Kolaborasi Memprioritaskan Kesehatan Jiwa

ADVERTISEMENT

Kolom

Kolaborasi Memprioritaskan Kesehatan Jiwa

Fazia - detikNews
Selasa, 18 Okt 2022 14:30 WIB
Logo Hari Kesehatan Mental Sedunia 2022 atau World Mental Health Day 2022 tanggal 10 Oktober.
Foto: World Federation For Mental Health
Jakarta -
"Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa", sebuah ungkapan yang acap kita lupa. Seringkali ketika berbicara tentang kesehatan, maka yang terbayang adalah fisik yang sehat dan mengabaikan kesehatan jiwa yang saling berkaitan erat. Menurut Undang-Undang, kesehatan adalah "Keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis," (UU No. 36 tahun 2009).

Sedangkan kesehatan jiwa adalah "Kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya." (UU No. 18 tahun 2014). Di sinilah fungsi peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) yang diadakan setiap tanggal 10 Oktober setiap tahunnya, yaitu sebagai pengingat akan pentingnya kesehatan jiwa.

Masih Menjadi Tantangan

Masalah kesehatan jiwa masih menjadi tantangan di tingkat nasional dan internasional. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa gangguan jiwa menduduki urutan pertama penyakit yang menyebabkan hendaya aktivitas sehari-hari. Di Asia Tenggara didapatkan sekitar 13,5% angka hendaya aktivitas sehari-hari akibat gangguan mental, angka yang tidak jauh berbeda juga didapatkan di Indonesia.

Berdasarkan perhitungan beban penyakit pada 2017, didapatkan beberapa jenis gangguan jiwa yang dialami di Indonesia di antaranya gangguan jiwa berat (skizofrenia), gangguan suasana perasaan (depresi, bipolar), gangguan kecemasan, gangguan perilaku, autisme, dan gangguan pusat perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). Di antara gangguan jiwa tersebut, yang paling banyak menyebabkan hendaya aktivitas sehari-hari adalah gangguan depresi, kemudian kecemasan, dan gangguan jiwa berat.

Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan depresi dapat dialami oleh semua kelompok usia; persentase paling tinggi dialami oleh kelompok lansia (>65 tahun) dan remaja (15-24 tahun). Kondisi tersebut diperparah oleh pandemi yang menyebabkan angka kasus gangguan jiwa semakin meningkat. Pandemi mungkin sudah berlalu, namun beban yang ditimbulkannya masih bisa kita rasakan sampai sekarang.

Pandemi merupakan salah satu faktor meningkatnya angka gangguan jiwa. Diperkirakan angka penderita gangguan cemas dan depresi meningkat lebih dari 25% pada tahun pertama pandemi. Kondisi pandemi menimbulkan banyak pengaruh terhadap kehidupan, seperti ketakutan, kehilangan anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, kesenjangan sosial, pembatasan interaksi sosial, bekerja dan sekolah dari rumah, kelelahan ketika pertemuan daring, dan tidak adanya "free time" akibat dari jadwal pertemuan yang bisa dibuat kapan saja bahkan ketika hari libur atau malam hari.

Kondisi ini menimbulkan rasa lelah, capek, sulit konsentrasi, emosi yang tidak stabil, perasaan was-was berlebih, perubahan suasana perasaan seperti sering menangis atau sedih berlebihan, dan sulit tidur. Keluhan yang dirasakan ini bisa mengakibatkan seseorang mengalami kondisi masalah kejiwaan atau mengalami gangguan jiwa jika keluhan tersebut sudah mengganggu fungsi sehari-hari seperti fungsi sosial dan pekerjaan.

Prioritas Global

Sejalan dengan fakta tersebut di atas, pada 2022 ini HKJS mengambil tema Making Mental Health and Well-being for All a Global Priority, yang bermakna menjadikan kesehatan jiwa dan kesejahteraan untuk semua sebagai prioritas global. Tema ini diangkat untuk meningkatkan kesadaran semua pihak tentang aspek kesehatan jiwa pada semua lini dan tahap kehidupan. Kolaborasi antara pemerintah, penyedia pekerjaan, dan masyarakat sangat esensial.

Pemerintah memiliki peranan penting dalam promosi kebijakan inklusi sosial seperti mengajak penderita gangguan jiwa terlibat dan aktif dalam kegiatan sosial, memberikan dukungan langsung terhadap populasi rentan dengan cara menyediakan lapangan kerja yang sesuai, menyediakan pendidikan, dan berinvestasi di masyarakat serta kaum muda untuk mengurangi kejahatan dengan cara memberikan edukasi tentang pencegahan kejahatan yang berhubungan erat dengan masalah kesehatan jiwa.

Di lingkungan kerja, perusahaan dan penyedia pekerjaan memiliki peranan dalam memberikan dukungan dan kesejahteraan terhadap kesehatan jiwa para pekerja, di antaranya dengan cara tidak mempekerjakan pegawai melebihi beban kerja, terbuka terhadap masukan dari pegawai, menyediakan layanan konsultasi seperti konseling jika ada pegawai yang menunjukkan masalah kesehatan jiwa, menyediakan program olah raga, serta menyediakan nutrisi makanan yang cukup, yang semua hal ini dapat memberikan efek positif terhadap kesejahteraan dan kesehatan jiwa.

Masyarakat juga dapat mengambil peranannya, terutama dengan bersama-sama berupaya menghapus stigma dan menciptakan komunitas yang sehat jiwa. Masih rendahnya angka penderita gangguan jiwa yang belum mendapatkan pengobatan, salah satu penyebabnya adalah akibat stigma negatif tentang gangguan jiwa masih tinggi di masyarakat. Banyak dari masyarakat lebih memilih untuk membawa keluarganya ke pengobatan alternatif, menganggap gangguan jiwa adalah penyakit kesurupan, gangguan jin, dan lemah iman. Stigma dan diskriminasi tersebut merupakan penghalang untuk mendapatkan akses ke perawatan yang tepat.

Sebagai penutup, mari kita manfaatkan momentum HKJS 2022 ini untuk merefleksikan diri, sejauh mana upaya yang telah kita ambil untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan jiwa dan menghapus stigma di masyarakat. Atau jangan-jangan, alih-alih menghapus stigma, kita justru termasuk yang menyuburkan stigma melalui tindakan dan perkataan kita sehari-hari? Momentum HKJS dapat dijadikan kesempatan untuk berkolaborasi bersama menciptakan lingkungan di mana kesehatan jiwa dihargai, dipromosikan, dan dilindungi, serta pelayanan kesehatan jiwa dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan tanpa adanya penghalang.

Fazia dokter spesialis kedokteran jiwa di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur
Simak Video '3 Tips Menjaga Kesehatan Mental Menurut WHO':

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT