Stop KDRT, Jangan Takut Menjadi Ibu Tunggal

ADVERTISEMENT

Kolom

Stop KDRT, Jangan Takut Menjadi Ibu Tunggal

Sri Kuswayati - detikNews
Rabu, 26 Okt 2022 11:00 WIB
Low angle of excited small daughter giving high five to mother and screaming while celebrating successful online shopping using laptop at table in light living room
Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/evgenyatamanenko
Jakarta -

"Ummi mau menikah lagi?" pertanyaan putri bungsuku sontak membuatku kaget dan bercampur heran. "Temanku punya ayah sambung baik banget," ujar putri bungsuku melanjutkan pernyataannya.

Selama ini aku fokus pada mendidik dan membesarkan empat orang anak-anakku, belum pernah mendapat pertanyaan serupa. Mendampingi mereka melewati masa-masa sulit pasca sang ayah wafat. Aku memilih untuk kembali ke rumah ibu, menemani beliau melalui masa tua. Di sisi lain, aku menyiapkan diri menjadi orangtua tunggal yang paripurna.

Aku mulai melanjutkan pendidikan jenjang magister, memilih untuk menjadi dosen agar tetap punya waktu untuk mengurus anak dan keluarga. Selain itu, aku bergabung di komunitas kepenulisan khusus perempuan bernama Sekolah Perempuan.

Aktif menyelesaikan studi, belajar menulis, dan membangun bisnis di dunia kepenulisan membawaku bertemu dengan lebih banyak lagi perempuan "senasib", sebagai ibu tunggal. Kami adalah tulang rusuk yang menjadi tulang punggung.

Ungkapan kita akan bertemu dengan teman-teman satu frekuensi menjadi nyata. Satu, dua, tiga, dan lebih banyak lagi teman, aku temui dalam kondisi yang sama. Mereka ada yang "memilih" bercerai dan menjadi ibu tunggal, ada pula karena takdir yang memisahkan akibat kematian.

Alasan Bercerai

Salah satu alasan seorang ibu memilih untuk bercerai dan menjadi ibu tunggal adalah karena adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kekerasan dalam rumah tangga adalah tindakan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami, istri, maupun anak yang berdampak buruk terhadap keutuhan fisik, psikis, dan keharmonisan hubungan sesuai yang termaktub dalam Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Seringkali kita menilai kekerasan dalam rumah tangga semata dalam bentuk fisik. Padahal, kekerasan verbal, lebih sering terjadi dan dapat menimbulkan gangguan psikis. Membuat tertekan dan perasaan tak berdaya. Kekerasan verbal dapat memunculkan insecuritas, kecemasan, dan menjadi pemantik tidak kekerasan fisik dan psikis pada anak. Hal tersebut terjadi karena adanya gangguan emosional sehingga menjadi tidak sabar pada anak dan akibatnya seperti lingkaran setan.

Orangtua yang menjadi korban kekerasan verbal akan mengakibatkan anak terpapar tindak kekerasan dalam rumah tangga. Meskipun demikian, tak sedikit yang memilih untuk bertahan dalam rumah tangga dengan tindakan KDRT dengan berbagai alasan. Menjadi keluarga yang "awet rajet" alias tampak baik di luar tetapi hancur di dalam lebih utama dari pada bercerai. Padahal jika kesehatan psikis terganggu, dalam hal ini menjadi seorang ibu yang tidak dihargai keberadaannya menjadikannya pribadi yang tidak bahagia. Apakah jika seorang ibu tidak bahagia dalam menjalani kehidupan berumah tangga akan mampu melahirkan anak-anak yang bahagia dan berprestasi?

Rasa Khawatir

Pada kebanyakan kasus, salah satu faktor untuk tetap mempertahankan rumah tangga meskipun sudah sering terjadi KDRT adalah rasa khawatir sang ibu akan ketimpangan proses pendidikan yang terjadi. Selain itu, bagi seorang ibu yang tergantung secara finansial pada ayah, tentu akan berpikir ulang untuk memutuskan berpisah, karena keberlangsungan hidup menjadi taruhannya.

Kenyataannya, seorang ibu tunggal yang membesarkan anak-anak di tengah keluarga besar justru menjadi kesempatan sang anak untuk belajar dari berbagai figur manusia dewasa di sekelilingnya, akan memperkaya pengalaman hidupnya. Masalah ekonomi, sebenarnya jika negara memberikan stressing pada pihak ayah atau keluarganya untuk turut terus bertanggung jawab, akan membantu mengurangi rasa khawatir ibu yang berlebihan.

Aku pribadi memilih melanjutkan hidup dengan tinggal bersama keluarga besar merasa memiliki support system yang baik. Sepanjang kita bisa melakukan komunikasi dengan pihak keluarga dalam satu rumah, pendidikan anak akan berlangsung secara baik dan natural.

Anak belajar untuk hormat pada figur orang dewasa di sekelilingnya. Anak pun dapat belajar dari interaksi yang terjadi di dalam keluarga besar. Adapun kehadiran masalah yang menjadi "kerikil" dalam kehidupan sebenarnya merupakan sarana mereka untuk belajar banyak hal.

Di dalam komunitas kepenulisan online yang aku bina, ada banyak perempuan yang akhirnya bisa mandiri secara finansial dan tetap dapat mengurus anak. Kami melakukan kegiatan kerja secara daring, jauh sebelum pandemi terjadi. Kami dapat mengatur jam kerja dan ritme kerja untuk meminimalisasi stres. Jangan takut menjadi ibu tunggal jika hidup bersama sudah tidak mungkin dipertahankan. Ada banyak jalan untuk para ibu bisa mandiri dan berpenghasilan.

Melanjutkan hidup bersama suami yang pernah melakukan tindakan KDRT atau memilih untuk berpisah adalah hak kedua belah pihak yang terlibat. Risiko untuk memilih tetap bersama ataupun berpisah itu juga adalah hal yang akan ditanggung keduanya. Jika hubungan masih bisa diperbaiki menjadi lebih baik, tentu pilihan untuk tetap mempertahankan rumah tangga menjadi prioritas utama.

Sri Kuswayati dosen Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, founder komunitas menulis @JoeraganArtikel

Tonton juga Video: Sandy Arifin Tegaskan Bahwa Lesti yang Laporkan Billar soal KDRT

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT