mengerti, memahami, dan kemudian menggunakan dengan benar kalimat "Bunda memeluk aku" dan "Aku dipeluk Bunda." Yang dibutuhkan anak pada pendidikan dasar adalah kesempatan terlibat berbahasa sekaya mungkin.

Secara ringkas, tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia seyogianya membantu anak bisa berbahasa Indonesia. Bisa berbahasa Indonesia artinya anak bisa memahami perkataan orang, bisa menyampaikan isi pikiran dan perasaan, bisa memahami isi bacaan, dan bisa menyajikan kembali hal-hal yang didengar, dialami, dibaca, serta dipelajari dalam Bahasa Indonesia. Dari mana kemampuan itu didapat? Tentu saja, sumber pokoknya adalah paparan bahasa.

Memodifikasi Pelajaran Bahasa

Pemahaman itu menjadi salah satu landasan pedagogis keputusan di SD Batutis Al-Ilmi, yakni memodifikasi mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 4, 5, dan 6 SD dengan menu utama kegiatan membaca. Inisiatif itu dimungkinkan karena SD Batutis menerapkan dalam model pembelajaran Metode Sentra. Salah satu prinsipnya adalah non-direct teaching. Anak melakukan kegiatan yang difasilitasi guru untuk menemukan, menghimpun, dan mengonstruksi pengetahuan.

Konsekuensi keputusan itu dan prinsip Metode Sentra, pertama-tama, guru harus terus mengasah kemampuan berbicara dengan bahasa yang baik, benar, dan menarik. Kedua, guru harus menyediakan ragam teks berkualitas sesuai dengan kebutuhan tema. Di sinilah tantangan besarnya. Jangan berharap banyak pada buku paket, yang rata-rata lebih "ganjen" mengumbar petunjuk prosedural belajar ketimbang memosisikan diri pada fungsi pokok buku sebagai sumber pengetahuan.

Guru harus kreatif dan terampil menyusun teks yang sesuai dengan kebutuhan. Setelah teks tersedia, guru harus meramu menu kegiatan yang bervariasi dan berlapis untuk memastikan anak menyerap isinya. Ada diskusi interaktif. Lalu, anak menyajikan isi teks dalam diagram, mindmap, tabel isi paragraf, ringkasan isi atau bentuk-bentuk lain. Menu wajib lainnya adalah menjawab pertanyaan yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS - high-order-thinking skills).

Anak tak sekadar dituntut menyebutkan kembali informasi yang tertulis dalam teks. Dalam hal ini, anak memerlukan banyak pertanyaan terbuka, yang jawabannya tak bisa diukur secara kaku sebagai salah dan benar. Pengalaman, sudut pandang, persepsi, serta tahap kemajuan individual anak butuh ruang yang leluasa untuk mengalir.

Pertanyaan terbuka dibutuhkan karena dari sanalah pembelajaran terhubung dengan dunia anak, termasuk dengan dunia masa depan dalam imajinasi anak. Bayangkanlah pembahasan tema laut, misalnya. Anak butuh membangun imajinasi yang berhubungan dengan laut, entah menjadi pembuat kapal, ahli biota laut, industri berbasis hasil laut, apa saja.

Dialog Bebas

Mari perhatikan suasana belajar ini. Afiqah Humaira, 10 tahun, murid Kelas IV, sangat menikmati kerja kelompok menyarikan informasi dalam diagram dari teks tentang badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Simaklah jawaban tertulisnya untuk pertanyaan, "Apa yang ingin kamu lakukan seandainya diajak berpartisipasi dalam kegiatan melestarikan badak Jawa?" Dengan kalimat sempurna, dia menjawab, "Aku ingin menanam pohon agar bisa menjadi tempat tinggal badak Jawa."

Ditanyakan kepadanya secara lisan, "Adakah kemungkinan informasi dari TNUK tidak akurat? Jangan-jangan tidak hanya empat badak yang lahir di sana?" Jawaban Afiqah, dengan intonasi yang memikat dan penuh percaya diri, "Kemungkinan itu ada, Pak tapi sangat kecil." Mengapa? "Karena petugas TNUK sudah memantau dengan alat-alat."

Dialog-dialog bebas seperti di atas tak akan punya tempat dalam rezim pembelajaran yang berorientasi tunggal pada angka rapor. Namun, dialog-dialog itu sangat pantas diharapkan efek positifnya, seperti kegembiraan anak membaca dalam tema apa saja. Syaratnya, tersedia melimpah buku sumber pengetahuan yang tak seperti buku paket.

Yanto Musthofa guru Bahasa Indonesia SD Batutis Al-Ilmi, Pekayon, Bekasi; penulis buku 'Bahasa Mencerdaskan Bangsa' (2017)


(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT