Harta, Tahta, Arema

ADVERTISEMENT

Kolom

Harta, Tahta, Arema

Prayogi R. Saputra - detikNews
Rabu, 05 Okt 2022 11:10 WIB
Doa Aremania untuk korban Tragedi Kanjuruhan
Doa aremania untuk korban tragedi Kanjuruhan (Foto: Deny Prastyo Utomo/detikJatim)
Jakarta -

Sejak kecil hingga remaja, Mukidi adalah pendukung Persebaya. Satu-satunya tim sepakbola yang dia kenal. Kemudian, setelah dewasa dan bekerja, Mukidi mendapat teman kerja seorang anak muda asal Malang. Pada Sabtu atau Minggu sore, arek Malang satu ini selalu bertandang ke kontrakan Mukidi. Maka, seringkali, mereka pun menonton pertandingan sepakbola bersama di TV. Dari kebiasaan itulah, lambat laun Mukidi mulai jatuh hati kepada Arema. Alasan utamanya adalah suporternya, Aremania.

Dalam setiap pertandinga kandang, Aremania selalu memenuhi stadion, berbaris rapi, kreatif, dan atraktif sepanjang pertandingan sehingga indah ditonton. Apalagi, banyak perempuan muda atau ibu muda bersama suami dan anak kecilnya yang juga ada di tribun. Ini mengesankan kalau supporter Arema adalah pendukung klub sepakbola yang beradab.

Beberapa tahun kemudian, tanpa disangka, Mukidi pindah, tinggal, dan menetap di Malang. Awal pindah ke Malang, suatu sore, Mukidi pulang dari kerja. Dia mengendarai mobil yang masih berplat nomor L. Tentu, ini sebuah blunder bagi warga Malang. Kebetulan sore itu, Arema sedang menyelenggarakan pesta juara. Konvoi Aremania dari berbagai daerah menuju pusat kota membuat kemacetan di mana-mana. Mukidi terjebak di tengah kemacetan itu. Di Dinoyo, jalur utama Malang-Batu. Awalnya Mukidi sempat khawatir karena mobilnya plat Surabaya. Tapi faktanya, walaupun di kanan-kirinya banyak Aremania, dia tidak diganggu. Bahkan, mobilnya tidak disentuh sedikit pun.

Pada kesempatan lain, setiap kali ada bencana, atau peristiwa yang membutuhkan solidaritas, Aremania selalu turun ke jalan membawa seperangkat alat musik yang biasa dipakai di stadion. Mereka menabuh drum di lampu merah atau berdiri di pinggir jalan untuk mengumpulkan sumbangan.

Sepanjang tinggal di Malang, Mukidi juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana sebuah keluarga muda --bapak, ibu dan anak kecilnya-- berboncengan naik motor menuju ke stadion. Puluhan kilometer dari rumah tinggalnya. Apa yang mereka inginkan dengan perjalanan yang jauh dan tidak mudah itu? Bertemu dan mendukung tim kesayangan. Kalau Anda pernah mendengar anekdot bahwa cinta itu buta, maka pergilah ke Arema dan Anda akan segera menemukan deskripsi anekdot itu dengan sempurna.

Gadis Imajiner

Kalau Anda jatuh hati, lalu mencintai seorang gadis, maka Anda adalah anak muda yang normal. Tapi kalau Anda jatuh hati, lalu mencintai sesuatu yang tidak jelas objeknya, maka bisa dipastikan bahwa cinta Anda adalah cinta yang absurd. Begitulah jika seseorang mencintai klub sepakbola. Apa yang Anda cintai dari Manchester United, Manchester City, Liverpool, Madrid, Barca, atau Milan? Pemain sering datang dan pergi, pemilik klub boleh berganti, tapi pendukung tak akan pernah lelah mencintai. Lalu, apa sebenarnya obyek yang dicintai?

Para pendukung klub sepakbola, rasanya, mencintai imajinasinya sendiri tentang sesuatu. Imajinasi tentang sebuah entitas, yang sebenarnya tidak pernah ada kecuali: logo dan nama. Ibarat seorang anak muda yang jatuh cinta, dia mencintai, dengan habis-habisan, seorang gadis pujaan yang hanya eksis di dalam pikirannya.

Begitulah para suporter sepakbola. Juga Aremania. Bagi mereka, mungkin, wujud atau objek yang dicintai tidaklah penting. Karena, yang penting bagi dirinya adalah ekspresi dan aktualisasi. Memberikan dirinya kepada sesuatu yang bersedia menerima. Dengan tangan terbuka.

Aktualisasi dan Eksistensi

Aremania, paling tidak yang datang ke stadion, umumnya berusia muda. Bahkan, remaja. Mereka juga tidak berasal dari kelas menengah yang memiliki sumber daya yang cukup untuk memproses perkembangan dirinya dengan baik. Mereka bukan remaja atau anak muda yang memiliki kemewahan untuk liburan, atau mengekspresikan dirinya dengan berdiskusi panjang lebar tentang filsafat, sastra, tas terbaru, atau sepatu mewah di kafe-kafe. Juga, bukan anak kuliahan yang memiliki ruang-ruang aktualisasi yang beragam.

Mereka, meskipun sebagian saja, umumnya lebih akrab dengan bantengan, sebuah kesenian rakyat lokal yang tidak terlalu membutuhkan skill, dan cangkruk di warung-warung murah yang menyediakan kopi saset dan wifi gratisan. Berkisar di situlah radius kehidupannya.

Kalau boleh disederhanakan, sebagian besar Aremania --paling tidak yang datang ke stadion-- adalah orang pinggiran yang hendak mengaktualisasikan dirinya. Sebab, hanya di Arema-lah, mereka merasa memiliki sesuatu, diakui sebagai sesuatu, menjadi sesuatu, dan berkesempatan memberikan sesuatu. Arema memberi makna pada kehidupannya yang monoton.

Menjelang Malam Kematian

Sabtu itu, sejak pagi, mendung menggelayut di langit. Dan, benar saja, selepas tengah hari hujan mulai turun. Lebat. Diiringi petir yang membuat dada berdentam. Menjelang sore, hujan belum juga reda. Kadang gerimis. Sebentar kemudian, kembali lebat. Hingga menjelang magrib gerimis tipis masih turun dari langit Kepanjen. Mukidi pulang dari kantornya di Kepanjen dengan sedikit bergegas. Dia tahu, jika rombongan suporter sudah berangkat ke stadion, maka perjalanan pulang akan membutuhkan waktu yang lebih panjang.

Usai hujan yang nyaris setengah hari itulah, pertandingan Arema melawan Persebaya dilangsungkan. Penonton di tribun ekonomi akan menemukan tempat duduk yang basah. Dingin. Lapar. Lelah. Mengantuk. Bercampur menjadi satu. Tidak hanya penonton, petugas lapangan, juga aparat keamanan, rasanya juga mengalami hal yang sama. Dalam kondisi dan situasi seperti itu, sekecil apa pun peristiwa yang tidak menyenangkan, akan mendorong --dengan cepat-- ledakan kemarahan.

Maka, begitu Arema kalah, hati para remaja dan anak-anak muda pendukung Arema, seperti tersakiti. Bukan karena lawan, tapi lebih karena merasa dikhianati. Itulah mungkin mengapa anak-anak muda Aremania itu justru hendak memprotes para pemain dan official Arema. Bukan pemain dan official Persebaya. Maka, satu-dua-tiga dari mereka memutuskan masuk ke lapangan. Sebuah tindakan yang sebenarnya melanggar aturan. Satu-dua-tiga aparat pun seperti menemukan alasan untuk meluapkan muatan pikiran dan beban hatinya dengan bertindak berlebihan. Maka, air bah pun datang. Dan, terjadilah seperti yang kita saksikan.

Malangnya, para korban tewas akibat gas air mata dan penumpukan masa yang berdesakan di pintu gerbang, bukanlah oknum-oknum suporter yang masuk ke lapangan. Paling tidak, sebagian besar mereka adalah suporter yang justru ingin menghindar dari kerusuhan. Ada balita, perempuan muda, atau ibu-ibu muda di tengah masa yang antre keluar pintu gerbang. Akhirnya, mereka yang tidak bersalah, dan justru ingin menghindar, yang menjadi korban. Menyisakan trauma yang mendalam. Yang mungkin, sampai bertahun-tahun kemudian, tidak akan bisa disembuhkan. Cinta pun bisa mendadak berubah menjadi dendam.

Prayogi R. Saputra pendukung Arema, dosen di salah satu universitas swasta di Malang

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT