Meredam Gejolak, Mengejar Target

ADVERTISEMENT

Kolom

Meredam Gejolak, Mengejar Target

Mansur Afifi - detikNews
Senin, 17 Okt 2022 14:20 WIB
Meski Bank Indonesia sudah memangkas bunga acuan, namun bunga kredit bank masih selangit
Ilustrasi: Infografis/Fuad Hasim/detikcom
Jakarta -

Kebijakan kenaikan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) sebesar 50 basis poin (bps) pada Rapat Dewan Gubernur 21-22 September 2022 cukup mengejutkan. Kenaikan sebesar 50 bps dianggap terlalu agresif karena selama ini suku bunga acuan dinaikkan secara bertahap. Selain itu, sebulan yang lalu BI telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps. Jadi, dalam dua bulan bunga acuan meningkat sebesar 75 bps sehingga suku bunga acuan menjadi 4,25%.

Dalam waktu yang hampir bersamaan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) juga menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 bps. Kenaikan ini sudah diprediksikan oleh banyak pihak mengingat kondisi inflasi di AS yang cukup tinggi. Pada Juni 2022 ketika bunga acuan berada di level 1,75%, inflasi tahunan di AS mencapai 9,1% yang merupakan rekor tertinggi inflasi selama 4 dekade. Kemudian pada Juli 2022 suku bunga acuan dinaikkan menjadi 2,5% dan inflasi dapat ditekan menjadi 8,5%.

Meskipun pada Agustus 2022 inflasi kembali turun menjadi 8,3%, tetapi angka tersebut masih dianggap tinggi. Lalu pada 21 September 2022 Bank Sentral AS kembali menaikkan suku bunga acuannya sehingga the Fed Fund Rate menjadi 3,5%. Prediksi akan adanya kenaikan the Fed Fund Rate ini yang menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan suku bunga acuan BI. Jika Indonesia tidak menaikkan suku bunga acuan dikhawatirkan terjadinya pelarian modal ke luar negeri yang masif (capital flight).

Faktor berikutnya yang mendorong kenaikan bunga acuan BI adalah ekspektasi kenaikan inflasi yang disebabkan oleh adanya kenaikan harga BBM pada awal September 2022. Ekspektasi itu terbukti ketika Badan Pusat Statistik pada 3 Oktober 2022 melaporkan bahwa tingkat inflasi pada September 2022 sebesar 5,95%. Angka inflasi ini lebih tinggi dari tingkat inflasi pada bulan sebelumnya yaitu sebesar 4,69%.

Selain itu, melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap mata uang asing khususnya dolar AS yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir turut mendorong BI menaikkan suku bunga acuan. Kurs rupiah terhadap dolar AS pada 1 Agustus 2022 berada pada level 14.872,50 kemudian meningkat menjadi 14.883 pada 1 September 2022. Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS terus berlanjut sehingga pada 3 Oktober 2022 rupiah berada pada angka 15.227,50, melewati level psikologisnya sebesar 15.000.

Antisipasi Dampak

Kebijakan menaikkan suku bunga acuan dipandang di samping sebagai upaya meredam gejolak juga antisipasi dengan mendahului atau memulai lebih awal dalam menaikkan suku bunga dan mencegah dampak negatif perkembangan ekonomi global di masa depan (front loaded, pre-emptive, dan forward looking). Ini dilakukan terutama untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3,0+1% pada paruh kedua 2023, serta memperkuat kebijakan stabilisasi kurs rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya.

Sebagai negara dengan perekonomian terbuka, Indonesia tidak bisa membebaskan diri dari pengaruh perekonomian dunia yang dinamis dan sarat dengan berbagai persoalan. Dalam terminologi ekonomi, kebijakan ini disebut sebagai counter-cyclical policy yaitu kebijakan moneter yang bertujuan menahan laju perkembangan variabel ekonomi yang sedang menuju titik ekstrem. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan kegiatan ekonomi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Pemerintah sebelumnya telah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5%-5,3% dan pertumbuhan kredit sebesar 9%-11% pada 2022.

Meskipun demikian, banyak pengamat mengkhawatirkan bahwa kenaikan suku bunga acuan akan berdampak pada menurunnya likuiditas sehingga menekan laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan oleh hasrat berinvestasi yang menurun akibat dari meningkatnya suku bunga kredit. Selanjutnya produksi dan produktivitas nasional menurun, pengangguran meningkat, pendapatan berkurang, dan daya beli tertekan ke bawah.

Meskipun kekhawatiran tersebut cukup rasional tetapi hal itu tidak akan terjadi dalam jangka pendek. Kebijakan kenaikan suku bunga acuan berdimensi jangka menengah di mana bank-bank membutuhkan waktu penyesuaian suku bunga simpanan dan kredit dalam kurun 1-2 kuartal. Selain itu, sejak Juni 2022 hingga Agustus 2022 suku bunga kredit rata-rata tertimbang adalah sebesar 8,94%, lebih kecil dari angka Mei 2022 sebesar 9,01%.

Selain itu, likuiditas perbankan juga masih longgar di mana Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) berada di atas threshold. Pada Agustus 2022, AL/NCD berada pada angka 118,01 persen sementara AL/DPK sebesar 26,52 persen, jauh di atas ambang batas minimum masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Dengan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) sebesar 81,22%, bank-bank tidak hanya leluasa menyalurkan kredit/pembiayaan tetapi juga membeli surat berharga negara (SBN).

Pertumbuhan kredit baik UMKM maupun non UMKM telah menunjukkan pemulihan sejak awal 2022 seiring dengan pemulihan ekonomi. Jika pada Agustus 2021 kredit tumbuh sebesar 1,16% y-o-y, maka pada Agustus 2022 meningkat menjadi 10,62% y-o-y. Sejak Desember 2021, pertumbuhan kredit UMKM selalu berada di atas pertumbuhan rata-rata kredit dan pada Agustus 2022 bahkan mencapai 16,77%. Dengan demikian, kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga acuan akan menyebabkan perlambatan hingga kontraksi perekonomian dalam jangka pendek dapat ditepis.

Persoalan yang masih mengganjal saat ini adalah seberapa cepat inflasi yang terus meningkat dan kurs rupiah yang terus terdepresiasi ini dapat diredam dengan kebijakan menaikkan suku bunga. Meskipun BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps sebulan yang lalu tetapi kurs rupiah masih terus melemah dan laju inflasi terus melambung.

Fakta ini menggambarkan bahwa kebijakan moneter semata tidak akan mungkin dapat mengendalikan sepenuhnya kedua variabel tersebut. Sebab sebagian dari faktor yang mempengaruhi pergerakan (konjungtur) kedua variabel tersebut berada di luar rentang kendali (span of control) kebijakan moneter. Oleh karena itu, kebijakan moneter harus diselaraskan dengan kebijakan lainnya (fiskal) agar upaya meredam gejolak dan menstabilkan perekonomian berhasil dilakukan secara efektif dan efisien.

Meskipun demikian, kebijakan suku bunga tetap harus dinamis, terukur, dan mampu menstimulasi perekonomian agar sektor riil dapat bergerak. Ibarat rem dan gas, menaikkan dan menurunkan suku bunga harus dilakukan agar stabilitas ekonomi terjaga sehingga target pertumbuhan ekonomi tercapai. Selain itu, tujuan perekonomian yang sejatinya adalah menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial dapat diwujudkan.

Mansur Afifi Guru Besar Ekonomi Universitas Mataram

Simak juga 'Sinyal Sri Mulyani soal Dunia Akan Resesi':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT