Nobel Ekonomi untuk Ben dan Pembelajaran dari Krisis

ADVERTISEMENT

Kolom

Nobel Ekonomi untuk Ben dan Pembelajaran dari Krisis

Ahmad Danu Prasetyo - detikNews
Jumat, 21 Okt 2022 10:00 WIB
ahmad danu
Ahmad Danu Prasetyo (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Senin, 10 Oktober 2022, The Royal Swedish Academy of Sciences mengumumkan pemberian penghargaan Nobel Ekonomi kepada tiga orang pemenang, yakni Douglas Diamond dari University of Chicago, Philip Dybvig dari Washington University, dan Ben Bernanke dari The Brookings Institution. Ketiga orang ini dianggap memberikan kontribusi keilmuan yang tinggi di bidang perbankan dan krisis keuangan.

Seketika dunia keuangan geger ketika mendengar pengumuman ini. Seluruh dunia sepakat bahwa Diamond dan Dybvig memang layak mendapatkan penghargaan ini. Penelitian mereka mengenai peranan bank sebagai perantara keuangan dan risiko likuiditas yang melekat di dalam proses bisnisnya memang diakui cukup penting, terutama bagi regulator perbankan dan sektor jasa keuangan.

Terdapat ketidaksinkronan antara pengelolaan dana pihak ketiga dari nasabah penabung dan pengelolaan pinjaman kepada nasabah kreditur yang bersifat alamiah. Dana nasabah penabung bersifat jangka pendek, mereka memiliki keleluasaan untuk menarik dana mereka dari bank sewaktu-waktu. Sementara, pinjaman yang diberikan oleh bank kepada nasabah kreditur bersifat kontraktual dan berjangka lebih panjang. Dari proses bisnis ini kemudian muncullah risiko likuiditas; bank tidak mampu membayar kewajiban mereka kepada nasabah penabung ketika mereka melakukan penarikan uang secara besar-besaran (rush).

Permasalahan tidak berhenti di situ saja, terdapat saling keterkaitan di dalam pasar uang antarbank; bank satu memiliki dan memberikan pinjaman kepada bank lainnya. Dengan demikian, ketika sebuah bank memiliki permasalahan likuiditas, hal tersebut akan merembet kepada bank-bank lainnya sehingga menjadi sebuah risiko sistemik. Hal inilah yang kemudian dapat memicu krisis keuangan, seperti halnya yang terjadi di negara-negara Asia, termasuk di Indonesia, pada 1998 yang lalu.

Penelitian Diamond dan Dybvig merupakan salah satu yang menjadi dasar bagi penguatan peran bank sentral sebagai lender of last resort dan mengilhami pendirian LPS di Indonesia untuk memberikan jaminan simpanan bagi para nasabah pascakrisis keuangan 1998. Dengan memberikan jaminan atas simpanan tersebut, masyarakat akan mendapatkan rasa aman atas simpanan mereka di bank sehingga mereka tidak lagi mudah terpicu oleh isu-isu yang tidak relevan.

Tidak ada kontroversi atas keputusan panitia Nobel Prize untuk memberikan penghargaan bergengsi tersebut kepada Diamond dan Dybvig. Tetapi Ben Bernanke? Kenapa harus dia? Di sinilah letak perdebatan berbagai kalangan di industri keuangan, terutama praktisi dan akademisi bidang perbankan. Untuk memahami kenapa perdebatan tersebut terjadi, kita harus mengenal siapa Bernanke dan seperti apa kiprahnya di dunia keuangan selama ini.

Kebijakan Kontroversial

Ben S. Bernanke lahir di Augusta, Amerika Serikat (AS) pada 1953. Ia menamatkan studi S3-nya di Massachusetts Institute of Technology, Cambridge dan mendapatkan gelar PhD di bidang ekonomi. Saat ini ia menjabat sebagai Senior Fellow di The Brookings Institution, AS. Namun sebelum itu, ia pernah berperan sebagai pengajar di Universitas Stanford dan Princeton, serta melakukan berbagai penelitian mengenai krisis keuangan yang pernah melanda AS pada 1929, yang dikenal sebagai The Great Depression. Pada puncak kariernya, Bernanke pernah ditunjuk untuk memimpin Bank Sentral AS, The Fed untuk periode yang cukup panjang, 2006 hingga 2014.

Pada periode inilah ia berkesempatan untuk mempraktikkan pengambilan kebijakan di masa krisis keuangan. Pada 2007 hingga 2008, dunia dilanda sebuah krisis keuangan yang sangat besar yang disebabkan oleh runtuhnya pasar pembiayaan perumahan di AS. Sebelum krisis tersebut melanda, sejak awal dekade 2000-an, pasar properti di AS tengah mengalami gelembung yang disebabkan oleh rendahnya suku bunga pinjaman akibat kebijakan penyediaan rumah murah yang diinisiasi oleh Kongres.

Kebijakan ini menjadi angin segar bagi para investor properti, karena selain kemudahan kredit yang ditawarkan, sektor ini dianggap memiliki risiko yang cukup rendah karena disokong oleh aset riil. Investor berlomba-lomba untuk mengambil kredit properti dengan harapan bahwa properti tersebut dapat disewakan dan memberikan penghasilan tetap kepada mereka. Tingginya permintaan terhadap properti menyebabkan para developer turut pula berlomba-lomba mengambil kredit untuk mendanai pembangunan perumahan-perumahan baru.

Di sisi lain, bank-bank juga mulai serakah dan memperlonggar kebijakan mereka terhadap pemberian kredit properti. Kredit properti yang sedianya hanya ditujukan kepada nasabah-nasabah primer yang memiliki penghasilan cukup dan stabil, mulai diberikan pula kepada nasabah sub-prime. Hal ini sebenarnya cukup berisiko bagi bank, tetapi bank cukup optimis dalam memberikan kredit tersebut karena dijamin oleh agunan properti; nilainya (diharapkan) selalu naik dari waktu ke waktu.

Lagi pula, risiko tersebut tidak sepenuhnya ditanggung oleh bank. Bank menjual kembali piutang KPR tersebut kepada perusahaan sekuritisasi, yang kemudian membungkusnya dalam sebuah efek yang disebut dengan Mortgage-backed Securities (MBS). MBS adalah sebuah sekuritas dengan arus kas didasarkan kepada kelancaran nasabah KPR dalam membayar cicilan. Apabila nasabah tersebut lancar dalam melakukan pembayaran cicilan KPR, maka akan disalurkan lebih lanjut kepada investor MBS dalam bentuk pembayaran kupon. Jika kreditnya macet, maka macet pula pembayaran imbal hasil kepada investor MBS.

Celakanya, portofolio yang menjadi pembentuk MBS bercampur baur antara piutang nasabah primer dan nasabah sub-prime. Dengan demikian pengukuran risiko kredit atas MBS tersebut menjadi cukup sulit. Hal ini diperparah dengan pembentukan aset derivatif lanjutan seperti CDO yang menjadikan MBS sebagai underlying portofolionya. Ketika Bernanke diangkat menjadi Chairman The Fed, hampir 60% KPR di AS telah disekuritisasi menjadi MBS, dan lebih dari separuh pasar CDO berasal dari re-sekuritisasi MBS.

Sebenarnya The Fed sudah memiliki kekhawatiran mengenai derasnya perputaran uang di sektor properti dan derivatifnya. Sejak 2004, Alan Greenspan, pendahulu Bernanke, telah menaikkan suku bunga acuan dari 1% hingga menjadi 5.25% hanya dalam dua tahun. Kenaikan drastis ini kemudian memicu gelombang gagal bayar kredit properti, yang kemudian merembet kepada jatuhnya pasar MBS dan derivatifnya.

Menanggapi hal tersebut, The Fed, di bawah Bernanke, mulai melakukan langkah-langkah untuk menurunkan suku bunga. Seperti halnya kenaikannya, kali ini penurunan suku bunga tersebut juga dilakukan secara agresif hingga menyentuh 0% dalam tempo hanya kurang dari setahun dengan harapan dapat memulihkan kembali ekonomi. Namun langkah tersebut tetap dirasa kurang efektif, beberapa bank investasi besar mengalami kebangkrutan, di antaranya Lehman Brothers dan Washington Mutual yang sudah eksis cukup lama. Krisis pun sudah terlanjur menyebar ke seluruh dunia, terutama ke Eropa dan Asia.

Bernanke kemudian mengambil langkah taktis dengan mengajukan bailout senilai 700 juta dollar untuk membeli aset-aset keuangan yang macet untuk menghentikan kepanikan yang melanda para investor. Pada akhirnya, krisis yang digadang-gadang sebagai terbesar sejak 1929 dapat dipadamkan jua, walaupun waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pemulihan tidak sebentar. Di sinilah kritik terhadap Bernanke ditujukan.

Walau usaha Bernanke dalam mengatasi krisis diganjar dengan perpanjangan masa jabatan sebagai Chairman The Fed pada masa pemerintahan Obama, masih banyak orang yang berandai-andai Bernanke dapat mengambil kebijakan preventif untuk mencegah terjadinya krisis, atau bila saja kebijakan yang diambil saat itu dapat lebih tepat sasaran sehingga mempercepat pemulihan pascakrisis. Namun tidak sedikit pula yang mendukung. Mereka beranggapan bahwa kondisi krisis pada 2008 bisa saja lebih parah, bahkan daripada apa yang terjadi pada 1929, jika Bernanke tidak mengambil pembelajaran dari hasil penelitiannya semasa menjadi pengajar di universitas dahulu.

Pembelajaran dari Krisis

Bagaimanapun, pemberian hadiah Nobel sejatinya adalah untuk mempromosikan ilmu pengetahuan yang memberikan pengaruh besar bagi masyarakat. Terlepas dari kontroversi kebijakan yang dilakukan oleh Bernanke, harus diakui bahwa penelitian yang ia lakukan telah memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di bidang ekonomi.

Empat belas tahun setelah krisis keuangan yang melanda pasar keuangan secara global, kini dunia tengah bersiap untuk menghadapi krisis lainnya. Tanda-tandanya sudah di depan mata. Inflasi meningkat di berbagai negara, yang diakibatkan oleh dampak kenaikan harga komoditas dan pemberian stimulus yang berlebihan selama pandemi COVID-19. Walaupun penyebab krisis kali ini berbeda dengan kondisi pada 2008 lalu, namun pastinya akan berdampak kepada sektor keuangan secara umum.

Bank sentral di berbagai negara di dunia telah menaikkan suku bunga acuannya secara drastis untuk memperlambat inflasi. Hal ini tentu akan memberatkan dunia usaha dan ekonomi secara keseluruhan. IMF bahkan telah menurunkan proyeksi pertumbuhan global hingga menjadi 2,9% tahun depan. Tekanan ini masih belum dirasakan oleh sektor keuangan di Indonesia saat ini, khususnya oleh sektor perbankan.

Berdasarkan hasil kajian OJK mengenai kondisi umum perbankan pada akhir Triwulan II - 2022, secara umum pemberian kredit masih mengalami pertumbuhan sebesar 10,71% dari bulan sebelumnya (m-t-m). Demikian pula, dana pihak ketiga juga mengalami pertumbuhan sebesar 8,59% m-t-m. Profitabilitas dan efisiensi perbankan membaik, ditunjukkan dengan meningkatnya ROA menjadi sebesar 2,45% dan menurunnya BOPO menjadi 77,34%.

Sementara risiko kredit cenderung stabil dengan tingkat rata-rata NPL sebesar 2,90%. Pertumbuhan ATMR sebesar 8,67% dan rata-rata CAR perbankan yang terjaga pada level 24,86% mengindikasikan bahwa secara umum daya serap perbankan terhadap risiko relatif masih kuat. Namun demikian, bukan berarti kita akan terbebas dari dampak resesi global jika benar itu akan terjadi. Sebagai tindakan preventif, BI telah beberapa kali mengumumkan kenaikan suku bunga acuan.

Pada Agustus 2022, BI menaikkan suku bunga BI7DRR sebesar 25 bps, dari sebelumnya 3.50% menjadi 3.75%. Lalu satu bulan setelahnya, BI kembali menaikkan suku bunga BI7DRR sebesar 50 bps. Beberapa ekonom memprediksikan kebijakan untuk menaikkan suku bunga acuan ini masih akan berlanjut untuk mengatasi tekanan inflasi.

Sejarah mencatat, krisis ekonomi yang melanda dunia pada 2008 tidak terlalu keras terasa dampaknya di Indonesia. Namun bisa jadi pula, kali ini takdir akan berkata lain. Akankah kita berhasil melewati badai krisis yang diramalkan untuk kembali menghantam dunia tahun depan? Mungkin kita bisa mengambil pelajaran dari hasil penelitian trio pemenang Nobel Ekonomi 2022.

Ahmad Danu Prasetyo, PhD Analis Senior OJK Institute

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT